Ratusan Demonstran di Lebanon Alami Luka-luka setelah Bentrok dengan Polisi

Reuters
Situasi di Ibukota Lebanon, Beirut memanas setelah demonstrasi semakin meluas, yang dipicu oleh ledakan di pelabuhan pada awal pekan ini.

BEIRUT (global-news.co.id) – Ratusan demonstran di Lebanon dilaporkan mengalami luka-luka setelah terjadi bentrokan dengan polisi. Situasi di Ibukota Lebanon, Beirut memanas setelah demonstrasi semakin meluas, yang dipicu oleh ledakan di pelabuhan pada awal pekan ini.
“Palang Merah Lebanon telah mengangkut 63 orang ke rumah sakit terdekat dan telah merawat 175 orang di tempat kejadian,” kata Palang Merah Lebanon dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Tass, Minggu (9/8/2020).
Pusat kota Beirut berubah menjadi medan pertempuran antara polisi anti huru hara dan pengunjuk rasa.
Bentrokan pengunjuk rasa anti pemerintah dengan pasukan keamanan Lebanon terus meluas di Lebanon. Mereka menunjukkan kemarahan atas kelalaian pemerintah yang menyebabkan ledakan dahsyat dan menewaskan ratusan orang.
Para pengunjuk rasa marah dengan ledakan dahsyat hari Selasa yang menurut para pejabat disebabkan oleh 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan secara tidak aman sejak 2013. Banyak orang di Lebanon mengatakan kelalaian pemerintah menyebabkan ledakan yang menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan warga lainnya. Para demonstran juga menuntut pengunduran diri para pemimpin politik.
Perdana Menteri Hassan Diab menyerukan pemilihan parlemen lebih awal, tetapi pernyataannya tidak menenangkan para pengunjuk rasa.
Ketegangan terus meningkat di Beirut. Para peserta demonstrasi anti pemerintah menyerbu gedung-gedung pemerintah, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup. Menurut saluran Lebanon-24, demonstran juga menyerbu Asosiasi Bank Lebanon dan Kementerian Energi.
Aksi demonstrasi tersebut dipicu oleh ledakan dahsyat yang pada 4 Agustus merobek pelabuhan Beirut dan menimbulkan gelombang kejut, yang menghancurkan atau merusak sebagian besar infrastruktur kota.
Menurut Kementerian Kesehatan, 158 orang tewas dalam ledakan itu dan lebih dari 6.000 lainnya terluka. Lebih dari 300 ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Lebanon, pekerjaan pengelasan memicu kebakaran yang meledakkan lebih dari 2.700 ton amonium nitrat, yang disimpan di pelabuhan selama enam tahun setelah disita oleh layanan Bea Cukai.

Selidiki Keterlibatan Asing
Informasi yang dihimpun, demonstrasi mulai berlangsung sejak Kamis (6/8/2020) malam. Aparat keamanan bertindak tegas dengan menembakkan gas air mata yang menyebabkan banyak demonstran terluka. Itu juga dikarenakan para demonstran membakar ban dan melemparkan batu ke arah petugas keamanan. Titik utama demonstrasi berlangsung di gedung parlemen.
Demonstrasi tersebut terus meluas karena propaganda yang meluas di media sosial. Sebenarnya aksi demikian sudah biasa terjadi. Demonstrasi di Lebanon kerap dilakukan masyarakat sejak Oktober lalu karena krisis ekonomi dan diperparah pandemi virus corona.
Hakim Fadi Akiki, perwakilan pemerintah di pengadilan militer, mengatakan lebih dari 18 petugas pelabuhan dan Bea Cukai serta pekerja pemeliharaan di gudang telah diperiksa. Pemerintah Lebanon mengumumkan sedikitnya 17 orang, termasuk manajer pelabuhan, telah ditangkap untuk diadili.
Sementara itu Pemerintah Lebanon menetapkan keadaan darurat di Beirut selama dua minggu di tengah meningkatnya korban dalam bencana yang disebut Presiden Michel Aoun sebagai “malapetaka yang sulit digambarkan dengan kata-kata” ini. Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon dengan keras menyatakan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas ledakan itu akan menghadapi “hukuman maksimal”.
Presiden Aoun mengungkapkan, penyelidikan bukan hanya fokus mengungkapkan faktor internal di dalam negeri Lebanon semata. Para penyelidik juga akan fokus untuk melihat adanya intervensi asing yang mungkin bisa menjadi penyebab ledakan tersebut.
“Penyebab ledakan belum dapat ditentukan. Ada kemungkinan intervensi asing dengan serangan roket atau bom atau tindakan lain,” kata Presiden Aoun seperti dilansir Reuters. tri, ass, rtr, sin