Puluhan Guru Meninggal Terpapar COVID-19, PGRI Surabaya Minta Risma Tak Buka Sekolah Dulu

Simulasi pembukaan sekolah di Surabaya beberapa waktu lalu. PGRI Surabaya meminta Walikota Tri Rismaharini untuk tidak memberlakukan sekolah tatap muka sampai kondisi benar- benar dinyatakan aman.

SURABAYA (global-news.co.id) – Kekhawatiran banyak pihak terkait dibukanya sekolah tatap muka saat pandemi COVID-19 masih terjadi akhirnya jadi kenyataan.
Kota Surabaya kembali berduka dengan adanya 35 guru dan tenaga pendidik yang meninggal dunia diduga terpapar COVID-19.
Dengan meninggalnya puluhan guru itu, PGRI Surabaya meminta Walikota Tri Rismaharini untuk tidak memberlakukan sekolah tatap muka sampai kondisi Surabaya benar- benar dinyatakan aman.
Data PGRI Surabaya hingga 24 Juli 2020 lalu, ada sebanyak 35 guru dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah meninggal dunia, diduga akibat terpapar COVID-19. Angka ini semakin terus naik menyusul banyaknya tenaga pendidik, tenaga kependidikan, kebersihan dan keamanan di lingkungan sekolah yang terkonfirmasi positif.
Kejadian terbaru yakni, Selasa (18/8/2020) malam, seorang petugas tata usaha SDN Bendul Merisi 1 Surabaya, atas nama Edy meninggal dunia setelah sempat kritis sejak dinyatakan positif COVID-19, sehingga total 3 tenaga guru dan kependidikan di SDN Bendul Merisi 1 Surabaya meninggal dunia akibat COVID-19.
“Kami telah mendapatkan kabar kembali satu guru SDN Bendul Merisi 1 Surabaya meninggal akibat COVID-19, total sudah ada 3 tenaga guru yang meninggal,” kata  Ketua PGRI Surabaya Sumarto, Jumat (21/8/2020).
Ada juga pengawas sekolah di lingkungan Surabaya bernama Suyono yang meninggal pada Kamis (20/8/2020) setelah diduga tertular dari 1 guru OTG.
Sebanyak 11 guru di SDN Ngagel 1 Surabaya juga terkonfrimasi positif COVID-19, setelah ditemukan 1 guru OTG dan tetap diminta untuk masuk mengajar secara daring di sekolah.
Melihat fakta ini Sumarto meminta Walikota Risma untuk tidak membuka dahulu sekolah sebelum pandemi ini benar- benar berakhir, karena COVID-19 bukan hanya tentang pendidikan tapi juga tentang nyawa manusia.
“Saya berharap lepada Walikota Surabaya untuk tidak membuka sekolah secara tatap muka dahulu, sebelum pandemi ini benar- benar berakhir,” imbuh Sumarto.
Sumarto mengaku jika pihaknya sempat melaporkan banyak kasus guru dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah meninggal ke Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya, namun saat itu oleh pihak Dispendik Surabaya hanya dijawab bahwa bisa saja guru dan tenaga kependidikan tersebut meninggal bukan karena COVID-19.
Ikatan Dokter Anak Indonesia tidak menyarankan sekolah dibuka kembali sampai wabah ini terkendali. Memaksakan sekolah buka di saat wabah belum terkendali sama saja meminta guru siap berkorban jiwa raga. pur, ins