Program Tabungan Dasyatt Bank Maspion Diminati Korban PHK, Fokus Garap Pasar Domestik di Tengah Pandemi

GN/Titis Tri W
Di tengah pandemi, program tabungan Dasyatt yang digulirkan Bank Maspion diminati karyawan korban PHK.

Pandemi Corona membuat banyak warga kehilangan pekerjaan. Banyak perusahaan melakukan efisiensi pengeluaran di tengah ketidakpastian ekonomi dengan melakukan PHK terhadap para karyawannya. Korban PHK tak perlu cemas, Bank Maspion memberikan solusi bagi korban PHK untuk menjadi wirausaha lewat program Tabungan Dasyatt.

Oleh : Titis Tri Wahyanti

Meski dikenalkan sejak akhir 2018, program tabungan Dasyatt (Tabungan Dagang Saya & Teman-Teman) justru mengalami lonjakan peminat sejak akhir tahun 2019. Dan tren positif ini terus meningkat seiring adanya pandemi corona.
Bank Maspion mencatat jika pada akhir 2019, jumlah komunitas yang menjadi nasabah program tabungan Dasyatt sebanyak 188 komunitas terdiri dari berbagai institusi antara lain sekolah, universitas, rumah sakit, perusahaan, pesantren, hingga akhir Juli 2020 telah bertambah mencapai 300 komunitas.
“Kenaikan komunitas yang menjadi nasabah program Dasyatt hingga akhir Juli 2020 hampir dua kali lipat. Ini menggembirakan. Animo masyarakat untuk menjadi wirausaha di tengah pandemi Corona cukup tinggi,” kata Direktur Umum Bank Maspion Herman Halim dalam acara public expose usai RUPS Bank Maspion, Selasa (25/8/2020).
Dalam kesempatan itu, Herman Halim didampingi Direktur Kredit Yunita Wanda Wong, Direktur Marketing Theresia Endah Winarni dan Direktur Kepatuhan Independen Iis Herijati.
Lewat program itu, lanjut Herman Halim, Bank Maspion memfasilitasi dan memberikan pinjaman modal bagi warga atau komunitas yang ingin berwirausaha dengan menjadi sub distributor produk-produk Maspion Group yang jumlahnya mencapai ribuan item. Tidak hanya yang ingin menjadi sub distributor kelas besar, distributor kelas UMKM juga dipersilakan. Harga yang didapat untuk menjadi sub distributor lewat program tabungan Dasyatt ini adalah harga khusus.
“Banyak warga yang ingin menjadi sub distributor kelas UMKM dengan memanfaatkan garasi rumah mereka. Mereka bisa memanfaatkan media sosial untuk berjualan. Tidak terlalu banyak butuh modal, namun bisa tetap berdagang, memiliki warung sendiri. Kami punya produk mulai sabun mandi, aneka panci hingga alat-alat elektronik,” katanya.
Meski di tengah pandemi, Herman optimistis masih ada potensi yang bisa digarap, karena Indonesia hingga saat ini masih didominasi konsumsi. Dan selama daya beli masih terjangkau, masih ada peluang pasar, yang penting pasar domestik digarap dengan baik.
Herman juga menyebut memperkuat segmen UMKM juga merupakan keinginan pemilik bisnis Maspion Group Alim Markus yang berkeinginan menciptakan satu juta UMKM.
“Strategi fokus pada UMKM ini adalah dengan terus mendorong program Tabungan Dasyatt, agar UMKM bisa membuka warung sendiri selama pandemi, dan program itu adalah cara mengubah pola pikir anak muda saat ini untuk menjadi pengusaha, tidak melulu ingin jadi PNS,” katanya.
Ditambahkan Direktur Marketing Theresia Endah Winarni untuk tahun ini target pertumbuhan kredit Bank Maspion akan melihat pada situasi perkembangan dampak COVID-19. “Untuk tahun 2020 kami mencanangkan kisaran 8% atau setara dengan Rp 437 miliar. Namun apabila situasi COVID-19 teratasi maka kami optimistis untuk mencapai rencana kerja dan bertumbuh lebih baik lagi. Sedangkan pertumbuhan DPK 9,02% atau Rp 524 miliar,” kata Theresia.
Sementara itu pertumbuhan kredit Bank Maspion pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp 5.466 miliar atau tumbuh sebesar 9,85% meningkat dibandingkan dengan total kredit pada 2018 sebesar Rp 4.976 miliar. Dari sisi total Dana Pihak Ketiga (DPK) terhimpun Rp 5.807 miliar atau tambah 17,72% dari Rp 4.933 miliar di tahun sebelumnya.
Bank Maspion berhasil membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 80, 440 miliar dan laba tahun berjalan sebesar Rp 59, 747 miliar dengan rasio Return of Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) bank tercatat sebesar 1,15% dan 5,11% serta rasio kecukupan modal Bank Maspion (Capital Adequacy Ratio) tercatat sebesar 20,1%. *