Luhut Ingin Wisata Lain Dibuka Susul Bali-Banyuwangi

 

Pengunjung menikmati keindahan Pantai Merah di Banyuwangi. Saat ini Pemkab Banyuwangi sudah membuka kembali aktivitas pariwisatanya.

JAKARTA (global-news.co.id) – Daerah diminta meniru langkah yang sudah dilakukan Bali dan Banyuwangi dalam membuka kembali aktivitas pariwisata. Kedua daerah itu dinilai sudah menjalankan aktivitas pariwisata dengan protokol kesehatan yang baik.

Permintaan ini disampaikan  Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan di depan para gubernur, bupati dan walikota secara virtual.

“Saya minta Bapak Ibu di pemerintah daerah harus ambil dan melakukan inisiatif terbaru. Apa yang dilakukan Bali, Banyuwangi untuk reaktivasi jadi contoh baik, misal mungkin Jogja, Batam-Bintan atau tempat lain,” kata Luhut di webinar Pariwisata, Rabu (12/8/2020).

Selain dua wilayah yang sudah dibuka aktivitas pariwisatanya tersebut, Indonesia memiliki potensi besar di banyak wilayah lain. Dengan potensi bentangan alam yang indah, Luhut menilai itu bisa menjadi pemantik wisatawan domestik untuk datang ke wilayah tersebut.

“Semua inisiatif dan kegiatan kita upayakan harus digerakkan kembali aktivitas pariwisata dan utamakan kesehatan masyarakat. Jangan bosan-bosannya ingatkan patuh penggunaan masker, cuci tangan dan social distancing, terutama di daerah padat penduduk,” sebut Luhut.

Apalagi, sejumlah wilayah yang merupakan pinggiran dari kota besar. Tempat tersebut harus menyiapkan protokol kesehatan yang baik. Tanpa itu, maka dikhawatirkan yang ada justru timbul masalah baru.

“Tren menunjukkan wisatawan domestik akan melakukan kunjungan ke kota penyangga yang memiliki alam. Jakarta misalnya ke Sentul dan Puncak. Surabaya misalnya wisatawan ke Banyuwangi dan Bromo,” jelasnya.

Luhut mengungkapkan potensi belanja sektor pariwisata yang tertahan tak dibelanjakan atau tersimpan oleh masyarakat akibat pandemi COVID-19 sangat besar. Jumlahnya ditaksir mencapai 15 miliar dolar AS dari berbagai kegiatan perjalanan.

“Saat ini kan belum ada umrah, belum ada haji, belum ada yang berobat ke luar negeri, belum ada perjalanan dinas ke luar negeri. Kita simpan potensi lebih dari 15 miliar dolar AS yang ada dana itu dalam negeri. Kalau harus kita gerakkan ekonomi domestik kita dengan turis domestik, tentu itu sangat membantu kita semua,” kata Luhut.

Ia mengatakan saat sektor pariwisata dibuka, maka perputaran uang akan kembali mengalir. Sebelumnya wisata Bali sudah dibuka pada 31 Juli 2020, termasuk juga kawasan wisata Banyuwangi.

“Dengan adanya turis lokal akan bantu pergerakan ekonomi kita. Di Bali dan Banyuwangi hasilnya sangat menggembirakan sampai hari ini. Banyuwangi kelihatan sekali turisnya sangat tertib, Bali pun demikian, sehingga ekonomi berjalan,” sebut Luhut.

Ia yakin dalam beberapa waktu ke depan, jenis wisatawan yang hanya bisa diandalkan hanya dari dalam negeri. Sedangkan wisatawan asing masih harus dilakukan persiapan matang dalam menyambutnya. Jika harus dibuka untuk banyak tempat dalam waktu yang cepat tentu sangat berisiko.

“Indonesia punya potensi wisatawan domestik besar dengan 300 juta perjalanan tiap tahun atau 2019. 2020-2021 penggerak wisatawan dari domestik, ini yang relatif kita dorong,” jelasnya. wah, cnb