Ledakan Disebut Mirip Bom Hiroshima

Suasana kota Beirut porak poranda seusai ledakan dahsyat.

BEIRUT (global-news.co.id)-Ledakan dahsyat yang terjadi di ibu kota Libanon pada Selasa (4/8) petang mengingatkannya pada peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki di Jepang saat Perang Dunia II.

Setidaknya 70 orang tewas dan lebih dari 4.000 orang terluka akibat ledakan yang terjadi sekitar pukul 18.00 tersebut. Pihak berwenang menuturkan korban tewas dan terluka masih dapat terus bertambah menyusul evakuasi dan penyelamatan masih berlangsung.

“Peristiwa ini mirip dengan apa yang terjadi di Jepang, di Hiroshima dan Nagasaki. Dalam hidup saya, saya belum pernah melihat kehancuran dengan skala besar seperti ini. Ini adalah bencana nasional,” ujar Gubernur Beirut, Marwan Abboud seperti dikutip CNN.

Sebelum insiden terjadi, kebakaran dilaporkan terjadi di sebuah gudang yang menjadi sumber ledakan. Berdasarkan sejumlah video yang tersebar di media sosial, kepulan asap pekat terlihat membumbung tinggi ke langit Beirut beberapa detik kemudian ledakan besar terdengar sampai ke seluruh penjuru Beirut.

Ledakan terdengar bersamaan dengan gelombang asap berbentuk jamur yang langsung menyapu wilayah sekitar sumber ledakan hingga puluhan kilometer.

Guncangan yang berasal dari kawasan pelabuhan itu menimbulkan suasana mencekam di ibu kota. Kaca rumah penduduk dan bangunan di sebagian Beirut terutama dekat sumber ledakan pecah dan terbakar.

Ledakan bahkan terdengar hingga Nicosia yang terletak di bagian timur Pulau Siprus yang berjarak 240 kilometer dari asal ledakan.

Abboud langsung mengunjungi lokasi ledakan beberapa jam setelah ledakan terjadi. Berbicara di belakang puing dan kepulan asap bangunan, Abboud sempat menangis saat memaparkan kejadian dan kronologi ledakan.

Meski begitu, ia bersama aparat keamanan Libanon belum bisa memastikan penyebab ledakan. Namun, Abboud mengatakan sumber ledakan berasal dari sebuah gudang di dekat pelabuhan Beirut yang menyimpan “bahan peledak besar”.

Ia mengatakan 10 petugas pemadam kebakaran Beirut hilang tak lama setelah ledakan berlangsung. Abboud menuturkan 10 petugas pemadam kebakaran itu dikerahkan untuk mematikan kebakaran gudang dan tak lama ledakan terjadi.

“Kami belum tau penyebabnya (ledakan). Yang jelas ada kebakaran terjadi dan (petugas pemadam kebakaran) datang untuk memadamkan api, lalu ledakan terjadi dan mereka hilang. Kami sedang mencari mereka,” ujar Abboud.

Sementara itu, Presiden Libanon Michel Aoun memaparkan gudang tersebut disebut menyimpan 2.750 ton amonium nitrat

Ia mengatakan ribuan ton amonium nitrat itu tersimpan secara tidak aman di sebuah gudang dekat pelabuhan Beirut selama kurang lebih enam tahun.

Senada dengan Aoun, Direktur Keamanan Umum Libanon, Mayor Jenderal Abbas Ibrahim, mengatakan ledakan tersebut disebabkan oleh bahan peledak masif.

“Adalah naif jika menggambarkan ledakan besar seperti itu hanya disebabkan oleh kembang api dan sejenisnya,” kata Ibrahim kepada stasiun televisi Libanon.

Dewan Pertahanan Tertinggi Libanon menyatakan ledakan di Ibu Kota Beirut pada Selasa (4/8) petang sebagai disaster-striken city atau bencana kecelakaan.

Chief of General Security Libanon, Abbas Ibrahim, menyampaikan penelaahan awal bahwa terdapat 2.700 ton amonium nitrat yang meledak di sebuah gudang dekat Pelabuhan Beirut.

Amonium nitrat adalah bahan kimia berdaya ledak tinggi yang sering digunakan untuk pupuk, tetapi juga dipakai sebagai bahan peledak. Meski begitu, aparat Libanon belum dapat memastikan penyebab ledakan.

Dilansir kantor berita Rusia, TASS, Dewan Keamanan Tinggi Libanon segera menggelar rapat darurat tak lama setelah ledakan terjadi.

Dewan tersebut segera menetapkan Beirut sebagai kota terdampak bencana kecelakaan pasca-ledakan terjadi.

“Dewan Pertahanan Tertinggi Libanon memutuskan menetapkan Beirut sebagai kota terdampak bencana kecelakaan dan menetapkan status darurat selama 4-18 Agustus,” staf pemberitaan Presiden Libanon, Michel Aoun.

Dewan Pertahanan Tertinggi juga memutuskan membentuk komisi khusus untuk menyelidiki bencana ledakan tersebut. Komisi itu diminta menyiapkan laporan terkait penyelidikan dalam lima hari ke depan.

Perdana Menteri Libanon Hassan Diab mendesak komisi investigasi segera mempublikasikan temuan mereka dalam waktu 48 jam ke depan.cnn, dtc