Singapura Resesi, BPS Klaim Kinerja Dagang Indonesia Masih Tinggi

Ekonomi Singapura masuk resesi, setelah pertumbuhan ekonomi negara tersebut minus 41,2% pada kuartal II/2020 akibat dampak pandemi virus corona.

JAKARTA (global-news.co.id) – Kinerja dagang Indonesia dengan Singapura masih bergerak positif meski Singapura baru saja mengumumkan kondisi ekonominya yang mengalami resesi karena sudah dua kuartal mengalami pertumbuhan negatif.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, saat ini ekonomi Singapura memang terkontraksi cukup dalam. Namun, sejauh ini kinerja perdagangan masih terjaga. Data terkini BPS menyebutkan, selama Juni 2020 ekspor Indonesia ke Negeri Merlion masih meningkat.

“Pada Juni sebetulnya ekspor Indonesia ke Singapura masih ada peningkatan sebesar 13,7 juta dolar,” ujarnya dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Rabu (15/7/2020).

Adapun komoditas yang mengalami peningkatan ekspor diantaranya logam mulia, perhiasan dan permata. Kemudian mesin dan perlengkapan listrik hingga alat mekanis serta tembakau. “Jadi kalau lihat angka ini masih oke. Seberapa dalam pengaruhnya, harus dilihat ke depan,” ucapnya.

Sebagai informasi, pandemi Corona memang terbukti telah meluluhlantakan kondisi ekonomi dunia. Sejumlah negara dengan kekuatan ekonomi yang mapan harus mengalami resesi.

Terbaru, Selasa (14/7/2020) Singapura baru saja mengumumkan pertumbuhan ekonominya di kuartal II/2020. Kementerian Perdagangan Singapura mengumumkan, ekonomi di kuartal II/2020 minus 41,2% dibandingkan kuartal I/2020.

Sementara dibandingkan kuartal II/2019 atau secara tahunan (year-on-year/yoy) ekonomi Singapura pada kuartal II/2020 minus 12,6%. Hasil ini lebih buruk dari perkiraan para ekonom.

Sebelum diumumkan pemerintah Singapura, para pengamat memperkirakan pertumbuhan ekonomi Singapura akan minus 37,4% secara kuartalan dan secara tahunan akan terkontraksi 11,3%.

Sebelumnya Ekonom Indef Bhima Yudistira menilai resesi yang telah menghinggapi ekonomi Singapura menjadi peringatan bagi Indonesia. Resesi yang terjadi di negara tetangga itu setidaknya bakal menekan sektor perdagangan dalam negeri.

“Singapura memiliki hubungan perdagangan dan investasi yang cukup penting bagi Indonesia. Indikasi resesi Singapura menjadi warning bagi Indonesia bahwa kinerja perdagangan akan terkontraksi cukup dalam,” ujar Bhima, Selasa (14/7/2020).

Dia mengatakan, arus barang yang keluar dan masuk dari Indonesia sebagian melewati hub Singapura. Kalau volume ekspor impor di sana turun tajam, kata Bhima, maka Indonesia harus bersiap kinerja perdagangan akan turun sepanjang tahun.

“Kemudian dari sisi investasi Singapura juga punya peran sebagai financial hub. Negara asal investasi kalau mau ke Indonesia lewatnya ke Singapura,” katanya.

Dia menambahkan saat ini Singapura menjadi negara dengan kontribusi investasi penanaman modal asing cukup besar. Kondisi resesi mereka tentu akan mempengaruhi investasi di Indonesia. “Mereka resesi berarti kinerja investasi akan turun drastis khusus pada semester kedua,” tandasnya.  ejo, sin