Melbourne Hadapi Gelombang Kedua COVID-19, Sentimen Konsumen Merosot

Penerapan lockdown di Melbourne demi menahan gelombang kedua kasus COVID-19 membuat kepercayaan konsumen merosot.

JAKARTA (global-news.co.id) – Sentimen kepercayaan konsumen Australia merosot seiring dengan penerapan lockdown di Melbourne demi menahan gelombang kedua kasus COVID-19.

Survei yang dilakukan penyedia jasa finansial Westpac Banking Corp menunjukkan indeks sentimen anjlok 6,1 persen menjadi 87,9 pada Juli, setelah mampu memulih selama dua bulan. Sub indeks untuk kondisi ekonomi selama 12 bulan ke depan mencatat penurunan terbesar, dengan jatuh 14 persen, sementara kondisi ekonomi selama lima tahun ke depan turun 10,3 persen.  “Sentimen telah diguncang oleh kebangkitan dalam kasus Covid-19,” ujar Kepala ekonom di Westpac Bill Evans seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/7/2020).

Dia menyebut data negara menggarisbawahi pentingnya perkembangan terkait virus ini, karena indeks sentimen di Victoria anjlok 10,4 persen pada Juli, tetapi sentimen di seluruh negara menunjukkan penurunan yang jauh lebih ringan.

Australia telah melonggarkan pembatasan dan membuka kembali kegiatan perekonomiannya sejak Mei, hingga penyebaran baru COVID-19 di Victoria pada bulan ini mendorong penutupan kembali.

Kekhawatiran tentang penyebaran virus mematikan tersebut meningkat. Episode terisolasi di pinggiran luar Sydney sehingga mendorong beberapa pemerintah negara bagian untuk menjaga perbatasan mereka tetap tertutup. “Tempo survei ini relevan, mencakup pekan di mana lockdown diumumkan untuk Melbourne. Tapi survei ini ditutup sebelum kabar tentang klaster yang signifikan untuk Sydney,” sambung Evans. Jajak pendapat didasarkan pada respons dari 1.200 orang dan dilakukan dalam sepekan mulai 6-10 Juli.

Sementara itu, pemerintah federal akan memberikan pernyataan fiskal dan ekonomi pekan depan yang diperkirakan akan menunjukkan prospek untuk dua tahun mendatang dan status program stimulus yang akan berakhir pada September.

Menteri Keuangan Josh Frydenberg telah mengisyaratkan kemungkinan perpanjangan dukungan untuk pekerja yang dirumahkan dan pengangguran. Menurut Evans, meskipun pemerintah kemungkinan akan merilis beberapa proyeksi ekonomi yang direvisi, kebanyakan perhatian akan tertuju pada rencana kebijakan untuk beberapa kuartal ke depan. “Dengan turunnya kepercayaan konsumen yang bersumber dari berita terbaru tentang penutupan di Melbourne, respons kebijakan kemungkinan akan lebih besar,” tandasnya.

Pembatasan Sosial Kedua

Tak hanya di Australia, sejumlah negara kembali memberlakukan pembatasan sosial atau bisa disebut lockdown setelah jumlah kasus COVID-19 global yang tembus 13 juta.

Untuk diketahui kasus positif virus Corona menyentuh angka 13 juta kasus di dunia pada Senin (13/7/2020). Adapun, kasus terbesar ditemukan di Amerika Serikat dengan 3,4 juta kasus, kemudian diikuti Brasil dengan 1,9 juta kasus dan India sebanyak 879.466 kasus.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (14/7/2020), negara-negara yang akhirnya memberlakukan pembatasan sosial fase kedua di antaranya Hong Kong. Kota ini  memberlakukan social distancing ketat mulai Selasa tengah malam, mengikuti peringatan pemerintah risiko wabah yang semakin meluas. Masyarakat diwajibkan menggunakan masker di kendaraan umum. Restoran tidak memperbolehkan makan di tempat dan hanya melayani bawa pulang di atas pukul 18.00 – 05.00.

South China Morning Post mengungkapkan, warga yang tidak menggunakan masker akan dikenai denda 5.000 dolar Hong Kong. Bar, pusat kebugaran, karaoke, Ocean Park, Disneyland ditutup. Hal ini diputuskan setelah Hong Kong mencatatkan 41 kasus baru pada Senin.

Selain itu Filipina juga melakukan langkah serupa. Presiden Rodrigo Duterte disebut akan mengumumkan peraturan karantina baru pada Rabu (15/7/2020) waktu setempat. Kemungkinan besar pemberlakuan tersebut termasuk di Manila.

Perwakilan WHO di Manila mengungkapkan terlalu dini menganggap Filipina sudah mencapai puncak pandemi COVID-19. Saat ini Filipina mencatatkan 57.000 kasus, 1.599 meninggal, dan 20.371 orang telah sembuh. “Jumlah kasus masih belum proporsi signifikan jika dilihat dari populasi global atau populasi di Filipina. Kemungkinan besar belum (mencapai puncak),” kata Rabindra Abeyasinghe seperti dikutip dari Inquirer.

Dengan peningkatan jumlah kasus mencapai 60.000 per hari dalam sepekan terakhir, Gubernur California Amerika Serikat telah memerintahkan seluruh bar tutup. Sementara restoran, bioskop dan museum diminta berhenti beroperasi di dalam ruangan.

Kondisi ini semakin diperburuk dengan perselisihan antara Donald Trump dan penasihat kesehatan senior Gedung Putih Anthony Fauci. The New York Times mencatatkan terdapat total lebih dari 3,3 juta kasus COVID-19 di AS dengan kematian mencapai 135.402.

Dan Australia juga menyusul langkah serupa. Kasus COVID-19 baru di Australia mencapai 183 orang per 13 Juli 2020, menjadikan total 10.251 kasus positif COVID-19 dengan kematian sebanyak 108. Sementara itu, 7.835 orang sudah dinyatakan sembuh. New South Wales langsung menerapkan restriksi di bar, membatasi pemesanan tempat makan maksimal 10 orang, maksimal pengunjung restoran dibatasi 300 orang.

Hal ini seiring dengan klaster baru yang terdeteksi di sebuah klub di Sydney, The Crossroads. Pemberlakuan denda senilai 55.000 dolar Australia bagi yang melanggar. zis, bis, blo