Kreatif di Masa Pandemi COVID-19, Dokter Gigi Produksi APD Unik hingga Jadi Rezeki UMKM

 

 

Drg Nina Agustin mengenakan APD unik hasil kreasinya.

Pandemi Covid-19 menuntut masyarakat untuk kreatif dan inovatif. Bila tidak, pasti akan terpuruk. Salah satunya bisa meniru kiat dokter gigi cantik asal Malang Jawa Timur ini. Namanya Nina Agustin.

 

NINA AGUSTIN saat ini jadi pergunjingan netizen. Bukan hanya karena wajahnya yang rupawan tapi juga lantaran kreasinya yang menarik agar bisa bertahan dalam masa pandemi Covid-19. Hal itu setelah dia berhasil membuat Alat Pelindung Diri (APD) yang unik.

Awalnya adalah unggahan akun twitter @deddyhuang_. Dalam unggahannya, Deddy membagikan beberapa foto yang dikutip dari akun Instagram seorang dokter gigi bernama Nina Agustin di Malang.

Foto-foto Nina langsung menarik perhatian netizen lantaran menyuguhkan nuansa berbeda dibandingkan ruang praktik dokter gigi pada umumnya. Ruang praktik wanita asal Malang ini dihiasi dekorasi cantik bernuansa pink dengan balutan warna nude yang sangat dominan.

Namun yang berhasil membuat netizen gagal fokus justru ketika melihat tampilan Nina saat mengenakan APD dengan desain yang sangat fashionable. Modis. Sangat jauh dari kesan serem layaknya APD yang biasa dipakai dokter atau tenaga medis lain.

Saat diwawancarai wartawan,  sang dokter ini ternyata dulunya sempat terjun di dunia modeling. Pengalaman itulah yang kemudian digabungkan dengan ilmunya selama menjalani profesi sebagai dokter gigi.

Sebagai dokter gigi dia sangat rentan terpapar covid-19. Untuk itu, dalam menangani pasiennya, pemilik NDC Esthetic Dental Clinic ini harus menggunakan APD lengkap, termasuk baju hazmat.

“Waktu awal pandemi, saya menggunakan baju hazmat biasa. Lama-lama, saya nggak nyaman, karena bajunya besar dan cenderung panas,” terang Nina.

Akhirnya, Nina berpikir untuk membuat baju hazmat yang berbeda dan disesuaikan dengan dirinya yang fashionable. “Saya berpikir membuat baju hazmat yang slim fit dan desainnya menarik. Namun, tetap safe sesuai protokol kesehatan. Beauty, safety and professional,” papar dia.

Secara gamblang Nina juga menjelaskan bahwa awal ketertarikannya mengenakan APD berdesain eye catchy itu tidak terlepas pula dari rasa keprihatinannya melihat kondisi masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Wabah Corona membuat warga takut memeriksakan kesehatan. Mereka trauma setiap kali melihat dokter memakai hazmat yang bentuknya seram itu.

“Kebanyakan pasien yang datang ke tempat praktik saya itu trauma. Mereka takut melihat dokter-dokter memakai hazmat atau APD yang bentuknya gombor-gombor (besar) dan warnanya putih polos. Apalagi anak-anak mereka biasanya ketakutan,” kata Nina saat dihubungi via sambungan telepon, Rabu  22 Juli 2020.

Melihat kondisi tersebut, Nina pun langsung memutar otak untuk mencari solusi terbaik agar pasien merasa nyaman dan aman saat menjalani treatment. Apalagi dalam praktiknya, para dokter gigi membutuhkan waktu hingga berjam-jam untuk memeriksa satu orang pasien.

Berhubung Nina sangat mencintai dunia fashion, dia berinisiatif membuat APD dengan desain yang berbeda, namun tetap memenuhi standar yang telah ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni APD level 3.

“Dokter gigi itu kan harus pakai APD level 3. Artinya harus mengenakan hazmat cover all dari ujung kepala sampai ujung kaki, pakai boot, sarung tangan, pakai masker N95, google, dan face shield. Akhirnya saya kepikiran untuk bikin sendiri dengan konsep ‘safety, profesional, and beauty in harmony’,” ungkap Nina.

Artinya tetap sesuai dengan standar APD. Yang membedakan hanya tampilan dan potongannya saja yang dimodifikasi. “Karena saya juga ingin memberikan rasa nyaman buat diri sendiri dan pasien. Jadi pas praktik lebih semangat. Tetapi safety tetap nomor satu,” timpalnya.

Nina kemudian langsung berangkat ke salah satu toko kain di Surabaya. Kemudian, ia berbelanja bahan baju hazmat yang sesuai dengan standar kesehatan.

“Kemudian, saya diskusi dengan penjahit langganan saya di Kediri, beliau sering menjahit baju hazmat dan akhirnya dia bisa mewujudkan keinginan saya ini,” lanjut dia.

 

Biaya dan Desain APD

Untuk memproduksi APD tersebut, Nina setidaknya harus mengeluarkan biaya senilai Rp150 ribu – Rp300 ribu sesuai dengan motif dan tingkat kesulitannya. Bahan untuk membuat baju hazmat bisa dibilang cukup terjangkau, untuk bahan polos, dibanderol Rp 170 ribu. Sementara, untuk yang bergambar, sekitar Rp 300 ribu. “Sebab yang bergambar, harus ada digital printing,” kata Nina.

Baju hazmat tersebut motifnya bermacam-macam. Ada yang gambar kartun, motif bunga dan masih banyak lagi. “Dengan motif lucu ini, pasien saya yang anak-anak dan milenial yang takut ke dokter gigi, jadi berani. Melalui baju hazmat unik ini, saya juga ingin menghapus stigma kalau ke dokter gigi itu menakutkan,” papar Nina.

Namun sejauh ini, dia hanya mengenakan APD berkonsep full collour dan memiliki pattern dari tokoh-tokoh favoritnya seperti Marilyn Monroe dan Betty Boop. “Meski memakai APD, saya ingin menonjolkan sisi feminin dan girly. Itulah sebabnya pemilihan warnanya enggak jauh-jauh dari pink, nude, merah, pokoknya yang cewek banget. Bootnya juga aku costume, biar ada heelsnya,” terang Nina.

Dia mengaku kalau sedang praktik, tetap berdandan, memakai soft lens, dan bulu mata palsu. Karena dengan praktiknya nyaman secara tidak langsung mempengaruhi mood dirinya. “Kerja pun jadi enjoy,” tambahnya.

Mengingat material yang digunakan Nina termasuk dalam kategori reusable, dia mengaku kerap mencuci APD tersebut menggunakan cairan disinfektan dan sabun usai praktik. “Bisa dicuci kok. Biasanya aku cuci pakai disinfektan dan sabun setelah itu dikeringkan di bawah sinar matahari,” kata Nina.

Perawatan APD itu tidaklah sulit, sama seperti baju hazmat lainnya. “Baju ini reusable. Bisa dicuci dan dikeringkan di bawah sinar matahari,” imbuh perempuan berambut panjang ini.

Selain membuat baju hazmat, Nina juga membuat sepatu boot yang fashionable namun tetap sesuai standar. “Sepatu bootnya juga dijahit sendiri di penjahit khusus sepatu,” imbuh dia.

Selama melayani pasien, selain menggunakan baju hazmat dan sepatu boot khusus, Nina juga menggunakan masker, face shield aerosol suction, penutup kepala hingga kacamata google. “Pasien juga dilengkapi dengan baju hazmat, face shield dan penutup kepala,” papar dia. Dia berharap, dengan menggunakan APD lengkap dan menjalankan protokol kesehatan secara lengkap, bisa menekan penyebaran covid-19.

Berkat ide kreatifnya itu, tanpa disadari Nina telah berhasil membuka pintu rezeki bagi para pelaku UMKM yang terkena dampak dari pandemi Covid-19. Sang penjahit yang diketahui bernama Ivan tiba-tiba kebanjiran order APD tematik.

Padahal, awalnya Ivan sempat ragu memenuhi permintaan Nina. Namun setelah diberi penjelasan secara rinci, Ivan ternyata mampu memproduksi APD tematik sesuai standar yang berlaku.

“Sekarang yang pesan ke dia bukan dokter gigi saja, ada dokter spesialis jantung, sampai dokter bedah. Dia sampai bilang keteteran, bahkan sempat mau pingsan karena harus mengejar deadline orderan hingga jam 2 pagi,” ungkap wanita kelahiran Kediri itu.

Selain itu, Nina mengaku mendapatkan banyak respons positif dari kalangan dokter maupun pasiennya sendiri berkat APD-nya yang super unik itu. Padahal awal-awal dia dikira bercanda saat mengenakan APD dalam praktik dokter.

“Ada pasien yang bertanya, ‘dokter benaran praktik pakai ini?’. Tapi lama-lama malah diajak selfie hehe. Selain itu, aku juga ikut senang jadi inspirasi buat teman-teman sejawat lainnya. Ada yang bikin APD motif power ranger sampai jersey club bola lho!,” tandasnya. gas, okz