Hiperhu Surabaya Keluhkan Munculnya Perwali No 33 Tahun 2020

Ilustrasi
Suasana salah satu tempat diskotik di Surabaya sebelum ada pandemi COVID-19.

SURABAYA (global-news.co.id) – Himpunan Pengusaha Rekreasi Hiburan Umum (Hiperhu) Surabaya mengeluhkan terbitnya Perwali Nomor 33 Tahun 2020 tentang perubahan atas Perwali Nomor 28 Tahun 2020 Tentang Pedoman Tatanan Normal Baru pada kondisi pandemi corona virus disease 2019 (COVID-19) di Kota Surabaya.

Terbitnya Perwali ini menurut Ketua Hiperhu Surabaya George Handiwiyanto para pengusaha merasa diombang- ambingkan, padahal telah melakukan persiapan untuk mengikuti aturan Perwali Nomor 28 Tahun 2020.

“Sebenarnya teman-teman pengusaha RHU sudah siap untuk mengikuti aturan Perwali Nomor 28 Tahun 2020. Namun sekarang keluar lagi Perwali yang baru. Ini pengusaha RHU seperti diombang-ambingkan, kami bingung,” ujar George Handiwiyanto, Rabu (15/7/2020).

Setelah PSBB hingga dikeluarkan Perwali No 28 pengusaha sudah melakukan persiapan, tapi ternyata sekarang tidak boleh (buka) lagi. “Tapi kita memahami, karena pandemi (COVID-19) ini melanda sedunia,” tambahnya.

Akan tetapi menurut dia, perlu ada pemetaan karena saat tempat hiburan malam masih banyak yang tutup, perkembangan penularan COVID-19 masih tetap meningkat. “Berarti bukan karena tempat hiburan malam kan. Karena itu kami sarankan ada pemetaan dan penelitian agar pengalaman yang lalu tidak terulang. Misalkan, masalah miras yang dioplos sendiri sehingga ada korban meninggal. Itu miras oplosan yang dijual bebas di luar harus diberantas, jangan tempat hiburan malam saja yang diobok-obok, karena lebih tertib dan tertutup. Miholnya juga terkontrol dan tidak pernah terjadi satu permasalahan” kata George.

Salah satu pengusaha hiburan bernama Yudhi mengaku jika usahanya di bidang panti pijat benar-benar sudah tutup, tepatnya sejak Maret lalu. “Tidak ada income maupun omset, tetapi kita masih bisa memberikan subsidi kepada karyawan agar mereka bisa tetap bertahan hidup, kan kasihan mereka,” kata Yudhi.

Dijelaskan Yudhi, dia merasa kasihan jika para karyawan tidak bekerja, keluarganya bisa tidak makan. Jika harus mencari kerjaan baru juga sulit dengan kondisi sekarang. “Jadi kita ini terpaksa berdarah-darah, termasuk menguras tabungan. Cuma kalau diterus-teruskan seperti ini kita bisa bangkrut. Dan usaha kami baru buka dua minggu sekarang disuruh tutup lagi,” ungkap Yudhi.

Padahal, dari dua minggu kemarin, manajemen usahanya telah investasi berbagai alat protokol kesehatan seperti Alat Pelindung Diri (APD) untuk program transisi new normal. “Eh malah sekarang disuruh tutup lagi,” keluh Yudhi. pur