Tak Ingin 1 juta Anak Meninggal Dunia, Komisi E Tolak Proses Belajar Mengajar di Sekolah per 13 Juli

Anggota Komisi E DPRD Jatim Hari Putri Lestari

SURABAYA (global-news.co.id)– Rencana pemerintah yang akan memulai belajar mengajar per 13 Juli 2020 mendatang mendapat penolakan dari Komisi E DPRD Jatim. Sesuai data yang dirilis  IDAI   ( Ikatan Dokter Anak Indonesia) maka akan ada 1 juta anak yang rawan  meninggal dunia jika nekat masuk di tengah pandemi COVID-19 yang masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Karena mereka rawan terinfeksi COVID-19 saat di sekolah.
Anggota Komisi E DPRD Jatim Hari Putri Lestari menegaskan secara pribadi pihaknya tidak setuju dengan keputusan yang memulai proses belajar mengajar per 13 Juli mendatang. Mengingat pandemi corona masih menghantui Indonesia dan Jatim. Buktinya masih banyak wilayah di Jatim yang masuk zona merah. Apalagi Surabaya masuk rawan virus COVID-19.
“Saya setuju proses belajar mengajar dilakukan di rumah seperti sekarang ini. Kita kan tahu anak-anak itu sifatnya senang bermain dan bergerombol. Itu artinya protokol kesehatan tak lagi dipatuhi. Jika itu sampai terjadi, dapat kita bayangkan akan terjadi klaster baru virus COVID-19 di anak-anak. Karena itu IDAI mengeluarkan statement agar proses belajar mengajar di sekolah ditinjau kembali jika tak ingin 1 juta anak Indonesia meninggal dunia,”tegas politikus asal PDIP, Kamis (11/6/2020).
Ditambahkannya, dengan kondisi masih zona merah seharusnya semua pihak menahan diri untuk beraktivitas di luar rumah. Selama kondisi belum zero, maka belajar di rumah masih dibutuhkan. Yang pasti tidak mengurangi siswa dalam menempuh proses belajar mengajar.
Untuk diketahui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada 13 Juli 2020.
Dimulainya tahun ajaran baru 13 Juli 2020 bukan berarti siswa belajar di sekolah. Keputusan belajar di sekolah akan terus dikaji berdasarkan rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.
Terpisah Kadis Pendidikan Jatim  Wahid Wahyudi berharap per 13 Juli siswa sudah bisa masuk sekolah. Namun dengan catatan sampai akhir Juni 2020, pandemi corona grafisnya sudah turun. Jika tidak, maka siswa diminta belajar di rumah.
“Untuk itu, jika pandemi corona sudah turun per Juni 2020, kami telah menyiapkan sejumlah skenario. Di antaranya dengan model bergantian. Separo masuk sekolah dan separonya belajar di rumah, begitu secara bergantian,” katanya.
Selain itu,  pihak sekolah diminta menghormati protokol kesehatan. Diantaranya menyiapkan tempat cuci tangan, menyiapkan masker serta penyemprotan disfektan selalu dilakukan di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. cty