Surabaya Tak Perpanjang PSBB, Tracing Harus Diperketat

Rapid test salah satu cara untuk melacak penderita Covid-19.

SURABAYA (global-news.co.id) – Pemerintah Kota Surabaya memutuskan tidak memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pasca berakhirnya PSBB ke-3 pada 8 Juni. Dengan demikian ada beberapa konsekuensi yang harus dilakukan agar penyebaran virus Covid-19 tidak semakin meluas.

Kapala Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit(BBTKLPP) Surabaya, Dr Rosid Roslan menyebut, dengan tidak dilanjutkannya PSBB ada beberapa hal yang sangat perlu  diperhatikan agar kasus baru tidak meningkat. Masing-masing adalah kesiapan laboratorium, tracing secara sistemik melalui rapid test  atau dilakukan surveilans secara ketat, serta kesiapan layanan kesehatan.

“Ini tergantung pemerintah, bagaimana Dinas Kesehatan dalam hal ini melakukan tracing atau surveilans yang ketat di masyarakat. Selain itu harus tersedia fasilitas kesehatan yang memadai dan rumah sakit juga tetap harus menyediakan 60% fasilitasnya untuk pasien lain,” ujarnya dalam bincang media terkait Kajian Epidemiologi Surabaya Menuju New  Normal yang dilakukan tim BBTKLPP di wilayah Surabaya khususnya dan Jatim pada umumnya, Senin (8/6/2020) petang.

Lebih lanjut dijelaskan, surveilans kontak erat itu penting karena pada masyarakat tidak ada barrier lagi, sehingga Dinas Kesehatan harus melakukan surveilans ketat untuk penemuan dini kasus-kasus di masyarakat.  Dalam hal ini kontak erat yang positif langsung ditindaklanjuti, jangan sampai diremehkan. “Intinya mencegah jangan sampai penularan meluas, caranya dengan memutus mata rantai penularan. Kuncinya atau yang paling penting adalah disiplin masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan tetap njaga jarak. Seharusnya masyarakat sadar tanpa harus disanksi,” kata Rosid didampingi dr Teguh Mubawadi MSi, Kabid Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan BBTKLPP.

Sepekan sebelumnya, lewat kajian yang dilakukan berdasarkan data yang berbagai kota dan kabupaten di Jatim, BBTKLPP memprediksi puncak pandemi Covid-19 di Jatim akan terjadi pada minggu ke-4 bulan Juni. Setelah itu akan terjadi penurunan dan masyarakat bisa mulai menjalani kehidupan dengan tatanan baru (new normal). “Namun tetap harus menjalankan protokol kesehatan agar tidak muncul kasus baru lagi,” tambah Rosid saat itu.ret