Sosialisasi Perwali, Risma Minta Pedagang Kelontong Patuhi Protokol Kesehatan

Walikota Tri Rismaharini menggelar video conference atau vicon dengan ratusan pedagang toko kelontong se-Surabaya untuk menyosialisasikan Perwali Nomor 28 Tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Pada Kondisi Pandemi COVID-19, Jumat (19/6/2020).

SURABAYA (global-news.co.id) –Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terus menyosialisasikan Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 28 Tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Pada Kondisi Pandemi COVID-19. Kali ini, Walikota Risma menggelar video conference atau vicon dengan ratusan pedagang toko kelontong se-Surabaya untuk menyosialisasikan Perwali tersebut.
Dalam sosialisasi itu, Walikota Risma mengajak kepada 876 pengelola toko kelontong yang terletak di 31 kecamatan agar tertib dan disiplin dalam menjalankan perwali. Baik yang terletak di perkampungan maupun toko kelontong yang ada di rumah susun (rusun).
“Bapak ibu aturan yang saya buat ini adalah minimal. Tidak boleh kurang dari ini. Silahkan dikembangkan,” kata Walikota  Risma mengawali sosialisasinya, Jumat (19/6/2020).
Walikota Risma meminta agar warga tidak meremehkan pandemi global ini, makanya dia meminta warga untuk terus menegakkan protokol kesehatan. Misalnya penjual atau pengelola toko kelontong wajib menyediakan tempat cuci tangan di depan toko sebelum pembeli masuk. Selain itu, pihaknya juga menekankan agar di bagian kasir diberi pembatas plastik agar ada sekat antara pedagang dan pembeli.
“Karena itu kita tidak boleh ceroboh dan meremehkan. Tapi kita tidak boleh takut. Kita tidak boleh sembrono (Sembarangan). Kalau perlu pakai face shield selain pakai masker. Jadi lebih melindungi,” ungkap dia.
Tidak hanya itu, walikota perempuan pertama ini mengungkapkan setelah pedagangnya disiplin, maka ia wajib mengingatkan kepada konsumen apabila ada yang tidak patuh pada protokol kesehatan seperti tidak mengenakan masker. Meskipun Walikota Risma menyebut pembeli adalah raja, namun pedagang tetap harus mengingatkan dengan cara sopan dan halus.
“Tetap harus diingatkan. Kita tidak tahu apakah mereka termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG) yang dia tidak sakit namun bisa menularkan. Jangan sampai karena satu pembeli yang lalai akan berdampak pada kita,” tegas dia.
Untuk itu, Presiden UCLG Aspac ini berharap agar para pedagang terus berinovasi di tengah keterbatasan yang dihadapi. Ia juga meminta agar saat melayani konsumen, pedagang lebih aktif lagi dalam menjelaskan produk yang dibutuhkan pembeli.
Walikota Risma juga meminta diusahakan agar sebisa mungkin konsumen tidak memegang barang jualannya, bahkan saat transaksi pembayaran tidak boleh ada kontak fisik, meletakkan uang menggunakan nampan.
Di kesempatan yang sama, ia juga mengungkapkan apabila situasi toko sedang ramai pembeli, maka mereka wajib antre di luar toko sembari menunggu giliran. Hal tersebut dilakukan agar physical distancing di toko kelontong tetap terjaga.
Sebelum mengakhiri vidcon, Walikota Risma mengingatkan agar semua pedagang toko kelontong menjaga kesehatannya. Jika memang kondisinya sedang tidak fit maka sebaiknya istirahat di rumah dan tidak datang ke toko tersebut demi menjaga keselamatan bersama.
“Kalau badan kita sakit meriang, batuk atau pilek. Sebaiknya tidak usah ke toko. Istirahat saja dan  lalu periksa ke puskesmas terdekat,” pungkasnya. pur