Bersama Kemenko Polhukam, ITS Bangun Semangat Bela Negara

Deputi VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam Dr Janedjri M Gaffar SH, MH memberikan kuliah secara daring, Senin (8/6/2020).

SURABAYA (global-news.co.id) —
Pandemi COVID-19 hingga adanya kebijakan New Normal (Kenormalan Baru) menjadi fokus utama dalam tatanan baru kehidupan sosial masyarakat saat ini. Dalam menjawab tantangan dan mengedukasi masyarakat untuk turut berperan serta pada perubahan ini, Departemen Studi Pembangunan ITS mengadakan Kuliah Kebangsaan bertema Semangat Bela Negara dalam Menghadapi COVID-19, Senin (8/6/2020), dengan menghadirkan perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) sebagai pembicara utama.
Deputi VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam Dr Janedjri M Gaffar SH, MH mengawali kuliah dengan menjelaskan tentang latar belakang bahwa terbentuknya negara Indonesia merupakan hasil perjuangan sendiri dan bukan hadiah dari bangsa lain. Kemerdekaan tersebut bertujuan untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. “Yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia,” paparnya.
Janed, sapaan akrabnya, menekankan bahwa pemersatu bangsa Indonesia adalah ideologi Pancasila sebagai pengikat bangsa yang multikultural. Ideologi Pancasila tersebut juga masih sangat relevan untuk bangsa Indonesia. Di dalamnya, terdapat beberapa prinsip dasar pada Ideologi Pancasila yakni demokrasi dan nomokrasi.
Prinsip demokrasi berasal dari prinsip kedaulatan rakyat. Demokrasi tersebut perlu diimbangi dengan prinsip kedaulatan hukum yang disebut nomokrasi. Demokrasi tanpa nomokrasi akan menimbulkan kekacauan yakni anarkisme. Sebaliknya, jika nomokrasi sendiri tanpa demokrasi, maka akan lahir otoritisme. “Kedua hal itu tidak bisa dipisahkan,” ucap mantan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia ini.
Usai kemerdekaan, lanjut Janed, Indonesia kini telah mengalami banyak kemajuan, baik dalam bidang sosial, politik, hingga sains. Maka kita harus membela eksistensi bangsa kita dengan menjaga nasionalisme. Nasionalisme adalah rasa memiliki dan mencintai yang disertai dengan sikap ingin menjaga hingga memajukannya sesuai dengan  jati diri yang membentuknya. “Jati diri Indonesia yakni Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya
Janed pun menekankan bahwa dalam membela negara tidak hanya menjadi tugas Tentara Nasional Indonesia (TNI), tapi juga semua lapisan masyarakat Indonesia yang telah tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 30 Ayat 1. Sehingga semua lapisan masyarakat perlu bersinergi bersama dalam kegiatan bela negara, tak terkecuali kalangan perguruan tinggi. “Semua perguruan tinggi perlu berpegang pada Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk turut menopang berbagai persoalan yang ditimbulkan oleh COVID-19,” tegasnya mengingatkan.
Apresiasi yang mendalam juga turut diutarakan Janed kepada ITS yang bahkan telah memberikan contoh nyata bela negara dengan berbagai inovasi dan kontribusinya. Di antaranya dengan menghasilkan inovasi robot RAISA, robot VIOLETA, Rumah Sakit Tenda, hingga berbagai bantuan hand sanitizer dan Alat Pelindung Diri (APD) untuk penanganan COVID-19. “Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh nyata bela negara di era ini, ITS bahkan telah melaksanakannya,” ujar laki-laki kelahiran 1963 ini.
Menurut mantan Kepala Pusat Pengkajian Kemajelisan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini, peran serta bela negara di era pandemi COVID-19 memiliki tiga sasaran. Sasaran tersebut meliputi menjaga kesehatan dengan protokol kesehatan, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan menjaga kondusivitas sosial dan politik.
Janed mengajak masyarakat untuk turut mafhum jika pandemi COVID-19 saat ini nyatanya belum berakhir. Sehingga perlu disiasati dengan adanya kebijakan the New Normal menuju masyarakat produktif dan aman COVID-19. Kebijakan tersebut tentu menuntut adanya penyesuaian sikap dan perilaku kita sehari-hari. “Dahulu bisa bersalaman, tapi kini tidak bisa. Nah, sikap itu jangan diartikan tidak sopan, perlu kesadaran kalau memang itulah yang harus dilakukan demi pencegahan COVID-19,” jelasnya.
Peran dan partisipasi perguruan tinggi sangat diperlukan untuk ikut mendiskusikan kebijakan yang hendak dibuat negara. Serta dapat turut andil dalam memperkuat keberdayaan dan ketangguhan masyarakat berhadapan dengan pandemi COVID-19.Segenap sivitas akademika dapat ikut tanggung jawab untuk melakukan pendampingan dan edukasi pada masyarakat luas. “Dengan dilakukannya hal tersebut, maka bela negara tidak lagi hanya dalam bentuk semangat, namun juga juga aktivitas nyata,” paparnya.
Menanggapi tantangan Janed, Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng menegaskan jika ITS siap untuk terus mengeluarkan inovasi dan bantuan demi menghadapi Covid-19. Terlebih dengan adanya Departemen Studi Pembangunan, maka ITS akan lebih mendalam tentang memahami masyarakat. “Departemen termuda di ITS yang masih berumur satu tahun ini merupakan salah satu departemen yang memiliki fokus untuk mempelajari rekayasa masyarakat sosial,” ungkap Guru Besar Teknik Elektro yang kerap disapa Ashari ini.
Sejalan dengan Ashari, Kepada Departemen Studi Pembangunan ITS Dr Arfan Fahmi SS, MPd pun mengutarakan bahwa dalam menghadapi disupsi baru yakni COVID-19, menuntut semua masyarakat untuk menumbuhkan inovasi termasuk dalam semangat bela negara. “Diharapkan kekuatan dan sinergi bersama antara pemerintah, masyarakat, akademisi, pengusaha, hingga media, dapat menciptakan konsep kenormalan baru yang akan kita masuki bersama,” pungkasnya. tri