ACT Ajak Petani di Lamongan untuk Diberdayakan dalam Program MPPI

Proses tanam raya oleh warga Desa Siser Lamongan.

LAMONGAN (global-news.co.id) — Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali meluncurkan program baru bertajuk Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI). Program tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak program kebaikan yang dicanangkan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Program ini berfokus pada pemberdayaan petani yang akan dijadikan stakeholder utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional, dan melibatkan petani-petani kecil dengan lahan kurang dari 0,8 hektare.
Program ini pertama kali di-launching pada April 2020 lalu di Kota Karawang (18/6/2020) lalu ACT kembali memperluas cakupan wilayah bantuan di area Jawa Timur. Daerah yang dipilih yakni Kabupaten Lamongan, tepatnya di Desa Siser Kecamatan Laren.
“Setelah launching di Kota Karawang beberapa waktu lalu, Alhamdulillah pada hari ini kami diberikan kesempatan kembali untuk membantu pemberdayaan petani di Desa Siser, Lamongan ini,” ujar Jajang Fadli, selaku Manager Wakaf Distribution Program ACT, Jumat (19/6/2020).
Pria yang akrab disapa Uda Jaja ini menjelaskan pekan ini Insya Allah pihaknya akan melanjutkan program ini di beberapa kabupaten, yakni di Kabupaten Solo – Jawa Tengah, dan Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah.
“Insya Allah pekan ini kami mempunyai target untuk memberdayakan 1.000 petani di Indonesia. Dan ke depan target kami bisa merangkul 1 juta petani Indonesia untuk terlibat dalam program kebaikan ini,” lanjutnya.
Uda Jaja turut juga mengkhawatirkan masih banyak praktik ribawi di tengah masyarakat khususnya pada bidang pertanian  dan masih dianggap remeh oleh para petani. Padahal banyak dari petani yang akhirnya dirugikan oleh praktik ribawi yang dilakukan oleh pihak perbankan atau  rentenir. “Banyak dari petani yang akhirnya harus terjerat utang ribawi dan dirugikan oleh praktik ini akibat tingginya bunga pengembalian utang. Bahkan ada beberapa petani yang berutang pupuk dan dibayar dengan hasil panen dengan skala pengembalian yang tidak setara. Tentu hal tersebut tidak baik untuk para petani dan keberkahan dari hasil panen itu sendiri,” kata Uda Jaja.
Sementara itu Ketua Kelompok Tani (PokTan) Desa Siser yakni Munawar (54) mengungkapkan rasa syukur dan harapan positifnya setelah desanya turut dilibatkan dalam program pemberdayaan petani ini. “kami bersyukur telah dilibatkan oleh ACT dalam program baik ini, dan kami berharap bisa senantiasa memanfaatkan dengan baik apa yang telah diamanahkan kepada kami;” ujarnya.
Selain dari ketua kelompok tani, Ketua Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Khamim (52) berharap bisa terus bersinergi dengan berbagai pihak yang memiiki program pemberdayaan petani, khususnya ACT, agar petani lebih memiliki kehidupan yang sejahtera dan bukan hanya asal tanam. “Kami berharap untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak agar petani terus bisa terberdayakan dengan baik. Khususnya dengan ACT melalui program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia. Dan Alhamdulillah saat ini melalui sinergi-sinergi yang kami lakukan, petani di Lamongan sudah melaksanakan sistem pertanian berbasiskan keilmuan, bukan lagi eksploitasi lahan dengan cara penggunaan pestisida di lahan tanam secara berlebihan,” ujarnya. hud, tis