Trump Ancam Arab: Potong Produksi atau AS Tarik Pasukan

Reuters
Presiden Donald Trump bersama Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dalam satu kesempatan.

WASHINGTON (global-news.co.id) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan ultimatum kepada para pemimpin Kerajaan Arab Saudi.  Pemerintah AS menekan Arab untuk mengakhiri perang harga minyak dengan Rusia.
Reuters, dalam laporan khususnya, mengungkapkan, bahwa dalam sebuah panggilan telepon pada 2 April lalu, Trump mengatakan kepada Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), bahwa ia tidak akan berusaha menghentikan anggota parlemen AS dari meloloskan undang-undang untuk menarik pasukan AS dari Kerajaan, kecuali Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mulai memotong produksi minyaknya.
Hal ini diungkapkan oleh empat sumber Reuters yang akrab dengan persoalan ini, Jumat (1/5/2020).
Ancaman Trump untuk mengakhiri aliansi strategis yang sudah terbangun 75 tahun dengan Arab, yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, menjadi pusat dari kampanye tekanan AS yang menyebabkan kesepakatan global penting untuk dihasilkan dalam memangkas pasokan minyak karena permintaan saat ini ambles gara-gara virus corona (COVID-19). Jika terwujud, Trump berhasil mencetak kemenangan diplomatiknya.
Trump menyampaikan pesan kepada Putra Mahkota MBS 10 hari sebelum pengumuman pengurangan produksi. Menurut sumber AS, pemimpin de facto dari Kerajaan Arab ini dilaporkan amat terkejut oleh ancaman ini. Dia bahkan memerintahkan para pembantunya keluar dari ruangan sehingga dia dapat melanjutkan diskusi secara pribadi dengan Trump.
Upaya tersebut mengilustrasikan keinginan kuat Trump untuk melindungi industri minyak AS dari krisis harga minyak yang bersejarah ketika pemerintah di hampir semua negara yang terkena pandemi COVID-19 menutup ekonominya guna memerangi virus. Kondisi ini menyebabkan harga minyak ambles ke level terendah.
Upaya ini juga mencerminkan langkah yang bertolak belakang dari kritik lama Trump terhadap kartel minyak. Kartel itu sempat dikritik karena meningkatkan biaya energi bagi AS dengan pemotongan produksi yang biasanya menyebabkan harga bensin lebih tinggi. Namun sekarang, Trump malah meminta OPEC untuk memangkas produksi.
Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah AS memberitahu kepada para pemimpin Arab Saudi bahwa, tanpa pengurangan produksi yang dilakukan OPEC, maka “tidak akan ada cara untuk menghentikan Kongres AS dari memberlakukan batasan yang dapat menyebabkan penarikan pasukan AS (dari Arab),” kata pejabat itu.
Pejabat tersebut menyimpulkan argumen, yang dibuat melalui berbagai saluran diplomatik, seperti memberitahu sebuah pesan para pemimpin Saudi: “Kami membela industri Anda sementara Anda menghancurkan milik kami,” katanya.

Reuters bertanya kepada Trump tentang pembicaraan dalam wawancara pada Rabu malam di Gedung Putih, saat itu Trump tengah membahas berbagai topik berkaitan dengan pandemi. Ketika ditanya apakah dia memberitahu Putra Mahkota bahwa AS berpotensi menarik pasukan dari Arab Saudi, Trump menegaskan, “Saya tidak harus memberitahunya,” katanya.

Trump mengatakan  Putra Mahkota, Presiden Putin, mereka punya masalah dan kemudian ini terjadi, harga minyak jatuh. Ketika ditanya apa yang dia katakan kepada Putra Mahkota Mohammed, Trump mengatakan: “Mereka mengalami kesulitan membuat kesepakatan. Dan saya ngobrol melalui telepon dengannya, dan kami dapat mencapai kesepakatan untuk pengurangan produksi”, kata Trump.

Kantor media pemerintah Arab Saudi tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters. Seorang pejabat Saudi yang meminta tidak disebutkan namanya menekankan bahwa perjanjian tersebut mewakili keinginan semua negara pengekspor dalam OPEC+ (termasuk sekutunya, Rusia).

“Arab Saudi, AS dan Rusia telah memainkan peran penting dalam perjanjian pemangkasan produks minyak OPEC +, tetapi tanpa kerjasama dari 23 negara yang mengambil bagian dalam perjanjian, itu tidak akan terjadi,” kata pejabat Saudi yang menolak untuk mengomentari diskusi antara para pemimpin AS dan Saudi..zis, cnb, rtr