Skenario Terburuk Pertumbuhan Ekonomi Versi Sri Mulyani

Dok
Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan skenario terburuk untuk pertumbuhan ekonomi di tengah penyebaran COVID-19. 

JAKARTA (global-news.co.id) – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan skenario terburuk untuk pertumbuhan ekonomi sudah menghadang di depan mata akibat penyebaran pandemi COVID-19 yang meluas di Indonesia.
Prediksi ini lantaran berkaca pada kuartal I/2020 di mana pertumbuhan konsumsi sudah menurun menjadi hanya 2,84%, jauh lebih rendah dari masa normal yang tumbuh di kisaran 5%.
“Kuartal II/2020 diprediksi akan lebih buruk, apalagi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sudah lebih masif di daerah. Pada Maret saja sudah menurunkan belanja di bidang transportasi, bidang yang related dengan itu juga akan menurun tajam,” katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (8/5/2020).
Dia menuturkan, untuk konsumsi makanan dan kesehatan masih tumbuh positif tapi barang konsumsi lain seperti pakaian dan alas kaki mencatatkan penurunan permintaan.
Menghadapi tantangan tersebut, lanjut Sri Mulyani, strategi pemerintah yakni dengan menjaga agar masyarakat khususnya yang di lapisan paling bawah harus mendapat dukungan.
“Jadi ekspansi bantuan sosial sampai 60% masyarakat Indonesia itu akan dilakukan. Kalau situasi COVID-19 masih meningkat, kita harus menerima dampak ekonomi dan sisi konsumsinya akan tertekan. Jadi pelaksanaan bansos yang sudah saya sampaikan mestinya bisa dikaver, nilainya hampir Rp 65 triliun,” ujarnya.
Kendati ada dana bansos yang nilainya hampir Rp 65 triliun tersebut, Sri Mulyani mengatakan tingkat konsumsi masih akan mengalami penurunan pada periode April – Juni 2020.
“Ekonomi masih akan tumbuh 2,3%, kalau lebih buruk -0,5. Kita masih punya 3 kuartal,” katanya.
Dia menuturkan, dalam kondisi saat ini di mana penerimaan negara turun sangat besar dan kebutuhan belanja cukup besar, upaya untuk mengamankan APBN dapat dilakukan dengan tidak mengeluarkan belanja.
Akan tetapi, mengingat APBN harus tetap ekspansi, pemerintah akan melakukan konsolidasi fiskal, penerimaan harus digenjot terus dan belanjanya ditekan. Dalam mengelola keuangan negara, selalu saya tekankan,  fiskal adalah instrumen bukan tujuan.”katanya.jef, bis