Puncak Covid-19 di Jatim Diprediksi Terjadi pada Minggu Keempat Juni

Kepala BBTKLPP, Rosidi Roeslan (dua dari kiri), memaparkan hasil kajian tentang Covid-19 di Jatim, Sabtu (30/5/2020) sore.

SURABAYA (global-news.co.id) –  Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya memprediksi puncak pandemi Covid-19 di Jawa Timur akan terjadi pada minggu keempat bulan Juni. Prediksi yang dilakukan BBTKLPP Surabaya selaku laboratorium pemeriksa Covid-19 di Jatim itu didasarkan kajian yang menggunakan data laboratorium, data informasi yang dihimpun langsung dari beberapa kota/kabupaten di Jatim, serta menggunakan metode matematis.

Kepala BBTKLPP Surabaya, Dr Rosidi Roeslan SKM mengatakan, mendasarkan kajian epidemiologi, durasi masa puncak penyakit itu terjadi antara 10-20 hari setelah itu terjadi penurunan. Setelah ada penurunan itulah baru bisa menuju persiapan pelaksanaan new normal.

“Yang paling penting, bagaimana mengantisipasinya karena saat ini Jatim menempati peringkat teratas dalam jumlah kasus,” ujarnya saat memaparkan hasil kajian epidemiologi Covid-19 di Jatim,  Sabtu (30/5/2020) sore.

Rosidi menyebut ada 3 kunci keberhasilan agar wabah itu tidak meningkat dan meluas kasusnya sehingga bisa sampai ke kondisi new normal. Pertama disiplin, disiplin diri dan masyarakat seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, tidak berkerumun. Kedua, bagaimana mensosialisasikan atau mengedukasi diri dan masyarakat agar kepatuhan pada protokol kesehatan semakin meningkat sebagai upaya  meminimalkan penularan Covid-19. Ketiga, penegakan sanksi, sebab kalau tidak tegas dan nyata akan memengaruhi pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Mendasarkan kajian yang sudah dibuat, kasus Covid-19 di Jatim pada puncak pandemi akan mencapai 9.000 an kasus dengan total kasus 20 ribuan dan tiap harinya terjadi 300 kasus. Sedang total kasus secara nasional diprediksi 65-66 ribu kasus dan per harinya 600-700 kasus. “Ini warning buat Jatim. Karena Jatim jadi penyumbang 1/3 kasus nasional,” ujarnya.

Bagaimana menandai kapan terjadinya puncak kasus? Rosidi menyebut bila kurva sudah tidak naik, terjadi pelambatan penyebaran kasus, serta angka kasus baru terus menurun. Ini bisa dicapai bila ada pengendalian, yaitu dengan melakukan disiplin diri, patuh pada protokol kesehatan, dan pentingnya penegakan sanksi pada pelanggaran. “Kita berharap masyarakat sadar, ini tanggungjawab kita bersama,” katanya.

Yang paling penting, lanjutnya, isolasi mandiri. Serta bagamana masyarakat melakukan pola hidup bersih dan sehat yang bisa dimulai dari keluarga. “Selain itu kementerian kesehatan juga sudah mengeluarkan protokol kesehatan di tempat kerja. Itu semua harus dipatuhi untuk menghentikan laju pertumbuhan covid,” terangnya.

Ditambahkan, untuk sampai ke new normal, harus melalui puncak kasus dulu. Dalam hal ini BBTKLPP akan memberikan beberapa rekomendasi ke Pemprov Jatim tentang pentingnya surveilans yang ketat  serta kesiapan pelayanan kesehatan dalam kondisi new normal. “Kalau itu tidak disiapkan dengan benar bisa saja terjadi puncak pandemi kedua,” ujarnya.ret