Pemprov Jatim Belum Terima Berkas Pengajuan PSBB Malang Raya

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menyaksikan penyerahan bantuan sembako secara simbolis kepada beberapa mahasiswa perantauan di Kota Malang di Gedung Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Malang, Sabtu(2/5/2020).

MALANG (global-news.co.id)– Pemprov Jatim terus menjalin komunikasi intensif dengan tiga kepala daerah di Malang Raya, sehubungan dengan rencana pengajuan penerapan skema Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hingga saat ini, Pemprov Jatim belum menerima berkas pengajuan PSBB untuk Kota Malang, Kabupaten Malang.dan Kota Batu.
“Ibu Gubernur terus berkomunikasi dengan kepala daerah Malang Raya. Suratnya (pengajuan PSBB), sampai kemarin belum masuk,” kata Emil di Kota Malang, Sabtu (2/5/2020).
Sebagai catatan, tiga kepala daerah Malang Raya yakni Wali Kota Batu, Wali Kota Malang, dan Bupati Malang sepakat mengajukan PSBB ke Kementerian Kesehatan, melalui Gubernur Jawa Timur. Emil menjelaskan, jika nantinya pelaksanaan PSBB di Malang Raya tersebut disetujui oleh Kementerian Kesehatan, masyarakat Malang Raya diimbau tidak khawatir. Pasar-pasar rakyat yang ada di wilayah Malang Raya, dipastikan tetap beroperasi.
“Saya tegaskan dengan PSBB, pasar rakyat itu akan tetap beroperasi. Jadi tidak perlu berpikir jika diterapkan PSBB, maka masyarakat tidak bisa berbelanja,” ujarnya.
Masyarakat Malang Raya diimbau tetap tenang, dan tidak panik serta menimbun bahan kebutuhan pokok sebelum PSBB. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, memastikan bahwa belanja masyarakat untuk kebutuhan pokok selama PSBB akan tetap bisa dilakukan.
“Orang masih bisa belanja, dan memenuhi kebutuhan pokok. Jangan sampai wacana PSBB ini membuat kita panik,” ucap Emil.
Saat dikonfirmasi terkait apakah Jawa Timur perlu menerapkan PSBB sebagai satu kesatuan wilayah seperti yang diterapkan Pemprov Jawa Barat, Emil menyatakan saat ini belum ada rencana seperti yang dilakukan Pemprov Jabar tersebut.
“Semua opsi kita pertimbangkan setiap hari. jadi tidak bisa bilang, kita akan, atau tidak menerapkan (kebijakan) seperti itu,” ujar Emil.

Bantuan Mahasiswa Perantau
Pandemi COVID–19 di Jawa Timur terus berdampak di berbagai sektor. Salah satunya berimbas kepada para mahasiswa perantauan yang tidak bisa kembali ke daerah asal akibat imbauan pemerintah agar tak mudik.
Melihat kondisi tersebut, Pemprov Jatim melakukan langkah konkret dengan memberikan bantuan 350 paket sembako kepada para mahasiswa perantau di wilayah Kota Malang. Bantuan paket sembako ini antara lain berisi 5 kg beras, 1 kg gula pasir, telur, mi instan, kecap manis, serta sepaket tas yang berisi hand sanitizer, masker dan vitamin C.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak secara simbolis kepada beberapa mahasiswa perantauan di Kota Malang di Gedung Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Malang, Sabtu(2/5/2020). Selanjutnya, bantuan tersebut akan diantarkan ke 35 titik asrama mahasiswa di Kota Malang.
Didampingi Wakil Walikota Malang Sofyan Edi Jarwoko dan Kepala Bakorwil Malang Sjaichul Gulam, Wagub Jatim yang akrab disapa Emil itu menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan Pemprov Jatim merupakan bentuk kepedulian untuk menegakkan rasa kebersamaan dan gotong royong.
“Saya rasa kami datang bukan karena teman-teman mahasiswa utamanya yang bukan KTP Jatim yang meminta, tapi lebih pada kewajiban kita untuk saling tolong menolong. Terlebih, memang tugas kamilah untuk menjaga adik-adik mahasiswa sebagai aset masa depan bangsa,” ungkap Emil.
Emil menjelaskan, kegiatan ini juga sesuai instruksi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Di mana, pada kesempatan yang sama Gubernur Khofifah juga tengah menyalurkan bantuan ke pulau Raas dan Kangean Kab Sumenep, Madura.
“Saat ini, saya dan ibu Gubernur sepakat untuk bersama-sama meninjau situasi di lapangan secara langsung. Meskipun, memang di tengah pergerakan kita yang harus dibatasi,” terangnya.
Wagub Jatim yang pernah menjabat Bupati Trenggalek ini menambahkan, selain semangat tolong menolong yang dikedepankan, pihaknya juga bertugas memastikan mahasiswa bisa tetap fokus pada proses belajarnya. Sehingga, akan muncul inovasi-inovasi teknologi yang bisa dimanfaatkan  tengah keterbatasan pergerakan akibat COVID-19. sir, tri