Mat Tadji Takut Pegang Uang Kertas

  
AREYAH dekremmah. Sateyah negguk pesse mak deddi ragu (Ini bagaimana. Sekarang pegang uang kok menjadi ragu, Madura, Red).
Ya… Mat Tadji mulai agak ragu memegang uang kertas. Apalagi setelah menerima pengembalian setelah dirinya membeli sesuatu. Uang pengembalian tersebut tidak langsung dimasukkan di dalam dompetnya, tetapi ditaruh di tas kresek.
Ini semua bermula setelah temannya di Perumahan Mewah Surabaya Barat, Citraland mengirim video yang isinya kesaksian seseorang yang positif corona. Wanita muda nan cantik dalam video itu mengatakan, semua aturan dari masker, hand sanitizer hingga menjaga jarak sudah dipatuhi. Bahkan dirinya jarang sekali keluar rumah. Kalau keluar rumah  hanya berbelanja.
Wanita ini memperkirakan tertular virus tersebut, saat berbelanja. Ketika dia menerima uang pengembalian yang langsung dimasukkan dalam sakunya.
Nah, sejak saat itu, Mat Tadji selalu hati-hati memegang uang. Mat Tadji sekarang langsung mengambil uang dengan jumlah yang cukup untuk keperluan seminggu. Setelah diambil dari ATM, uang tersebut dimasukkan dalam kresek. Setelah sampai di rumah atau di kantor uang tersebut dicuci dengan sabun detergen. Setelah itu dijemur. Uang tersebut baru dipakai berbagai keperluan.
Melihat itu semua, si bungsu Dindot ketawa saja. Dia ngakak melihat kelakuan Mat Tadji.
“Baru kali ini ayah takut memegang uang. Kalau tak mau kasikkan adik saja uangnya. Di cuci bisa rusak lo. Itu hanya halusinasi saja. Ini adik dapat artikel seperti kekhawatiran yang dihadapi ayah soal uang kertas,” kata Dindot sambil menyodorkan HP-nya kepada Mat Tadji.
…Semakin bertambahnya pasien positif virus corona atau Covid-19 di Indonesia membuat orang semakin waspada. Salah satu yang jadi kekhawatiran penularan virus itu yakni lewat uang kertas. Lantas, bisakah uang kertas bisa jadi media penularan virus corona?
Dilansir dari Euronews, para ahli mengatakan kalau kecil kemungkinan virus corona bisa menyebar lewat uang kertas yang berpindah tangan saat transaksi. Ini karena sebagian besar kasus penularan virus corona yang terungkap disebabkan melalui kontak langsung, bukan dari benda yang disentuh.
Meski di sisi lain, ada beberapa laporan yang menyebut penggunaan uang kertas memiliki risiko jadi media penyebaran wabah.
“Kami tidak tahu berapa lama virus ini bertahan lama pada uang kertas. Virus tidak akan lama bertahan di permukaan, terutama di permukaan yang kering seperti uang kertas,” kata Stephanie Brickman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sementara itu, Amesh Adalja dari Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins University Amerika Serikat (AS) menjelaskan uang kertas memang jadi sumber penularan penyakit. Meski begitu, untuk kasus penyebaran virus corona, uang kertas bukan sumber utama, sehingga orang tak perlu terlalu khawatir terinfeksi setelah memegang uang.
“Ini (corona) adalah virus pernapasan. Sehingga penyebaran utama melalui batuk dan bersin atau percikan air liur dari tubuh. Jangkauan (cipratan) bersin bisa menjangkau dua meter,” jelas Adalja.
Alasan penyebaran lewat kontak langsung ini yang membuat pemakaian masker bagi yang tengah sakit lebih efektif untuk menghindarkan orang lain tertular. Kekhawatiran orang menggunakan uang kertas juga bisa dikurangi risikonya dengan rajin menggunakan pembersih tangan (hand sanitizer).
Pada Februari lalu, pemerintah China dilaporkan menginstruksikan bank-bank untuk melakukan sterilisasi uang kertas sebelum dikeluarkan untuk mencegah penyebaran corona. Di Iran, pemerintah mendorong masyarakat untuk menghindari penggunaan uang kertas dan membayar transaksi secara non tunai.
Sementara itu dikutip dari Channelnewsasia, Bank of Korea (BOK) melakukan karantina pada uang kertas yang selama dua minggu untuk menghilangkan potensi virus corona. Bahkan sebagian uang yang dihimpun akhirnya dibakar oleh bank sentral itu.
Selain itu, BOK juga menempatkan uang kertas untuk dipanaskan dalam suhu ruangan tinggi sebelum kembali diedarkan.
“Berlaku untuk semua uang tunai yang masuk ke bank sentral dari bank-bank lokal. Bank Sentral Korsel akan menyimpannya di tempat aman selama dua minggu, mengingat virus umumnya akan mati setelah sembilan hari,” kata salah seorang pejabat BOK.
Proses pemanasan uang kertas oleh BOK dilakukan di dalam ruang yang bersuhu hingga 150 derajat celcius selama tiga detik, sebelum kemudian dipindahkan ke tempat penyimpanan dalam suhu ruangan 42 derajat celcius.
Uang yang telah melalui proses pemanasan baru bisa dikemas untuk kemudian bisa beredar kembali. Pejabat bank sentral menyebutkan sebagai proses desinfektanisasi pada uang kertas.(*)