Komandan Paul Hendry

Paul Hendry (tengah) bersama relawan.

KANTOR Mat Tadji sudah sebulan ini sepi. Maklum pekerja hanya seminggu sekali masuk. Masuk kerja setiap Rabu, dimana Koran Mingguan Global News terbit setiap Kamis pagi dan koran dikerjakan sepanjang hari Rabu.
Sepikah kantor? Tidak juga. Karena di depan kantor didirikan posko pemeriksaan keluar masuk kendaraan. Di situ berdiri dengan tegap Paul Hendry, “sang komandan” Satgas penjaga palang pintu keluar masuk RW 05, yakni di Jl. Cipta Menanggal VI, Surabaya. Kemana saja tujuan di kawasan RW 05 Menanggal, jalannya hanya satu pintu, yakni Jl. Cipta Menanggal VI.
Paul bersama para relawan berjibaku setiap hari untuk menjaga kampungnya. Mereka para relawan bekerja dengan sungguh-sungguh. Tanpa lelah demi “keamanan” kampung dari serbuan covid-19 alias corona.
 “Selamat pagi bapak. Kok pagi-pagi sudah ke kantor,” kata Paul.
“Pagi juga bapak. Sehat selalu. Kita libur sebenarnya bapak. Masuk setiap Rabu saja, tapi masuk sendirian kan tak apa. Kalau di rumah agak stress, karena terbiasa bekerja,” kata Mat Tadji sembari memberi hormat kepada Paul dengan bertabik.
“Saya senang kalau ada warga mengatakan sehat. Ayo kita optimis corona bisa kita basmi. Asal kita terutama warga patuh dengan aturan pemerintah. Jaga jarak. Memakai masker dan rajin mencuci tangan,” kata Paul dengan penuh semangat.
Lalu di depan sana ada seorang kakek tua, mungkin umur 60-an duduk di bawah pohon perindang. “Bapak tahu siapa dia. Itu tamu yang mau masuk kampung kita berboncengan bersama istrinya. Setelah diperiksa, suhu tubuhnya ternyata mencapai 40 derajat. Padahal yang boleh masuk kampung ini hanya yang bersuhu tubuh di bawah 37,5 derajat. Saya tahan dulu. Saya suruh duduk dulu, karena memang cuacanya panas,” kata Paul yang bertubuh tinggi.
Sekitar 5 menit kemudian kakek tua tersebut diperiksa kembali, dan ternyata suhunya sudah normal kembali.
 “Ada beberapa orang yang suhunya di atas yang ditetapkan. Apalagi waktu tengah hari dan memakai helm yang tertutup. Biasanya relawan menyuruhnya berteduh sebentar. Lalu diperiksa kembali, normal hasilnya,” kata Paul lagi.
Bagaimana kalau ada yang tidak turun suhunya? Hingga saat ini belum ada kasus yang melebihi yang ditetapkan suhu badannya, yakni yang boleh masuk kampung kita ini, suhu badan harus di bawah 37,5 derajat.
 Seperti diketahui sejak beberapa hari lalu, di lingkungan RW 05 Menanggal hanya ada satu pintu masuk dan ke luar, yakini di mulut Gang Jl. Cipta Menanggal VI, Surabaya (RT 11).
Para relawan tersebut bekerja profesional. Bekerja sesuai dengan Protap yang ditentukan pemerintah. Tak memakai masker, langsung ditolak masuk. Siapa pun mereka.
“Perintah dari Pak RW begitu. Tak pakai masker ditolak masuk. Suhu badan tinggi melebihi ketentuan juga ditolak sampai benar-benar aman suhunya. Kalau ada orang suhu tinggi, dan setelah istirahat suhunya tak turun-turun, pasti kami akan melapor ke RW untuk dilakukan tindakan selanjutnya. Hanya saja, hingga saat ini belum ada yang sampai begitu, dan semoga tak ada,” kata Paul.
Sejak pandemi Covid-19, Satgas bergerak dengan tujuan agar kampung di Surabaya memiliki protokol mandiri pencegahan virus yang mematikan itu. Mereka mendorong karantina mandiri dilakukan di kampung-kampung dengan membatasi lalu lintas warga sekaligus disiplin penggunaan alat pencegahan seperti tes suhu tubuh dan disinfektan yang ada di pintu masuk Jl. Cipta Menanggal VI/7 Surabaya.
Beberapa warga menyatakan salut kepada pengurus RW 05 yang mana telah menjaga kampung selama 24 jam. Mereka bergantian untuk “menjaganya”.
Mereka menjaga dengan tiga shift, yaitu pukul 07 sampai pukul 15.00, shift kedua mulai pukul 15.00 sampai 23.00 dan shift ketiga mulai 23.00 sampai 07.00 keesokan harinya.
“Saya kadang malu melihat semuanya ini, karena saya belum bisa menjadi bagian dari para relawan ini. Semoga mereka diberi kesehatan dalam menjaga kampung. Mereka adalah pahlawan-pahlawan kita. Mereka tanpa pamrih untuk menjaga kampung dari serangan corona. Selamat bertugas saudaraku,” kata Mat Tadji dalam hati sambil menutup pintu pagar, dan selanjutnya menuju computer untuk menulis berita lagi. (*)