21 Mei: Diklaim Hanya Tambah 451 Kasus, Positif Corona di Jatim Tembus 2.942 Orang

Ketua Rumpun Kuratif Gugas Jatim dr Joni Wahyuhadi

SURABAYA (global-news.co.id) — Jumlah penambahan kasus positif corona di Jatim hingga 21 Mei 2020 kembali tak sinkron dengan data pemerintah pusat. Versi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim, kasus positif virus corona per Kamis (21/5/2020) tercatat mengalami penambahan sebanyak 451 pasien baru atau total pasien positif di Jatim 2.492 orang. Namun data pemerintah pusat yang diumumkan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menyebutkan Provinsi Jatim hingga Kamis (21/5/2020) ada penambahan sebanyak 502 orang, sehingga total positif COVID-19 di Jatim menjadi 2.998 orang.
Meski data berbeda, namun keduanya sepakat menyebut penambahan hari ini merupakan jumlah penambahan harian terbesar selama pandemi.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim mengatakan dari jumlah kasus 2.942 itu, yang masih menjalani perawatan hingga kini berjumlah 2.262 pasien. Hal itu setara dengan 76,89 persen dari total keseluruhan kasus.
Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim mengatakan penambahan sebanyak 451 kasus tersebut mengalami selisih dengan data yang dirilis Kementerian Kesehatan, di mana Jatim disebut memiliki tambahan sebanyak 502 kasus pada Kamis.
“Hari ini tambahan cukup banyak. Memang ada perbedaan dari apa yang diumumkan (502), dengan yang tercatat di sini (451) karena ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi,” ujar dr Joni Wahyuhadi di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (21/5/2020) malam.
Joni mengatakan selisih itu terjadi lantaran pihaknya masih melakukan penelusuran apakah sebanyak 51 pasien lainnya, benar-benar merupakan warga Jatim.  “Ada 51 yang masih diklarifikasi domisilinya,” kata dia.
Lebih lanjut, tambahan 451 kasus baru tersebut rinciannya yakni 311 di Surabaya, 57 di Sidoarjo, 27 di Gresik, 2 di Kota Pasuruan, 1 di Kota Blitar, 1 di Kabupaten Kediri, 2 di Kota Batu.
Kemudian 4 di Nganjuk, 1 di Kota Probolinggo, 1 di Magetan, 2 di Kabupaten Mojokerto, 2 di Lamongan, 2 di Bangkalan, 1 di Kabupaten Malang, 3 di Kota Malang, 1 di Tuban, 31 di Probolinggo dan 2 di Bojonegoro.
“Yang paling banyak yaitu Surabaya 311 yang kita konfirmasi, selanjutnya Sidoarjo 57, kemudian Gresik 27, Probolinggo 31,” ujarnya.
Penambahan juga terjadi untuk pasien terkonversi negatif atau sembuh, yang hari bertambah sebanyak 10 orang. Rinciannya yakni 3 di Surabaya, 2 di Kota Probolinggo, 2 di Magetan, 1 di Sidoarjo, 1 di Nganjuk, 1 di Bangkalan. Sehingga total pasien sembuh di Jatim mencapai 413 pasien atau setara 14,04 persen.
Sedangkan pasien yang meninggal dunia di Jatim, bertambah 15 orang. Mereka yakni 10 di Surabaya, 2 di Sidoarjo, 2 di Gresik, 1 di Pasuruan. Sehingga total pasien meninggal di Jatim berjumlah 258 orang, atau setara 8,77 persen.
“Yang sembuh hari ini diumumkan 10 orang, yang meninggal 15 orang. Yang terbanyak juga Kota Surabaya,” kata Joni yang juga Direktur Utama RSUD dr Soetomo.
Sementara itu untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Jatim saat ini tercatat ada 5.267 pasien. Sebanyak 2.296 pasien di antaranya masih diawasi, 2,456 pasien selesai diawasi atau sembuh, dan 515 pasien lainnya meninggal dunia.
Kemudian Orang Dalam Pemantauan (ODP) tercatat ada 23.271 orang, yang masih dipantau 3.989 orang, selesai dipantau 19.190 orang, dan 92 orang lainnya meninggal dunia.
Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim dr Kohar Hari Santoso menambahkan, faktor penyebab banyaknya pertambahan kasus COVID-19 di Jatim hari ini, lantaran ditemukan kasus-kasus tambahan dalam sejumlah klaster.
Bahkan yang terbaru, kata Kohar, pihaknya juga menemukan klaster penularan COVID-19 yang menjangkit sejumlah tenaga kesehatan (nakes) mulai perawat hingga dokter.
“Memang ada penambahan di klaster yang ada. Yang baru itu dari nakes ada positif COVID-19 sebanyak 20 orang.12 di antaranya nakes, empat dokter, tiga spesialis,” Ketua Kohar.
Lainnya penambahan kalster yang sudah ada. Ada kelompok melakukan perjalanan luar negeri. Jumlahnya tidak terlalu besar tapi potensi klaster. Di samping itu ada perjalanan luar kota. tri