Situasi Amerika Parah, Trump Ancam Hukum Tiongkok

Donald Trump

WASHINGTON (global-news.co.id)- Presiden Donald Trump masih saja bersikukuh agar Tiongkok mau membuka semua misteri tentang virus corona atau COVID-19 yang dicurigai Amerika berasal dari laboratorium di Kota Wuhan Tiongkok.
Bahkan, Trump telah mengeluarkan pernyataan bernada ancaman kepada Tiongkok jika terus menutupi tentang wabah virus vorona.
Pada pidato penanganan COVID-19 harian di Gedung Putih, Trump mengatakan Tiongkok harus bersiap dengan dampak dan hukuman yang akan dijatuhi nanti jika terbukti bersalah membuat virus corona mewabah.
“Jika itu adalah kesalahan, kesalahan adalah kesalahan. Tetapi jika mereka secara sadar bertanggung jawab, ya, maksud saya, maka pasti harus ada konsekuensinya,” kata Trump, Minggu (19/4/2020).
Tensi politik antara Amerika dan Tiongkok semakin memanas ketika kondisi negara adi daya itu mulai genting akibat serangan virus corona yang mengganas.
Hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan, Amerika telah menjadi pusat pandemi COVID-19. Sementara laporan Badan Kesehatan Dunia atau WHO, corona pertama kali muncul di Kota Wuhan Tiogkok.
Hingga hari ini berdasarkan data CSS Johns Hopkins, jumlah penderita corona di Amerika mencapai 735.086 orang, 38.910 meninggal dunia dan baru sebanyak 66.604 bisa disembuhkan. Wabah virus corona baru, benar-benar membuat Amerika seperti dalam kondisi “sekarat”. Pusat-pusat bisnis lumpuh dan 22 juta orang kehilangan pekerjaan. Kondisi yang menyedihkan itu memicu ribuan warga AS marah. Mereka ramai-ramai turun ke jalan di berbagai wilayah untuk menyampaikan protes, Sabtu (18/4/2020). Ekspresi kemarahan massa digambarkan media setempat sebagai “gerombolan zombie”. Di Michigan, mereka turun ke ibukota negara bagian itu dengan ratusan mobil membunyikan klakson, meneriakkan slogan-slogan dan melambai-lambaikan bendera nasional Amerika, bendera bergambar Presiden Donald Trump dan plakat. Lagu-lagu patriotik menggelegar dari radio mobil. Mereka berteriak “kunci dia, kunci dia” dalam permohonan putus asa terhadap pembatasan penguncian wilayah atau lockdown oleh gubernur mereka. Massa juga menyalahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena negara mereka kini berada di posisi terbalik. Massa mengaku tidak takut virus corona. Namun, mereka mengatakan PHK dan kehancuran ekonomi akibat virus menyebabkan mereka berjuang untuk membayar tagihan dan sewa. Hal seperti itu yang mereka anggap telah membahayakan hidup mereka. tri, rtr, sin