Penelitian PT Ungkap Positif COVID-19 di DKI Jakarta Sudah Mencapai 32.000 Orang

Penelitian gabungan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan kampus luar negeri mengestimasikan jumlah positif COVID-19 di DKI Jakarta jauh lebih besar dari sekarang ini.

JAKARTA (global-news.co.id) – Penelitian gabungan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan kampus luar negeri mengestimasikan jumlah positif COVID-19 di DKI Jakarta jauh lebih besar dari sekarang ini.
Merujuk data Gugus Tugas, positif corona di Jakarta mencapai 1.753 orang pada Jumat (10/4/2020) pukul 12.00.
Namun riset yang dilakukan oleh belasan peneliti dari berbagai perguruan tinggi menyatakan kondisi berbeda. Riset mendapatkan data estimasi jumlah positif corona di DKI untuk periode sama telah mencapai 32.000 orang.

Penelitian itu dilakukan di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Udaya (Undana). Riset ini juga melibatkan peneliti dari perguruan tinggi luar negeri asal Indonesia yaitu Essex & Khalifa University, University of Southern Denmark, dan Oxford University.

Satu peneliti matematika epidemiologi ITB Nuning Nuraini, mengatakan, bersama Tim SimcovID Team mereka mencoba menjawab permasalahan-permasalahan yang lebih kompleks dan spesifik terkait COVID-19 di Indonesia. Menjawab persoalan itu dilakukan dengan pendekatan model yang lebih realistik.
Dalam kajian ilmiah yang mereka rancang, Nuning dan Tim SimcovID berusaha untuk menjawab setidaknya tiga rumusan masalah. Pertama, lewat model SEIRQD (Suceptible-Exposed-Quarantine-Recovery-Death), mereka ingin menghasilkan analisis terkait estimasi kepadatan kasus COVID-19 per 100.000 jumlah penduduk dan menunjukkan seberapa besar perkiraan kasus yang tidak terdeteksi dari provinsi-provinsi di Indonesia.
“Kedua, menggunakan metode Extended Kalman Filter, Tim SimcoviID berusaha untuk memberikan nilai Ro yang tepat bagi kejadian di Indonesia. Terakhir, mereka juga menyiapkan proyeksi waktu puncak dan jumlah kasus kematian dari beberapa skenario kebijakan pemerintah yang mungkin akan dilaksanakan dalam menghadapi situasi pandemi ini,” kata Nuning di laman resmi ITB, dikutip Jumat (10/4/2020).
Untuk menjawab tujuan pertama, Nuning beserta tim berusaha menentukan estimasi parameter tepat melalui data yang ada, walaupun validitas data kasus terlapor diasumsikan rendah. Karena itu, estimasi parameter juga dilakukan melalui data kematian yang diasumsikan lebih dapat dipercaya dibandingkan data kasus terlaporkan.
Setelah data-data tersebut diolah, para peneliti menyimpulkan, Provinsi DKI Jakarta menempati urutan pertama sebagai provinsi dengan estimasi kepadatan kasus COVID-19 per 100.000 orang tertinggi di Indonesia dengan estimasi kasus yang tidak terdeteksi sebesar 32.000 (dalam selang kepercayaan 86 persen) kasus.
Jumlah kasus ini jauh meninggalkan estimasi nomor dua yang diduduki oleh Provinsi Jawa Barat dengan 8.090 kasus tak terdeteksi dengan selang kepercayaan yang sama.
Selanjutnya, untuk estimasi dari jumlah kasus COVID-19 yang terdeteksi berdasarkan pemodelan, Provinsi Bengkulu menjadi provinsi yang paling kecil kemampuan deteksinya yakni 0,26 persen dari perkiraan total kasus provinsi sebesar 385 kasus.
“Dari pemodelan, kita juga bisa melihat bahwa provinsi-provinsi yang presentase perkiraan kasus tidak terdeteksinya tinggi ada di luar pulau Jawa, seperti Bengkulu, Papua Barat, Sumatera Selatan, dan beberapa provinsi lain, “ ujarnya.
Nuning menuturkan, penting pula untuk diketahui bahwa ada dua catatan penting menyangkut estimasi-estimasi yang dilakukan pada kajian ilmiah ini. Pertama, analisis estimasi hanya dilaksanakan pada provinsi-provinsi yang sudah ada kasus kematiannya. Kedua, hasil estimasi ini hanya valid jika seluruh pasien yang terkonfirmasi COVID-19 dan meninggal dianggap tidak melakukan perjalanan lintas provinsi selama sekurang-kurangnya dua minggu. Asumsi-asumsi yang dipakai juga didasarkan data yang ada sampai 31 Maret 2020.

Berikutnya, untuk nilai Ro, Tim SimcovID memprediksi, dengan menggunakan Extended Kalman Filter (EKF), bahwa nilai Ro di Indonesia sekarang ada pada kisaran angka 3.3.

“Ro itu kalau di matematika bisa diartikan sebagai jumlah kelahiran kasus baru akibat 1 orang terinfeksi saat masuk ke dalam suatu populasi yang sepenuhnya sehat dan potensial untuk sakit. Biasanya, ada pihak yang menyebutnya juga sebagai faktor penggandaan atau semacamnya. Intinya, kita harus mengejar nilai Ro agar kurang dari 1 sehingga kita bisa mengejar keadaan bebas penyakit,“ ucap Nuning.

Sedangkan dalam melakukan kajian proyeksi waktu puncak dan jumlah kasus kematian dari skenario kebijakan pemerintah, Tim SimcovID membagi terlebih dahulu jenis skenario yang akan dikaji, yaitu tanpa kebijakan, kebijakan memperketat social/physical distancing, dan karantina wilayah. Selain itu, mereka juga menambahkan faktor waktu penerapan kebijakan dan waktu pelaporan/waktu konfirmasi kasus sebagai faktor kualitatif lainnya.

Hasilnya, kajian ilmiah tersebut menyimpulkan bahwa skenario kebijakan karantina wilayah dalam waktu dekat disertai dengan rapid-test adalah skenario terbaik yang dapat dilakukan pemerintah. Dari hasil pemodelan, mereka meyakini fenomena pandemi di Indonesia dapat mereda lebih cepat serta lebih sedikit kasus kematian jika pemerintah menerapkan karantina wilayah, melakukan rapid-test, dan segera memulai kebijakan-kebijakan tersebut.

“Segala bentuk pekerjaan yang kami lakukan dalam membangun model dan menghasilkan analisis hanya didasarkan pada sikap sukarela. Kami tidak punya tujuan lain selain ingin mengerjakan apa yang sudah menjadi bagian dari profesi kami yaituq menghasilkan publikasi ilmiah. Namun, tentunya kami akan senang jika apa yang kami kerjakan dapat membantu bagi yang membutuhkan,“ kata dia. ejo, ine