Kasus Corona di Tiongkok Naik Lagi

Kasus infeksi virus corona di Tiongkok naik kembali setelah sempat menyentuh angka terendah beberapa pekan terakhir.

BEIJING (global-news.co.id) – Kasus infeksi virus corona di Tiongkok naik kembali setelah sempat menyentuh angka terendah beberapa pekan terakhir.
Data Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, seperti dilaporkan DPA, Minggu (12/4/2020), mengungkap, ada 99 kasus baru. Meski demikian sebagian besar yakni 97 merupakan kasus impor.
Penambahan harian kasus impor itu memaksa Tiongkok menghentikan semua kedatangan warga asing pada 28 Maret, termasuk mereka yang berstatus pemukim tetap serta sudah memegang visa.
Sampai saat ini kebijakan pelarangan masuk warga asing masih berlaku, meski demikian penambahan kasus impor masih saja terjadi, yakni melibatkan warga Tiongkok yang baru pulang dari luar negeri.
Tiongkok juga melaporkan 59 kasus baru suspect virus corona impor pada Minggu. Berkaca dari Singapura, “serangan” virus corona gelombang kedua bisa terjadi akibat kasus “impor” dan mengakibatkan penambahan kasus yang sangat signifikan.

Singapura merupakan salah satu negara yang terpapar COVID-19 sejak awal kemunculannya, bahkan sempat menjadi negara dengan jumlah kasus terbanyak kedua setelah Tiongkok. Tetapi, Singapura mampu meredam penyebarannya, hingga pertengahan Maret total jumlah kasus sekitar 200-an orang.

Tetapi setelahnya, Negeri Merlion menghadapi “serangan” virus corona gelombang kedua. Sebabnya, warga negara Singapura yang tinggal di Eropa maupun Amerika Serikat (AS) “mudik” setelah Eropa kemudian AS menjadi episentrum penyebaran COVID-19.

Dampaknya, Singapura mengalami lonjakan kasus, hingga hari ini jumlah kasus tercatat sebanyak 2.299 kasus, naik 1.000% dibandingkan pertengahan Maret lalu.

Zhang Wenhong, pemimpin tim penanggulangan COVID-19 Shanghai mengatakan Tiongkok harus mempersiapkan diri menghadapi puncak kasus “impor”.

“Meski Tiongkok  sudah membuat beberapa pencapaian di tahap awal, kita perlu tetap berhati-hati dan berdeterminasi untuk memerangi pandemi ini dalam beberapa waktu ke depan” kata Zhang dalam wawancara dengan Caixin, sebagaiaman dilansir Nikkei Asian Review.

Zhang memprediksi puncak penyebaran gelombang kedua bisa terjadi setelah musim gugur atau di penghujung tahun ini.

Tiongkok tentunya harus bersiap meredam penyebaran COVID-19 melalui kasus impor agar tidak terjadi “serangan” gelombang kedua seperti yang dihadapi Singapura.

Penambahan kasus di Tiongkok akan menjadi perhatian beberapa hari ke depan, jika terus menunjukkan peningkatan, ada kekhawatiran akan ada penyebaran pandemi gelombang kedua di Negeri Tirai Bambu berisiko benar terjadi.

Selain dari Tiongkok, tren penyebaran kasus di Indonesia tentunya juga menjadi perhatian pelaku pasar dalam negeri. Sejauh ini, Indonesia sedang mengalami tren kenaikan, sebab kasus pertama baru dilaporkan awal Maret lalu. ejo, tri, cnb