Warga Dua Desa di Sidoarjo Hidup dalam Banjir, Pasrah Berselimut Duka

 

GN/Peni
ANAK-anak rawan terkena penyakit karena hidup dalam banjir.

Banjir melanda dua desa di Kabupaten Sidoarjo sejak awal Januari 2020 yakni Desa Banjar Panji dan Desa Kedungbanteng di Kecamatan Tanggulangin. Kini banjir di dua desa itu  ditetapkan berstatus tanggap darurat bencana oleh Plt Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin. Dengan status itu, penanganan terhadap banjir di dua desa tersebut dilakukan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama seluruh dinas terkait Pemkab Sidoarjo, jajaran TNI-POLRI dibantu para relawan dan masyarakat. 

 

Laporan : Peni

 

PENETAPAN status tanggap darurat bencana ini mengacu pada Surat Keputusan Bupati Sidoarjo Nomor 188/812/438 1 13/2019 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Banjir, Tanah Longsor, Angin Puting Beliung dan ROB di Kabupaten Sidoarjo, untuk mengantisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem. Menindaklanjuti SK tersebut, BPBD Sidoarjo membentuk posko terpadu penanggulangan bencana Kabupaten Sidoarjo untuk mempercepat informasi dan penanganan bencana banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan rob.

Posko terpadu melibatkan karyawan BPBD dan para relawan. Pada awal Januari 2020, dalam cuaca ekstrem hujan deras disertai angin kencang selama beberapa hari mengakibatkan banjir menggenang setinggi paha orang dewasa di Desa Kedungbanteng. Menyusul setelahnya adalah tetangga desa yakni Desa Banjarasri di mana keduanya berada di wilayah Kecamatan Tanggulangin, lebih kurang 9 kilometer dari pusat kota Sidoarjo.

Dalam waktu singkat, genangan air telah melumpuhkan dua desa dan tak pernah benar-benar surut hingga Plt Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin mengeluarkan status tanggap darurat banjir satu bulan kemudian. Sebelum mengeluarkan status tersebut, pihak Pemkab Sidoarjo melalui BPBD dan jajaran telah melakukan upaya agar genangan air surut. Di antaranya mengerahkan 3 mobil pemadam kebakaran yang ditempatkan di SMPN 2 Tanggulangin  yang memiliki kapasitas penyedotan air hingga 6.000 liter. Secara teknis, satu mobil PMK difungsikan untuk menyedot air dan sisanya berfungsi membuang air. Namun ternyata langkah ini terkendala karena tingginya permukaan air sungai di kawasan Kedung Peluk.

Sebelumnya pihak Dinas PU Bina Marga telah pula melakukan aksi pengerukan sungai di Desa Banjarpanji, namun karena curah hujan masih tinggi dan tidak ada lagi resapan air maka genangan air tak pernah surut. Nur Ahmad Syaifuddin dalam rapat koordinasi dengan jajaran pemkab beserta camat dan kepala desa pada 18 Februari lalu memutuskan memaksimalkan kinerja pompa air sebanyak 8 unit yang dimiliki oleh Pemkab Sidoarjo sebagai solusi pendek mengurangi genangan air dua desa.

Langkah-langkah lain yang diputuskan dalam jangka waktu menengah adalah melakukan normalisasi sungai serta pembuatan kisdam. Namun solusi 8 pompa ini tetap terkendala pada tingginya permukaan air sungai, sehingga membuat air kembali menggenang ditambah curah hujan tinggi. Pada 19 Februari 2020, akhirnya Plt Bupati Sidoarjo menetapkan status tanggap darurat banjir di Banjarasri dan Kedungbanteng.

Sejak itu, BPBD membuka dapur umum dan menyediakan setidaknya 9.000 nasi bungkus setiap hari. Lumpuhnya akses jalan desa akibat banjir itu membuat distribusi perdagangan sembako nyaris lumpuh, sehingga warga kesulitan melakukan aktivitas masak.

Taruna siaga bencana (Tagana) dan Forum relawan Kabupaten Sidoarjo tangguh (Forest) bersama BPBD mengoperasikan dapur umum untuk pengondisian bagi warga terdampak. Pemkab Sidoarjo pun pasang target dalam waktu dua minggu, genangan air harus teratasi. Posko tanggap darurat pun ditempatkan di balai desa Kedungbanteng untuk menyiapkan warga terdampak yang mengungsi akibat rumahnya tergenang, namun hingga berita ini ditulis warga memilih bertahan dengan kondisi yang ada dan mengupayakan kenyamanan di rumah masing-masing meski genangan air masih ada di dalam rumah.

Seiring waktu ditetapkan sebagai darurat bencana, total 11 pompa air digunakan pemkab untuk mengatasi genangan air dan dibuang ke Sungai Kedungbanteng. Sementara itu dampak sosial yang dialami warga terdampak diantaranya, terhambatnya proses kegiatan belajar mengajar di SD dan SMP yang terletak di Banjarasri maupun Kedungbanteng. Genangan air itu bahkan hingga masuk kelas dan sekolah diliburkan selama beberapa hari. Karena pelajaran tak bisa ditinggalkan, para guru dan murid terpaksa masuk sekolah memakai sandal. Bantuan sepatu boot berdatangan dari berbagai pihak, diantara anggota dewan setempat, Lapindo dan masyarakat Sidoarjo yang tergerak membantu kelangsungan pendidikan anak-anak. Keberadaan air bersih praktis tak bisa lagi diandalkan, karena air tanah bercampur genangan banjir. Tandon air telah dipasang oleh BPBD, juga dibantu oleh anggota dewan yang menurunkan 1 unit tandon air berkapasitas 5.100 liter, dan dari pihak Lapindo.

Dampak lain adalah, tambak ikan dan areal persawahan pun tergenang air. Ratusan warga terdampak yang mengais rejeki menjadi buruh tani dan tambak telah kehilangan pekerjaan mereka dan kini hanya pasrah pada bantuan pihak pemerintah serta donatur.

“Kalau dibilang musibah ya kita pasrah. Tapi kami masih berharap agar masalah pekerjaan ini dibantu sama pemerintah. Karena tambak tempat kerja kita banjir, padahal itu sumber utama pekerjaan kami. Kalau kami hanya berharap bantuan makan dari dapur umum sampai kapan kita tidak bekerja,” demikian keluh kesah Yanto, warga RT 4 Desa Banjarasri kepada Koran Global News, Rabu (4/3/2020).

Saidi (71) berprofesi sebagai buruh tani menghidupi 1 istri dan 3 anaknya yang berkebutuhan khusus, semua anggota keluarga kini terpaksa hanya makan dari pembagian dapur umum. Rumah kecilnya yang berukuran 4 x 7 itu hingga kini masih tergenang air hingga dapur belakang.

Belum lagi ia kini kehilangan pekerjaannya akibat sawah yang digarap rusak terendam air. Saat ditemui, dia tak lagi bisa diajak bicara panjang, selain memperlihatkan wajahnya yang murung. Istrinya yang juga sudah berusia senja berusaha tegar mengajak masuk ke rumah berkamar dua ruang, cukup untuk sebuah tempat tidur berukuran 90×120 m.

Kondisi rumah yang tak layak itu diperparah dengan genangan air setinggi mata kaki. Bantuan diakuinya datang untuk memenuhi kebutuhannya sekeluarga yang berjumlah 5 orang.   “Nggeh ngeten niki kondisi griyane, bau. Airnya gak surut-surut sudah dua bulan lebih,” kata Bu Saidi sambil menyeka air matanya yang menetes. Status darurat banjir dua desa di Tanggulangin berakhir 3 Maret lalu, namun Pemkab Sidoarjo memperpanjang masa tanggap darurat bencana banjir mengingat air masih menggenang di sejumlah lokasi kawasan itu. Selain itu agar upaya penanganan bisa dilanjutkan.

Kepala BPBD Dwijo Prawito bersama sejumlah pejabat terkait dari PU dan Camat serta Sekda kembali menggelar rapat dan bersepakat bahwa masa tanggap darurat diperpanjang hingga 17 Maret yang akan datang. Perpanjangan ini juga untuk mengantisipasi genangan yang mungkin akan terjadi, karena hujan masih akan mengguyur hingga pertengahan Maret.

“Penanganannya membutuhkan pompa, dan operasionalnya butuh anggaran. Dengan statusnya diperpanjang, kita bisa mengalokasikan dana bantuan tak terduga alias BTT” kata Dwijo . Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Akhmad Zaini juga meminta BPBD melakukan koordinasi dengan pihak ITS untuk menganalisa kecurigaan terjadinya penurunan tanah di Desa Kedungbanteng dan Banjarasri. Masa tanggap darurat kedua ini akan dimaksimalkan oleh pemkab untuk melanjutkan upaya normalisasi avour Gedangrowo bawah, Kedungbanteng dan Banjarpanji.

Hingga kini, sudah 16 pompa difungsikan pemkab untuk mengurangi debit genangan air. Upaya ini cukup efektif meski belum 100 persen wilayah bebas genangan. Pintu air Banjarpanji pun dibongkar untuk memperlebar laju air dari pemukiman warga.

“Pintu air berfungsi mengatur air avour Gedangrowo bawah yang masuk Banjarpanji. Nah pintu air yang dibongkar itu terlalu kecil sehingga menghambat laju air,” terang Camat Tanggulangin Sabino. *