Warga Diminta Tenang, Rumah Sakit Rujukan Tidak Hanya RS Unair

 

Poli khusus Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya melayani masyarakat yang ingin tes corona. Ada 44 rumah sakit rujukan di Jatim yang mampu melayani hal yang sama.

SURABAYA (global-news.co.id) – Bertambahnya jumlah pasien positif virus corona (COVID-19) di Indonesia membuat sebagian besar masyarakat semakin khawatir. Bahkan, usai mengetahui ada 8 pasie positif corona di Jawa Timur, animo masyarakat untuk tes corona meningkat.

Karena itu Rektor Unair Prof  Moh Nasih mengimbau masyarakat  untuk tidak panik dengan berbondong-bondong datang ke rumah sakit rujukan nasional. Pemeriksaan corona bisa dilakukan di 44 rumah sakit rujukan di Jawa Timur, rinciannya 41 menjadi rujukan pertama. Ada 3 yang jadi rujukan utama.

“Kami akan melayani masyarakat yang memiliki gejala dan indikasi yang kuat terkait virus corona. Misalnya batuk, demam, sakit tenggorokan, sesak napas dan pernah berpergian ke negara terdampak virus corona. Rumah Sakit Unair dan beberapa rumah sakit lainnya akan siap melayani,” katanya ditemui di Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Kampus C , Rabu (18/3/2020).

Dia mengingatkan permasalahan ini merupakan masalah nasional yang harus dihadapi oleh semua elemen masyarakat, pemerintah hingga rumah sakit. Masyarakat harus rasional menghadapi ini agar semua pihak bisa melakukan tugasnya secara optimal.

Dijelaskannya RS Unair  membatasi 100 orang setiap harinya dikarenakan kurangnya tenaga medis.  Apalagi RS Unair tidak hanya menangani pasien corona melainkan juga pasien yang memiliki penyakit lain dengan jumlah yang begitu banyak. “Kita juga harus memilih tenaga yang harus melayani. Kita punya keterbatasan kapasitas,” ujar Prof Nasih seraya menjelaskan dalam proses pelayanan, Unair juga siap untuk bekerja 24 jam.

Untuk diketahui Unair miliki 2 institusi berbeda yaitu Rumah Sakit Unair dan Lembaga Penyakit Tropis (LPT). Rumah Sakit Unair ditunjuk sebagai salah satu rumah sakit rujukan nasional untuk memeriksa orang yang memiliki gejala corona. Sedangkan LPT sebagai lembaga yang menerima sampel dari berbagai rumah sakit untuk dianalisis spesimennya. “Masyarakat harus bisa membedakan keduanya agar tidak berbondong-bondong ke RS Unair,” tandasnya.

Untuk yang berkaitan dengan LPT, tentu Unair harus menambah kapasitas. “Kami berencana untuk memberikan support tenaga kesehatan yaitu alat yang bisa menganalisis 1.000 sampel. Alat ini tentu dibuat dan dikirim dari luar negeri,” ujar Rektor.

Alat itu itu sudah dikoordinasikan dengan Kementerian Kesehatan, jadi Unair hanya menerima barang dari Kemenkes. Harapannya dengan adanya alat tersebut, masalah ini bisa dilakukan bersama-sama.

Diingatkan virus corona ini bukan hanya permasalahan Indonesia bahkan dunia. Sehingga kita harus bergotong royong bersama melakukan tugas dan fungsinya masing-masing. Masyarakat tidak perlu panik karena ini merupakan bagian dari siklus kehidupan.

Dalam hal ini Unair melakukan penanganan dalam 3 hal yaitu penanganan pasien, pemeriksaan sampel, dan pengembangan vaksin.

Sementara itu H Ihsanuddin MZ, SE, MM seorang anggota DPRD Aceh selaku orangtua dari pasien yang dinyatakan negatif corona mengatakan putrinya yang sedang menempuh kuliah semester 4 di salah satu perguruan tinggi di Surabaya itu mengalami demam 40,6 derajat disertai batuk. Hingga akhirnya diambil sikap untuk diisolasi selama 5 hari. Setelah beberapa hari mendapatkan penanganan medis oleh dr Alfian Nur Rosyid  SpP dan dianalisis secara keseluruhan berkaitan dengan COVID-19 dinyatakan negative dan sudah pulang. “Sebelumnya anak saya pernah melakukan perjalan ke Depok seminggu karena ada acara keluarga,” kata Ihsanudiin.  tri