Terjadi Serangan Jantung Diatasi dengan Batuk Ternyata Hoaks

SURABAYA (global-news.co.id) – Belakangan ini media ramai memuat informasi mengenai serangan jantung. Sejumlah pesan singkat mengenai pertolongan pertama serangan jantung pun mulai simpang-siur menghiasi room chat sosial media seperti Facebook dan WhatsApp.

dr Agus Subagjo Sp.JP(K)FIHA

Informasi itu seperti anjuran untuk batuk dengan kencang dan berulang, batuk harus terus dilakukan sampai bantuan datang atau sampai detak jantung terasa kembali normal, menarik nafas dalam setiap kali sebelum batuk. Bukan hanya itu, dalam pesan singkat tersebut, juga dijelaskan bahwa menarik nafas panjang dan dalam akan menarik banyak oksigen ke paru-paru sehingga batuk dapat menekan jantung dan membuat darah tetap tersirkulasi.

Selain itu, penderita serangan jantung juga diminta tetap menjaga kesadaran dengan cara menggaruk-garuk jari kelingking dengan ibu jari. Informasi tersebut disampaikan secara detil hingga sekilas tampak meyakinkan.

Namun pakar Ilmu Jantung dan Kardiologi dari Unair dr Agus Subagjo Sp.JP(K)FIHA mengungkapkan bahwa informasi itu adalah hoaks, tidak benar. Meskipun tercantum sejumlah nama alumni Fakultas Kedokteran, Ikatan Dokter Indonesia (IDI)  bahkan Cardiologist.

“Kalau kita lihat di media sosial banyak beredar bahwa ketika terjadi serangan jantung penderita harus batuk sekuat tenaga. Kalau jantungnya berhenti mendadak, ya bagaimana bisa batuk,” ungkap dosen Fakultas Kedokteran Unair, Rabu (4/3/2020).

Dia membenarkan bahwa jika terjadi henti jantung mendadak, penderita harus segera mendapatkan bantuan hidup dasar atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR). “Jika ternyata terjadi henti jantung mendadak karena fibrilasi ventrikel, maka harus segera diberi kejut listrik. Jika terjadi di luar rumah sakit pertolongan pertama yang dapat diberikan adalah dengan melakukan CPR atau pertolongan bantuan hidup dasar,” terang dia.

Jika tanda-tanda serangan jantung muncul seperti  rasa nyeri dada yang tidak hilang dengan istirahat atau obat, maka harus segera ke UGD agar segera dideteksi jenisnya. Sehingga apabila benar serangan jantung, dapat segera diantisipasi apabila terjadi henti jantung mendadak.

Pada intinya, lanju dr Agus, penderita serangan jantung harus segera mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat agar tidak terjadi komplikasi. “Jika jantung tidak dialiri darah selama lima menit, risikonya akan meninggal. Tetapi yang juga penting untuk diselamatkan adalah sel otak. Karena dia (sel otak, Red) hanya memiliki daya tahan untuk tidak ada oksigen selama tiga menit,” tandasnya.

Perlu diketahui, serangan jantung adalah kondisi di mana terjadi penyumbatan pada pembuluh darah koroner secara mendadak. Pembuluh darah koroner adalah salah satu sistem pembuluh darah vital yang memberikan makan otot jantung.  tri