Sibuk Perangi Corona, Waspadai DBD Juga Mengintai di Indonesia

 

Di tengah kepanikan wabah corona baru atau COVID-19, masyarakat dibuat terkejut dengan jumlah korban DBD di Indonesia yang terus meningkat.

Saat ini dunia sedang digemparkan oleh wabah virus corona baru, COVID-19, termasuk Indonesia. Siapa sangka, tidak hanya virus corona saja yang menghantui Tanah Air. Di tengah wabah virus corona, Indonesia juga mengalami peningkatan kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) dan korbannya di berbagai daerah mencapai ribuan.

 

Di tengah kepanikan wabah corona, masyarakat dibuat terkejut dengan jumlah korban DBD yang terus meningkat. DBD merupakan sebuah penyakit yang diakibatkan oleh salah satu dari empat virus dengue.

Virus tersebut bisa menyerang manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albocpictus. Harus diketahui, DBD masuk ke dalam jenis penyakit yang mudah menular. Sejak Januari hingga awal Maret 2020, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sudah ada lebih dari 16 ribu kasus DBD di Indonesia, dengan 100 di antaranya meninggal dunia.

“Kasus 16.099 dengan kematian 100 untuk nasional. Upaya yang dilakukan mendorong peningkatan kegiatan preventif,” kata Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes RI dr  Siti Nadia Tarmizi kemarin.

Kegiatan preventif yang dimaksud adalah melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk, baik di rumah, sekolah, tempat umum maupun rumah ibadah.

Selain itu, dalam menghadapi penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu pemerintah akan mengambil langkah untuk memastikan logistik untuk tes DBD mencukupi selain juga persediaan abate, insektisida serta larvasida.

Selain itu, lanjut Nadia pemerintah sudah melakukan antisipasi jika terjadi peningkatan kasus DBD di beberapa daerah. “Menyiagakan rumah untuk antisipasi peningkatan kasus DBD dan memastikan cairan dan alat infus tersedia,” ujar dia, merincikan langkah preventif apa saja yang sudah dilakukan pemerintah untuk menghadapi wabah DBD.

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto telah melakukan kunjungan ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki banyak jumlah kasus DBD cukup tinggi secara nasional. Kabupaten Sikka di NTT sudah mendeklarasikan DBD sebagai kejadian luar biasa sejak Januari 2020 dan diperpanjang hingga saat ini. Menurut Menkes, ada 1.190 kasus DBD di Sikka dan 13 orang di antaranya meninggal dunia akibat sakit tersebut. Menurut data yang beredar, sekitar 2.116 kasus DBD terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari ribuan kasus tersebut, 31 orang telah dinyatakan meninggal dunia.

Hingga Minggu (8/3/2020), Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka NTT, melaporkan jumlah pasien meninggal dunia akibat DBD telah mencapai 13 orang. Angka tersebut terhitung sejak awal tahun. Awalnya, korban meninggal mencapai 11 orang hingga Rabu (4/3/2020). Namun, pada Kamis (5/3/2020) terdapat dua korban meninggal lainnya yang membuat angka kematian DBD di Kabupaten Sikka kian meningkat.

“Jumlah ini jika dibandingkan dengan beberapa hari terakhir mengalami peningkatan, ” kata Plt Kadis Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus.

Jumlah korban yang terus meningkat, membuat pemerintah Kabupaten Sikka memperpanjang status kejadian luar biasa (KLB). Tercatat pula, hingga saat ini pemerintah Kabupaten Sikka sudah empat kali memperpanjang status KLB. “Status KLB DBD tahap empat sudah diperpanjang lagi karena korban akibat DBD semakin meningkat,” tutupnya.

Rupanya, wabah DBD tidak hanya menyerang Nusa Tenggara Timur saja. Pemerintah Kabupaten Bekasi Jawa Barat mencatat setidaknya ada 51 orang terkena DBD. Angka tersebut terhitung sejak Januari hingga Februari 2020.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi Irfan Maulana menyatakan, jumlah pasien DBD bulan Januari mencapai 30 orang. Pada Februari bertambah 21 orang. Kendati begitu, menurutnya tren DBD tahun ini menurun dibanding tahun sebelumnya. “Tren menurun dibandingkan periode sebelumnya,” kata Irfan, Selasa (10/3/2020).

Kota Tangerang Selatan juga terkena wabah DBD. Sejak Januari hingga Maret 2020, tercatat sudah ada 87 warga dirawat di RSU Kota Tangerang Selatan. Dua pasien di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie, memaparkan kasus DBD di Kota Tangerang Selatan mengalami peningkatan jika dibanding dengan tahun sebelumnya.

“Pada Januari ada 29 orang penderita DBD. Maret ini ada 17 penderita, 4 sudah pulang tinggal 13 yang dirawat dan seluruhnya warga Tangsel, ungkap Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie di RSU Kota Tangsel di Jalan Padjajaran, Selasa (10/3/2020).

Bila melihat kejadian ini dan juga wabah virus corona atau COVID-19 yang juga sedang heboh di seluruh dunia, apakah seharusnya kita lebih mengkhawatirkan DBD ketimbang virus corona? Sekretaris Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto, mengatakan kekhawatiran sebenarnya lebih tinggi pada DBD dibandingkan corona.

“Terus terang kalau kita lihat kekhawatiran lebih tinggi pada DBD sebenarnya. Tapi karena kita sekarang sudah melototin COVID-19 terus ya sudahlah kita bicara COVID-19. Tapi saya lihat bahwa DBD ini lebih banyak kematiannya. Kelengahan kita, karena sudah dianggap biasa jadinya lengah,” tutur Yuri. tri, sua, ant