RS Unair Buka Posko Crisis Center Corona

Rumah Sakit (RS) Unair bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mendirikan posko crisis center virus corona.

SURABAYA (global-news.co.id) – Rumah Sakit (RS) Unair bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, mendirikan posko crisis center virus corona sejak Senin (9/3/2020) dan banyak didatangi warga. Jumlah warga yang sudah mendatangi posko tersebut kini jumlahnya 50 orang.

Di hari pertama saja, sudah ada 21 Orang dalam Pemantauan (ODP). Namun angka orang yang memeriksakan diri semakin bertambah. “Belum kita update datanya, kemarin kurang lebih 40-50 dari 2 hari kemarin,” kata salah satu Tim Satgas Corona, dr Alfian Nur Rosyid SpP di RS Unair, Rabu (11/3/2020).

Posko screening pasien ini dilakukan untuk orang-orang yang merasa sakit. Pun orang yang habis bepergian dari luar negeri dan menunjukkan gejala virus corona. “Memeriksakan diri, baik ODP atau sekadar panik,” ujarnya.

Artinya, lanjut Alfian, bisa saja orang tersebut dari negara terjangkit tidak ada keluhan tapi merasa was-was akhirnya memeriksakan diri. “Periksa kesini, screening, diberikan edukasi, perlu melakukan apa di rumah, gitu aja,” katanya.

Adapun orang yang memeriksakan saja tanpa riwayat pergi ke negara terjangkit atau kontak dengan orang asing, hal itu disebabkan karena rasa panik yang dialami. “Tidak ke luar negeri, mungkin perjalanan dalam kota saja tidak ada keluhan karena panik datang kesini kita berikan edukasi,” tuturnya.

Sementara itu, hingga saat ini RS Unair menyebut pasien dalam pemantauan (PDP) virus corona berjumlah dua orang. Pasien dari WNI tersebut kini dirawat di ruang isolasi. Dari informasi yang diterima, dua pasien dalam pemantauan itu masuk sejak Selasa (10/3/2020) malam. “Sekarang yang dirawat PDP. Ada dua pasien yang dirawat di RS Unair,” kata dr Alfian.

Saat ini, jelas dia, RS Unair tengah menunggu hasil test swab corona yang dikirim hari ini ke Jakarta. Hasilnya akan diketahui sepekan lagi. “Nunggu dikirim 7 hari lagi hasilnya. Paling cepat 7 hari, kalau tidak ada kendala,” ujarnya.

Sementara itu dua pasien yang sedang dirawat intensif itu berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Pun sama-sama berusia di atas 50 tahun. Riwayat yang dialami pasien tersebut, satu berasal dari negara terjangkit Jepang dan kedua pernah melakukan kontak dengan orang asing saat di kerumunan Jakarta.

Keluhan kedua pasien sama yakni batuk, pilek, demam dan sesak nafas. Namun setelah dirawat satu hari, keduanya sudah menunjukkan perubahan yang baik. “(Keluhannya) batuk, demam ada berdahak dan sesak, tapi (Kondisinya) sudah membaik,” katanya.

Untuk penanganannya, tambah Alfian, RS Unair melakukan sesuai standart pasien virus corona. Pasien dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Unair. “Dirawat dengan standart pelayanan untuk pasien,” jelasnya.

Dua pasien itu, jelas dia, merupakan WNI. Pasien pertama pernah ke negara terjangkit corona, pasien kedua pernah melakukan kontak dengan orang asing saat di kerumunan Jakarta.

Saat itu, pasien pertama datang sendiri ke crisis center karena merasa ada keluhan demam, batuk dan sesak. Kemudian pihak RS melakukan tindakan selanjutnya. “Merasa ada keluhan dari negara terjangkit, akhirnya ke RS Unair, ke crisis center, kita screening ke IGD,” ujarnya.

Pasien kedua merupakan pasien rujukan dari RS di Kediri. Pasien menyatakan ada keluhan sesak nafas dan batuk-batuk setelah melakukam kontak dengan orang asing di Jakarta yang tak bisa dihindari. “Saat pulang ke Jatim mengeluh demam awalnya, terus ada batuk-baruk segelah dirawat di RS,” katanya. sir, dtk