Pentagon Ingatkan Wabah Corona Bisa Berlangsung Berbulan-bulan

Pentagon mengatakan bahwa wabah virus corona bisa berlangsung selama berbulan-bulan di Amerika Serikat dan militer akan terus mendukung upaya melawannya selama diperlukan.

WASHINGTON (global-news.co.id)  — Wabah virus Corona yang menyebar dengan cepat di Amerika Serikat (AS) membuat sejumlah pemimpin senior Pentagon angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa wabah virus corona bisa berlangsung selama berbulan-bulan dan militer akan terus mendukung upaya melawannya selama diperlukan.

“Saya pikir kita harus membuat rencana terkait dengan wabah ini setidaknya hingga beberapa bulan ke depan dan kita perlu mengambil semua tindakan pencegahan untuk melakukan hal itu,” kata Menteri Pertahanan AS Mark Esper ketika ditanya berapa lama wabah dapat berlangsung dan berapa lama militer akan melanjutkan upaya dukungan untuk menghadapinya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (25/3/2020).

“Saya sepenuhnya yakin bahwa pada akhirnya, dalam periode berbulan-bulan, kita akan melewati ini,” kata Esper.

Pada acara yang sama, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley mengatakan belum diketahui dengan pasti berapa lama wabah ini akan berlangsung. Mengambil model dari pengalaman negara lain, yang mungkin atau tidak berlaku untuk AS, wabah ini diyakini bisa bertahan hingga Juli. “Jika itu berlaku, Anda mungkin melihat akhir Mei, Juni, sesuatu dalam kisaran itu, bisa sampai akhir Juli,” kata Milley.

Sebelumnya, Esper mengumumkan lebih banyak pembatasan keamanan bagi mereka yang memasuki Pentagon. Pentagon telah mengalami penurunan jumlah orang yang mulai bekerja sejak langkah-langkah untuk memerangi wabah dimulai, dengan banyak dari mereka melakukan teleworking.

Esper mengatakan bahwa teleworking itu akan terus dilakukan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Pandemi virus corona telah menewaskan lebih dari 550 orang di AS dan menjangkiti lebih dari 43.800.

Presiden Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa ia sedang mempertimbangkan cara membuka kembali ekonomi AS ketika shutdown selama 15 hari berakhir pada minggu depan, bahkan ketika virus corona yang sangat menular menyebar dengan cepat dan rumah sakit bersiap menghadapi gelombang kematian terkait virus.

Selama akhir pekan, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan penguncian (lockdown) yang memengaruhi segmen besar masyarakat Amerika untuk mencoba mengekang penyebaran virus corona kemungkinan akan berlangsung 10 hingga 12 minggu, atau hingga awal Juni.

AS menghadapi lonjakan kasus virus corona dalam sepekan terakhir. Negara itu berada di posisi ketiga kasus COVID-19 dengan 49.768 penderita, di bawah Tiongkok dan Italia. Sementara dari sisi jumlah korban meninggal, AS di urutan keenam yakni dengan 600 kasus kematian. Para ahli kesehatan mengungkapkan, langkah-langkah lockdown dan social distancing merupakan satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran virus corona.

AS Pusat Wabah

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia W(HO) menyebut AS berpotensi menjadi pusat wabah virus corona yang baru, seiring peningkatan kasus COVID-19 di negara itu.

Juru Bicara WHO Margaret Harris mengatakan, terjadi percepatan infeksi virus corona luar biasa di AS sehingga berpotensi menjadi pusat wabah baru. Menurut dia, dalam 24 jam terakhir, 85 persen dari total kasus terbaru merupakan impor dari Eropa dan 40 persennya merupakan penularan lokal di AS.

“Kami sekarang melihat percepatan sangat besar dalam kasus-kasus di AS. Jadi memang ada potensi. Kami tidak bisa mengatakan itu akan terjadi, tapi ada potensi seperti itu,” ujarnya, dikutip dari Reuters.

Sementara itu Presiden Donald Trump mengakui negaranya mengalami kesulitan dalam menyediakan perangkat kesehatan untuk mencegah penyebaran maupun menanangi para penderita. “Pasar dunia untuk masker dan ventilator menjadi gila. Kami berusaha membantu wilayah untuk mendapatkan peralatan, tapi itu tidak mudah,” ujarnya, dalam cuitan.

Sebelumnya Trump menyebut ada secercah harapan untuk menangani para korban setelah para peneliti di Prancis dan Tiongkok mendapati efektivitas penggunaan obat antimalaria, klorokuin. Dia bahkan menyebut klorokuin sebagai hadiah dari Tuhan.

“Hydroxychloroquine dan Z-Pak, saya kira kombinasi yang sangat, sangat bagus. Ada kemungkinan yang jelas bahwa obat tersebut memiliki dampak luar biasa. Ini akan menjadi hadiah dari Tuhan. Jika berhasil maka obat itu akan menjadi perubah permainan yang besar ini,” ujarnya.

New York hari ini memulai uji klinis terhadap pasien COVID-19 menggunakan hydroxychloroquine yang diminum bersama antibiotik azithromycin, biasa digunakan untuk membersihkan infeksi bakteri sekunder. zis, ine