Komisi B DPRD Surabaya Tolak Pasar Baru Tengah Kota

SURABAYA (global-news.co.id) – Keberadaan pasar baru yang beroperasi di pusat Kota Pahlawan, mendapat sorotan Komisi B DPRD Surabaya. Komisi yang membidangi persoalan perekonomian ini, menilai pasar baru tersebut dapat mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat.

Mahfudz

Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya Mahfudz, mengatakan sudah sangat tidak layak dan harusnya sudah tidak ada pasar baru yang tumbuh di tengah kota. “Apalagi saya dapat info ada pasar berdiri tidak sesuai zonanya,” kata Mahfudz, Rabu (11/3/2020).

Menurut politisi PKB itu, selain keberadaan pasar di tengah kota dapat mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat, juga mengganggu lalu lintas kendaraan dan lalu lintas niaga.

Ia juga menegaskan bila pasar yang ada di Surabaya harus sesuai zonanya, sehingga zona yang bukan untuk pasar tidak boleh difungsikan sebagai pasar. Untuk itu, ia meminta Pemkot Surabaya bersikap tegas dan adil terkait persoalan ini.

Ia mencontohkan bahwa zona pergudangan tidak diperbolehkan atau dialihkan sebagai kawasan niaga seperti pasar. “Jadi itu tidak boleh, harus sesuai peruntukkan,” kata Ketua Garda Bangsa Surabaya ini.

Untuk itu, lanjut dia, Komisi B berencana dalam waktu dekat ini akan inspeksi ke pasar-pasar baru yang tumbuh di tengah Kota Surabaya. “Kita akan melihat secara langsung. Diagendakan inspeksi pada minggu depan,” katanya.

Di sisi lain, Komisi B sebelumnya juga mempersoalkan Pasar Tunjungan yang berlokasi di Jalan Tunjungan yang saat ini kondisinya memprihatinkan karena selain banyak kerusakan, juga sepi dan kumuh, bahkan kini juga telah beralih fungsi menjadi tempat hunian.

Anggota Komisi B John Thamrun mengatakan, pada saat melakukan inspeksi ke Pasar Tunjungan beberapa waktu lalu, pihaknya melihat kerusakan pasar hampir terjadi di semua sudut ruangan, seperti atap jebol, plafon yang hancur dan dinding yang sudah keropos termakan usia.

“Bahkan ada beberapa orang yang tidur di area yang sudah disiapkan untuk rebahan. Ini kan secara tidak langsung menyiratkan jika pasar ini berubah fungsi,” katanya.

Tidak hanya itu, lanjut dia, kondisi ini juga diperparah dengan munculnya banjir di lantai tiga saat musim hujan. Air dari lantai tiga merembes ke lantai satu dan dua melalui dinding-dinding bangunan.

Menurut dia, dari sekitar 200 stan yang ada, saat ini hanya 15 pemilik yang bertahan. Untuk lantai satu kondisinya masih cukup ramai, hanya saja didominasi warung-warung kopi sebagai lokasi jujugan istirahat para pegawai kantor di sekitar.

Sedangkan di lantai dua, kondisinya lebih memprihatinkan lagi, karena hanya ada satu pemilik stan dengan sektor usaha lelang yang bertahan di sana. Ruangan lainnya sudah berantakan dan kotor karena ditinggalkan pemiliknya bertahun-tahun lalu. ara, pur