Bursa Saham RI Jeblok, Investor Diminta Tak Cemas

Penurunan harga saham diperkirakan terjadi akibat sentimen corona, sehingga sifatnya sementara.

BANDUNG (global-news.co.id) — Investor pasar modal diminta tidak cemas dan berlebihan merespons turunnya harga saham, imbas dari penyebaran wabah virus corona (COVID-19). Penurunan harga saham diperkirakan terjadi akibat sentimen corona, sehingga sifatnya sementara.

Kepala IDX Incubator Jawa Barat Achmad Dirgantara mengatakan, masyarakat terutama investor pasar modal tidak perlu cemas akan kondisi saat ini. Turunnya harga saham akibat keluarnya investor asing diperkirakan akibat sentimen negatif dari corona, bukan dipengaruhi faktor fundamental.

“Tapi investor ini sudah belajar, sehingga recovery tidak terlalu panjang. Bahkan recovery bisa lebih cepat. Jadi suatu saat akan naik lagi,” kata Achmad di Kantor IDX Jabar Kota Bandung, Kamis (12/3/2020).

Diakui dia, bursa saham memang cenderung cepat merespons fenomena yang terjadi di skala regional atau global. Sehingga harga saham cenderung naik turun, tergantung faktor yang mempengaruhinya.

Namun dia memastikan, dampak terhadap sektor rill seperti pelaku UMKM tidak akan langsung terasa. Perlu waktu hingga sektor tersebut berdampak. “Beda halnya kalau UMKM itu berhubungan dengan korona. Misalnya dia ekspor atau impor barang seperti masker. Mungkin akan langsung berdampak,” imbuh dia.

Kendati begitu kata dia, BEI telah menyiapkan beberapa skenario untuk menanggulangi sentimen negatif akibat  orona. Seperti melakukan relaksasi, agar pasar saham tetap menjanjikan. Bahkan, dia menyebut, turunnya harga saham mestinya menjadi peluang bagi investor lokal untuk belanja saham.

“Kita belum tahu sampai kapan dampak  orona ini. Tapi berharap tidak terlalu lama. Dan kita bisa meminimalisir, jangan sampai seperti Tiongkok sampai mengganggu aktivitas,” timpal dia.

Sebagai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjelang penutupan hari ini telah jatuh -258,36 poin atau setara -5,01% menjadi 4.895,75. Kejatuhan pasar modal tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga secara global. ejo, sin