Belum Satu Tahun, Pakde Karwo Mundur dari Jabatan Komut SMGR

Mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo atau Pakde Karwo mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama di Semen Indonesia (Persero) Tbk

JAKARTA (global-news.co.id) – Mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo atau Pakde Karwo mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama di Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Hal itu terungkap dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (16/3/2020) petang. Perseroan menyatakan bahwa pengunduran diri Soekarwo telah diterima pada pekan lalu.

“Bersama ini, kami sampaikan bahwa pada tanggal 12 Maret 2020, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. telah menerima surat pengunduran diri Bapak Soekarwo selaku Komisaris Utama perseroan,”tulis manajemen Semen Indonesia dalam keterangan resmi.

Perseroan menyatakan bahwa pengunduran diri Soekarwo akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Namun, perseroan belum menyampaikan kapan RUPS tersebut akan dilaksanakan.

Soekarwo diangkat menjadi Komisaris Utama emiten berkode SMGR tersebut sejak 22 Mei 2019. Kala itu dia masih menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur. Dia kemudian mengundurkan diri dari jabatan politiknya per Agustus 2019. Namun, ternyata Soekarwo hanya menjabat komut kurang dari setahun, tepatnya 10 bulan

Namanya juga tercatat sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) untuk periode 2019 hingga 2024. Dia juga sempat menjadi Staf Khusus Menteri Koordinator Perekonomian pada 2019.

Soekarwo merupakan salah satu tokoh politik di Jawa Timur. Dia pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur selama dua periode, yakni 2009—2014 dan 2014—2019. Kala itu melenggang bersama Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Laba Bersih Turun

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk mencetak penurunan laba bersih sebesar 31,99 persen (year on year) sepanjang 2019.  Berdasarkan publikasi laporan keuangan 2019, perseroan menghasilkan laba bersih senilai Rp 2,31 triliun, turun dibandingkan dengan perolehan laba bersih 2018 sebanyak Rp 3,46 triliun.

Penurunan laba bersih juga membuat laba per saham atau earning per share turun dari Rp 519 pada 2018 menjadi Rp 403 pada 2019. Secara umum, sepanjang tahun lalu, emiten bersandi saham SMGR itu mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 31,35 persen menjadi Rp 40,3 triliun.

Pertumbuhan pendapatan ini dihasilkan dari pengelolaan aset sebesar Rp 79,8 triliun yang naik 57,15 persen secara tahunan. Peningkatan aset ini didorong oleh pertumbuhan aset tidak lancar sebesar 82,02 persen, menjadi Rp 63,14 triliun.

Kenaikan pendapatan juga diiringi dengan kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 29,48 persen menjadi Rp 27,65 triliun. Kenaikan beban pokok yang lebih rendah dari kenaikan pendapatan membuat laba kotor perseroan tumbuh 36,26 persen menjadi Rp 12,71 triliun.

Meski begitu, kenaikan beberapa komponen beban lain membuat laba bersih perseroan pada akhirnya harus terkoreksi. Salah satu beban yang meningkat paling tinggi adalah beban keuangan, menjadi Rp 3,2 triliun. Jumlah ini meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan beban keuangan pada 2018 sebesar Rp 959,25 miliar.

Kenaikan beban bunga ini berkaitan dengan besarnya penggalangan dana pada tahun lalu. Hal ini terlihat dari arus kas untuk aktivitas pendanaan yang tercatat sebesar Rp 10,28 triliun.

Arus kas masuk ini melonjak signifikan jika dibandingkan dengan posisi pada 2018, yakni negatif Rp 1,06 triliun. Pendorong kenaikan arus kas ini adalah peningkatan utang bank jangka panjang, penerimaan dana syirkah temporer, dan penerimaan utang obligasi.

Selain itu, Beban bunga yang meningkat tercermin dari kenaikan liabilitas sebesar 141,71 persen secara tahunan menjadi Rp 43,91 triliun. Kenaikan pada liabilitas jangka panjang sebesar 217,11 persen menjadi Rp 31,67 triliun merupakan salah satu pendorong utamanya. Kenaikan ini disebabkan oleh jumlah pinjaman bank dan utang obligasi yang meningkat signifikan.

Kebutuhan dana jumbo ini tak lain disebabkan oleh besarnya kebutuhan investasi atau belanja modal perseroan untuk akuisisi. Hal ini terlihat dari kenaikan arus kas bersih untuk kegiatan investasi yang meningkat 859,21 persen menjadi Rp 17,16 triliun. Sebanyak Rp 15,45 triliun di antaranya digunakan untuk akuisisi entitas anak.

Sementara itu, arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasional perseroan tercatat meningkat 25,78 persen menjadi Rp 5,6 triliun. Salah satu pendorong kenaikan arus kas bersih tersebut adalah penerimaan pelanggan yang naik menjadi Rp 40,47 triliun. ejo, tri, bis, cnb