Bank Indonesia Diperkirakan Akan Pangkas Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Maret 2020 yang berakhir pada Kamis (19/3/2020) hari ini.

JAKARTA (global-news.co.id) — Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Maret 2020 yang berakhir pada Kamis (19/3/2020) hari ini. Pada RDG bulan sebelumnya, bank sentral memotong suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan suku bunga acuan akan kembali turun 25 bps menjadi 4,5 persen. Hal ini sebagai respons atas mewabahnya virus corona yang menekan perekonomian global maupun domestik. “Pelonggaran kebijakan moneter dapat meminimalkan dampak negatif ke perekonomian,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (18/3/2020).

Selain itu, pemangkasan suku bunga acuan juga sejalan dengan langkah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) yang juga telah menurunkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate menjadi nol persen sampai 0,25 persen. Bahkan, bank sentral negara lain pun telah melakukan langkah serupa untuk menjaga perekonomian dalam negeri dari tekanan pandemi virus corona. “Pemangkasan suku bunga acuan BI (dilakukan) dengan melihat assement suku bunga global,” jelasnya.

Sedangkan dari sisi fiskal, Josua menyebut berbagai kebijakan masih bisa dieksplorasi, sebab Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperpanjang darurat bencana corona hingga 29 Mei 2020. Tekanan ini bisa berdampak lebih besar pada perekonomian khususunya pada kuartal I 2020.

Josua merinci, beberapa bank sentral di kawasan Asia Pasifik juga turut merespons tekanan pandemi virus corona di antaranya bank sentral New Zealand yang memangkas suku bunga acuan 75 bps menjadi 0,25 persen, bank sentral Korea Selatan memangkas suku bunga acuan 50 bps menjadi 0,75 persen, hingga bank sentral Tiongkok yang menyuntikkan likuiditas sebesar 100 miliar yuan ke perekonomiannya.

Sebelumnya Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemangkasan suku bunga (Fed Fund Rates) yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve dapat diikuti oleh Bank Indonesia (BI). Setidaknya BI dapat menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hingga 50 basis poin.

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan penurunan suku bunga acuan yang dilakukan Bank Indonesia bisa dilakukan secara bertahap. Hal ini juga harus sejalan dengan kebijakan fiskal yang akan berjalan pada awal April.

“Perlu turun tapi tidak drastis, secara bertahap Bank Indonesia mengintervensi. Salah satunya dengan membeli SBN karena Capital outflow Maret ini sudah Rp 40 triliun, paling tidak Bank Indonesia harus membeli SBN pemerintah yang di jual oleh asing secara bertahap,” ujarnya.

Jika BI tidak menurunkan suku bunga, Tauhid memperkirakan banyak perusahaan yang merugi akibat tidak adanya insentif. Sehingga, perusahaan tidak bisa membayar cicilan utang.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memprediksi, ekonomi Indonesia pada kuartal pertama ini dapat tumbuh dalam rentang 4,5 sampai 4,9 persen. Proyeksi tersebut lebih lambat dibandingkan realisasi periode yang sama pada tahun lalu, yakni 5,07 persen.

Meski melambat, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, prediksi di bawah lima persen bagi ekonomi Indonesia sebenarnya masih baik di tengah dinamika ekonomi global saat ini. Khususnya di tengah perlambatan ekonomi Tiongkok sebagai ekonomi terbesar dunia yang pasti berdampak pada banyak negara.

“Kalau di Tiongkok sudah negatif, di beberapa negara sudah negatif, tapi kita masih bisa bertahan,” ujarnya dalam konferensi pers melalui live streaming, Rabu (18/3/2020).

Sri menyebutkan, ekonomi global kini sedang mengalami risiko penurunan sangat nyata. Sebelumnya, lembaga International Monetary Fund (IMF) dan Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) memprediksi ekonomi global mampu membaik dibandingkan tahun lalu yang di bawah tiga persen.

Kemudian, OECD menurunkan proyeksinya sebesar 0,5 basis poin menjadi 2,4 persen. Ini dengan asumsi, wabah COVID-19 di Tiongkok hanya berlangsung selama satu kuartal dan tidak menyebar signifikan ke negara lain.

Tapi, apabila outbreak tersebut lebih lama dan intensif di banyak kawasan, pemotongan proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi semakin intensif yakni menjadi 1,5 persen. “Ini penurunan sangat drastis kalau kita lihat di ekonomi dunia, terlemah sejak krisis global 2008-2009,” kata Sri. jef, ins