April Mendatang, BI Optimistis Ekonomi Pulih dari Corona

JAKARTA (global-news.co.id)- Bank Indonesia meramalkan perekonomian dunia, khususnya Indonesia akan menunjukkan penguatan mulai April mendatang. Bank sentral Tanah Air mengunakan model V-shape dalam menggambarkan dampak perekonomian global dan Indonesia di tengah penyebaran virus corona (COVID-19).

Perry Warjiyo

Dari gambaran V-shape tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan pihaknya meyakini tingkatan terendah (bottom) akan terjadi pada Februari dan Maret. “Perkiraan kami mulai April sudah ada kenaikan,” ungkap Perry, Rabu (4/3/2020).

Pemulihan ini, menurut Perry, akan terjadi secara global. Namun, intensitasnya cenderung lebih kuat di Asia karena suhu di kawasan mulai memanas ketika memasuki musim semi.

Selain itu, BI melihat dampak wabah virus corona di Tiongkok yang menjadi pusat epidemi sudah melewati titik puncaknya. Artinya, roda perekonomian Negeri Tirai Bambu tersebut mulai bergerak, setelah ‘mati suri’ karena wabah corona sejak awal Januari lalu. “Kegiatan di pelabuhan itu sudah mulai meningkat, memang belum akan pulih tapi meningkat,” kata Perry.

Indikasi lainnya adalah peningkatan trafik kendaraan dan penggunaan batu bara serta tingkat polusi di Tiongkok mulai meningkat. Perry memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2019 akan sedikit melemah ke kisaran 4.9%. Namun, dia yakin pertumbuhan tersebut akan berangsur-angsur pulih pada kuartal kedua dan selanjutnya seiring dengan redanya krisis virus corona.

Perry juga menyebutkan importir Indonesia mengaku stok bahan baku produksi aman untuk dua sampai tiga bulan ke depan di tengah hambatan perdagangan internasional karena wabah virus corona. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI) terhadap sejumlah perusahaan – baik importir dan eksportir – yang berdagang dengan Tiongkok. Survei dilakukan pada Februari lalu.

“Kami cek ke perusahaan-perusahaan, para importir masih punya stok dua hingga tiga bulan untuk bahan baku,” ujarnya.

Kendati memiliki bahan baku, dia mengungkapkan perusahaan-perusahaan yang disurvei saat itu mulai merasakan kesulitan untuk mengekspor produknya. “Kesulitan untuk mengekspor karena perusahaan di sana (Tiongkok) masih tutup,” ungkap Perry.

BI berjanji akan terus memperhatikan perkembangan lebih lanjut terkait dengan global supply chain atau rantai pasok global. Lebih lanjut, Perry melihat kegiatan ekspor Tiongkok melibatkan lebih dari 20 negara. Ketika ekspor Tiongkok terhambat, kebutuhan impor negara lain akan tertanggu.

Dalam hal ini, India menjadi salah satu negara yang dapat menggantikan posisi Tiongkok sebagai penyuplai. “Jadi ini ada spillovers positif ke berbagai negara,” ujar Perry.

Sisi negatifnya, Perry mengkhawatirkan hambatan kegiatan impor sehingga dia berharap kebijakan untuk memfasilitasi kegiatan perdagangan internasional terus didorong. “Ini assesment yang kita lihat secara keseluruhan,” ungkapnya. jef, bis