Wagub Jatim Dorong PERGUNU Jadi Motor Penggerak KBM Berbasis Teknologi Informasi

Wagub Emil Elestianto Dardak saat membuka Sarasehan Pendidikan Nasional dan Peresmian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PERGUNU di Institut KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto, Jumat (28/2/2020) malam.

MOJOKERTO (global-news.co.id) — Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong para guru, khususnya yang tergabung dalam Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) untuk menjadi motor penggerak kegiatan belajar mengajar (KBM) yang berbasis teknologi informasi atau TI. Sehingga, KBM bisa berjalan secara lebih produktif, dan mendukung aktivitas murid dalam belajar mandiri atau independent learning.

“Dengan adanya teknologi yang semakin murah dan mudah untuk digunakan, seyogyanya, PERGUNU juga bisa menjadi salah satu motor penggerak untuk belajar berbasis teknologi. Artinya menggunakan TI untuk membuat anak didik kita semakin pintar,kata Wagub Emil-sapaan akrabnya saat membuka Sarasehan Pendidikan Nasional dan Peresmian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PERGUNU di Institut KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto, Jumat (28/2/2020) malam.

Wagub Emil mengatakan, di era sekarang dan ke depan yang serba TI, guru bukan hanya bertugas memberikan ilmu pengetahuan saja, sebab tidak tertutup kemungkinan jika murid bisa lebih pintar dari gurunya. Artinya, guru tidak harus lebih pintar dari muridnya, tapi guru harus lebih bijaksana dari muridnya, sekaligus juga mengikuti perkembangan kemajuan TI dalam KBM di sekolah.

“Misalnya, rajin untuk browsing di internet mencari referensi baru, supaya kalau di kelas bisa memberikan contoh-contoh yang bukan hanya mengutip dari buku, tapi juga bisa memberikan ilustrasi yang sesuai dengan era sekarang. Atau, mencari video-video pendidikan yang menarik, untuk diputar di kelas sehingga anak-anak tidak bosan,” katanya.

Orang nomor dua di Jatim ini menegaskan, mengikuti perkembangan TI ini sangat penting, sebab di era sekarang, guru memiliki saingan yang cukup berat, yaitu google. Dicontohkannya, dalam pelajaran sejarah misalnya, jika guru menjelaskan sejarah di kelas, bisa saja murid-murid akan browsing di internet dan mencari tahu kebenaran sejarah tersebut.

“Nah, setelah di cek di google, kemudian hasilnya ada lima pendapat dari orang yang berbeda tentang isu yang sama terkait sejarah tersebut. Dan, seluruhnya juga sudah ada referensinya. Di sinilah guru harus lebih bijak dari muridnya, dengan mendukung independent learning,” ujarnya.

Independent learning ini, imbuh pria yang pernah menjabat sebagai Bupati Kab Trenggalek tersebut, merupakan cita-cita kita bersama. Mengutip dari peraih nobel bernama Amartya Sen, yang mengatakan bahwa kesejahteraan seseorang bisa dicapai melalui kemerdekaan alias freedom. Baik freedom untuk belajar, bekerja, dan meraih kesejahteraan.

“Artinya, kalau misalnya kita bisa memerdekakan anak didik untuk bisa belajar secara mandiri..  karena belajar tidak berhenti pada ijazah sekolah, tetapi setelah lulus pasti mereka bisa belajar sendiri, seperti belajar dari kehidupan. harus mau belajar dari siapapun yang lebih rendah tingkat pendidikannya, yang lebih tinggi apalagi, yang tua maupun muda, kaya maupun miskin, semua adalah guru bagi kita,” pungkasnya.

Hadir dalam kesempatan ini, pimpinan Ponpes Ammanatul Ummah KH Asep, Kakanwil Kemenag Jatim, dan para anggota PERGUNU, serta mahasiswa-mahasiswi Institut KH. Abdul Chalim. sir