Virus Corona COVID-19 Makin Meluas dan Jadi Pandemi, 39 Negara Terjangkit

 

Virus Corona COVID-19 menyebar ke benua Eropa. Italia mengonfirmasi ada sekitar 260 orang terinfeksi, puluhan orang  dilaporkan meninggal. Hal ini membuat Italia menjadi negara dengan wabah COVID-19 terbesar di Eropa.

Dunia mulai khawatir. Penyebaran virus Corona COVID-19 makin meluas di luar negara Tiongkok. Baru-baru ini, virus corona baru telah terdeteksi di Italia dan Iran. Saat ini sudah ada 39 negara yang melaporkan kasus virus corona. Mungkinkah hal ini bisa disebut mendekati kategori pandemi?

 

Pandemi adalah penyakit yang menyebar di banyak negara di seluruh dunia secara bersamaan. “Saya pikir banyak orang akan menganggap situasi saat ini sebagai pandemi, kami memiliki transmisi yang sedang berlangsung di berbagai wilayah di dunia,” kata Prof Jimmy Whitworth dari London School of Hygiene dan Tropical Medicine.

Mengutip BBC Rabu (26/2/2020) beberapa ilmuwan bahkan berargumen bahwa ini telah memasuki tahap paling awal dari pandemi. Perkembangan kasus corona di Korea Selatan, Italia, dan Iran juga menjadi alasan mengapa orang menilai wabah virus corona sebagai pandemi.

Prof Devi Sridhar dari University of Edinburgh, menjelaskan perspektifnya terkait corona yang berpotensi dikategorikan pandemi. “Ini sebagian besar merupakan keadaan darurat Tiongkok, sekarang kami melihatnya sedang mengembangkannya, Korea Selatan, Jepang, Iran, dan sekarang Italia. Itu adalah virus yang sangat menular dan menyebar dengan sangat cepat,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan kematian karena virus corona ini hanya membunuh sebagian kecil orang yang terinfeksi, dan butuh waktu berminggu-minggu untuk melihat atau mendeteksi infeksi yang akhirnya menjadi kematian. “Ini menunjukkan sejumlah besar orang dengan gejala minimal, atau yang tidak menunjukkan gejala, yang tidak sedang diuji atau bahkan sedang diidentifikasi. Siapa yang tahu sudah berapa lama ia terinfeksi?” ungkapnya.

Setelah Italia, benua Eropa kembali melaporkan kasus corona baru. Swiss melaporkan kasus pertama COVID-19. Kasus pertama ini dijelaskan Federal Office of Public Health, (25/2/2020).

Departemen Kesehatan setempat belum mengumumkan rincian lebih lanjut terkait di mana kasus pertama tersebut terdeteksi. Namun, salah satu media Swiss, RTS, mengatakan pihak berwenang di Ticino, di perbatasan ke Italia, telah mengonfirmasi kasus itu terjadi di wilayah mereka.

Sebelumnya di Italia sudah ada sekitar 260 orang terinfeksi COVID-19, beberapa di antaranya meninggal. Hal ini membuat Italia  menjadi negara dengan wabah COVID-19 terbesar di Eropa.

Mengutip Mothership, Kanton Ticino di Swiss Selatan telah menerapkan langkah-langkah baru untuk menghindari semakin luasnya penyebaran virus corona baru.

Menteri Kesehatan Swiss mengatakan, bahwa situasi di Italia sedang dipantau dan langkah-langkah yang direncanakan telah dikembangkan selama beberapa minggu.

Seorang juru bicara Kantor Federal Kesehatan Masyarakat Swiss mengatakan kepada media lokal bahwa mereka khawatir tentang wabah di negara tetangga Italia. Mereka mengatakan penyebaran virus ini harus dikendalikan dengan segala cara. “Kami memantau situasi dari jam ke jam dan siap untuk melindungi masyarakat,” ujarnya.

Meski begitu saat ini Swiss disebut belum menerapkan pembatasan perjalanan seperti yang dilakukan di negara lain. Swiss menilai hal tersebut tidaklah efektif.

Sementara itu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) mengonfirmasi, kasus virus corona di Korea Selatan sudah mencapai 1.100 hingga Rabu (26/2/2020). Dikutip dari Yonhap News Agency, pasien kasus COVID-19 ini menyebar di beberapa daerah di Korea Selatan, di antaranya Daegu, Gyeongsang Utara, Cheongdo, dan Busan. Sekitar 80 persen jumlah kasus diduga berasal dari dua kelompok yang terhubung dengan Gereja Shincheonji, Daegu dan sebuah rumah sakit yang ada di Cheongdo.

Dengan adanya lonjakan kasus, KCDC memperkirakan ini akan terus meningkat di hari mendatang. Hal ini mendorong Badan Kesehatan Korea untuk melakukan tes uji para anggota Gereja Shincheonji, yang disebut sebagai salah satu pusat penyebarannya.

Hal ini membuat semua kegiatan masyarakat lumpuh dan harus mengerjakannya di rumah. Bahkan, virus ini sudah mencapai kota besar lainnya, yaitu Seoul.

Seorang profesor kedokteran pencegahan di Cha University Graduate School of Medicine mengatakan, virus corona baru ini penyebarannya jauh lebih cepat dibandingkan wabah flu lain, termasuk H1N1. “Itu (virus corona) cepat menyebar, meskipun transisinya tidak terlihat,” katanya.

Akibat tingginya kasus corona ini pihak Korea Selatan akhirnya menaikkan status dari level ‘siaga’ menjadi ‘gawat’. Ini disampaikan langsung oleh Presiden Korea Selatan Moon Jae-In pada pertemuan pemerintah soal virus tersebut. “Pemerintah menaikkan level kewaspadaan dari ‘siaga’ ke ‘gawat’. Itu sesuai dengan rekomendasi dari para ahli dan juga untuk memperkuat sistem respons kami terhadap virus tersebut,” kata Moon yang dikutip dari Channel News Asia.

Tak hanya itu, Presiden Moon juga mendesak pemerintah untuk tegas dan tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan dalam mengatasi wabah tersebut. Ini juga dilakukan sejak terjadinya peningkatan pesat jumlah pasien dalam kasus beberapa waktu lalu di Kota Daegu. Peningkatan status ini juga memungkinkan pemerintah, untuk mengirim lebih banyak sumber daya tambahan ke Kota Daegu dan Cheongdo. Kedua daerah tersebut dijadikan sebagai ‘zona perawatan khusus’ atau area karantina bagi para suspek. tri, dtc, ins