Raja’e Berharap Penyuluh Agama Bermitra dengan Kiai Jawab Persoalan Umat

Raja’e serahkan SK Penyuluh Agama Islam Non PNS.

PAMEKASAN (global-news.co.id) – Wakil Bupati Pamekasan Raja’e menegaskan perhatian pemerintah pada penyuluh agama Islam Non PNS sekarang sangat bagus dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Karena itu dia meminta agar para penyuluh agama non PNS itu bekerja serius dan profesional untuk melayani dan memperbaiki umat.

Raja’e mengungkapkan itu saat memberi sambutan dalam acara pembinaan dan penyerahan SK Penyuluh Agama Islam Non PNS masa bhakti 2020-2024, yang digelar Kemenag Pamekasan, di Mandhepa Agung Ronggosukowati Pamekasan, Rabu (12/2/2020). Ada 104 orang penyuluh dari 13 kecamatan di Pamekasan yang mendapatkan SK pada acara tersebut.

Raja’e yang mengaku juga pernah menjadi penyuluh Agama Islam Non PNS itu menceritakan bahwa tahun sebelumnya tidak ada acara penyerahan dan pembinaan formal pada penyuluh agama. Pembinaannya hanya dengan cara dipanggil oleh Kepala KUA diberi pandangan, diberi wejangan apa yang mesti dilakukan.

“Akan tetapi hari ini SK-nya diserahkan secara formal, dan ada pembinaan secara masal, ini luar biasa. Selamat untuk para penyuluh yang berbahagia. Ini harus dijawab dengan kerja yang serius, tidak hanya ingin mendapatkan label atau ingin identitas sebagai penyuluh. Tidak seperti itu, “ pintanya.

Dia menegaskan ada tanggung jawab besar dari negara pada penyuluh agama. Menurut dia ada sejumlah tugas utama dari penyuluh agama Islam. Yang pertama adalah penyuluh agama Islam itu adalah tempat masyarakat menerima informasi keagamaan, guna menanyakan masalah keagamaan.

“Jadi jangan sampai penyuluh agama tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Biasanya kalau orang banyak bertanya pada para kiai, para ustad tentang persoalan keagamaan. Tetapi kedepan para penyuluh ini punya tanggung jawa moral, sudah dipercaya oleh negara, nanti ada orang bertanya tentang persoalan nifas, hadast, persoalan haid itu misalnya yang kecil, anda harus bisa jawab,” tandasnya.

Dia era modern ini yang serba konflik, kata Raja’e, persoalan keagamaan akan banyak muncul di tengah masyarakat, dan ini mesti dan wajib dijawab oleh seluruh para penyuluh agama dengan bijaksana. Tentunya dangan kaidah dan cara yang telah diatur oleh agama Islam.

Tugas yang kedua, lanjut Raja’e, kalau biasanya selama ini di Madura penyuluh agama itu ada pada kiai, maka bagaimana kedepan penyuluh agama ini bisa berkolaborasi dengan para kiai atau para sesepuh para ustad. Dia yakin para penyuluh akan bisa karena dia melihat banyak dari para penyuluh itu yang sudah bertitel kiai.

Yang ketiga terkait dengan dinamika kelompok atau aliran di masyarakat. Menghadapi itu para penyuluh diminta harus memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni untuk menjawab perdebatan antara kelompok tersebut. Artinya, kata dia, para penyuluh harus menguasai banyak referensi keagamaan khususnya faham ahlussunah waljamaah.

Oleh karena itu dia berharap para penyuluh harus terus belajar. Kitab-kitab klasik itu dibuka kembali untuk menjawab persoalan keagaman yang terjadi di masyarakat. Dia juga mengharapkan nantinya ada bangunan kerjasama antara penyuluh agama Islam atau Kemenag secara umum dengan Pemkab Pamekasan. Banyak program keagamaan yang disiapkan Pemkab pada tahun 2020 ini antara lain Pamekasan bersolawat yang akan digelar di tiap kecamatan. (mas)