Puluhan Babi Mati Mendadak di Buleleng, Penyebabnya Masih Misterius

Masyarakat resah terhadap pembuangan bangkai yang sembarangan di Medan. 

SINGARAJA (global-news.co.id) – Babi yang berada di peternakan Buleleng, tepatnya di Desa Bungkulan Kecamatan Sawan Bali mati mendadak. Kematian babi di Pulau Dewata bukan kali pertama.

Sepekan terakhir, total terdapat 29 babi milik peternak ditemukan mati. Kerugian yang harus ditanggung peternak mencapai puluhan juta rupiah.

Seorang peternak, Nyoman Aria Suta, menuturkan sejak satu minggu terakhir, babi jenis Saddle Back peliharaannya mati mendadak. Kejadian pertama, ada 5 ekor induk disusul 2 ekor babi dewasa.

Ia mengaku sempat mendatangkan dokter hewan agar ternak peliharaannya bisa diobati. Namun, tak berselang lama, 14 ekor anak babi yang berumur 4 hari juga mati. “Awalnya induknya mati. Setelah saya cari dokter hewan, babi lainnya ikut mati. Semuanya sudah saya kubur dan tidak tahu penyebabnya apa,” katanya, Selasa (11/2/2020)

Senada diungkapkan peternak, Nyoman Trisna Heriawan. Tiga ekor babi dewasa miliknya mati mendadak. Babi dengan berat rata-rata 100 kilogram tersebut menyebabkan dirinya merugi Rp 7 juta. “Awalnya tidak mau makan, padahal sudah dikasih pakan hijauan dari kangkung dicampur dedak. Pakan dari limbah tidak pernah kami berikan,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Made Sumiarta, mengatakan kematian babi belum dipastikan karena virus African Swine Fever (ASF). Penyebab kematian masih menunggu uji lab Balai Besar Veteriner Denpasar. “Hanya uji lab yang bisa memastikan,” katanya.

Bangkai Babi Medan

Di Medan juga dilaporkan sedikitnya 46.600 babi ternak mati akibat wabah Hog Cholera atau kolera babi dan African Swine Fever (ASF) sejak September 2019 silam hingga saat ini.

Sebagian babi ternak yang mati itu sempat meresahkan masyarakat. Hal itu karena para peternak membuang bangkai babi sembarangan ke sungai, danau dan jalan umum.

Bau menyengat dari bangkai babi dikeluhkan masyarakat yang tinggal di dekat lokasi bangkai babi yang dibuang. Pihak kepolisian juga telah beberapa kali mengamankan oknum-oknum peternak dan kurir yang membuang bangkai babi sembarangan.

Terkait kematian babi akibat virus tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemprov Sumatera Utara (Sumut) Alwi Mujahit Hasibuan memberikan penjelasan bahwa virus kolera babi tidak menular ke manusia. “Sampai sekarang tidak ada bukti virus kolera babi menular ke manusia. Kalau ada dugaan muncul pasti tidak ada bukti,” terang Alwi.

Dia menerangkan, virus kolera babi dan ASF hanya menular ke hewan ternak babi saja melalui udara. Sedangkan kekhawatiran masyarakat terhadap babi mati akibat virus itu karena kasus pembuangan bangkai yang sembarangan. “Masyarakat khawatir bangkai babi dibuang sembarangan karena mencemari lingkungan sekitar,” terangnya.

Dia menerangkan, dampak pencemaran lingkungan akibat bangkai babi bisa mengganggu kesehatan manusia yang terdampak.

“Kalau air tercemar (akibat bangkai di buang ke sungai dan danau) tentu bisa mempengaruhi kesehatan yang terdampak. Lalu bau bangkai juga mengganggu. Tapi kalau untuk virus kolera babi tidak menular ke masyarakat,” pungkas Alwi.

Hingga kini terdata sebanyak 46.600 kasus babi ternak mati di 18 kabupaten dan kota yakni Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Langkat, Batubara, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Simalungun, Karo, Pakpak Bharat, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Humbang Hasundutan, Samosir, Toba Samosir, dan Dairi. blp, okz, ins