Proyek Flyover JLLB Dikebut, DPRD – Pemkot Siapkan Nama Jalan Baru

 

 

Tampak bangunan flyover JLLB di Surabaya Barat.

SURABAYA (global-news.co.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan terus mengebut pekerjaan proyek jembatan layang (flyover) Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB). Bahkan, proyek yang berada di wilayah Surabaya barat ini, diprediksi rampung di tahun 2020. Sehingga, nantinya JLLB ini akan tembus menuju Jalan Tol Surabaya – Gresik.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan, pihaknya memastikan bakal mengebut pekerjaan proyek JLLB tersebut. Bahkan, ia berharap, proyek pengurai kemacetan di wilayah Surabaya barat ini bisa rampung di tahun 2020.

“Proyek JLLB ini harus selesai tahun ini (2020), nanti proyek JLLB ini bisa langsung ke Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) dan juga tembus langsung ke Jalan Tol,” kata Risma, Rabu (12/2/2020).

Risma menjelaskan, JLLB ini bukan seperti Jalan Tol, sehingga kendaraan seperti sepeda motor, juga bisa lewat di sini. Namun begitu, pihaknya akan menyelesaikan dahulu proyek Box Culvert yang berada di Jalan Raya Sememi, agar kendaraan bisa naik ke flyover JLLB.

“Box Culvert ini akan diselesaikan dulu, biar nanti kendaraan bisa naik ke JLLB. Selain bisa ke stadion GBT (Gelora Bung Tomo), flyover JLLB ini nanti bisa langsung ke Jalan Tol,” ujarnya.

Flyover JLLB ini memiliki dua jalur dengan panjang sekitar 3,5 kilometer. Menariknya, flyover JLLB ini dapat tembus menuju Stadion GBT, Jalan Tol Surabaya – Gresik dan Kawasan Citra Land. Sedangkan untuk anggarannya, mencapai Rp 132 miliar, murni menggunakan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kota Surabaya.

Menurut Risma, jalan JLLB ini bertujuan untuk mengurai konsentrasi kemacetan yang berada di jalur lingkar luar dalam (Unesa, Pakuwon Trade Center). Dengan adanya jalan ini, diharapkan ke depan, keramaian yang berada di kawasan Surabaya Barat bisa terpecahkan.

“Karena itu kenapa kita buka yang lingkar luar dalam sama JLLB, supaya terpecahkan konsentrasi dari keramaian. Karena kalau tidak, itu akan konsentrasi di tempat-tempat itu,” imbuhnya.

Apalagi, lambat laun jumlah kendaraan di Surabaya terus bertambah. Seperti jumlah volume kendaraan yang melewati Jalan Middle East Ring Road (MERR). Oleh karenanya, pihaknya juga membuka kawasan di Surabaya Timur agar konsentrasi persebaran bisa merata.

“Supaya persebaran itu tidak ada daerah tertinggal di Surabaya. Karena itu juga untuk memancing investasi. Kalau tidak nanti kumpulnya di situ saja,” terangnya.

Di tempat terpisah, Panitia Khusus (Pansus) Pemberian dan Perubahan Nama Jalan DPRD Surabaya menyarankan, agar pemberian nama jalan baru di kawasan JLLB disiapkan menyusul proyek JLLB akan tuntas Tahun 2020 ini. “Kalau kita baca berita bahwa JLLB tuntas tahun ini, maka nama juga harus disiapkan,” kata Ketua Pansus Pemberian dan Perubahan Nama Jalan DPRD Kota Surabaya Khusnul Khotimah, Rabu (12/2/2020).

Menurut dia, pansus telah melakukan kunjungan lapangan berkaitan dengan perubahan nama jalan yang diusulkan oleh Pemerintah Kota Surabaya, beberapa hari lalu. Saat itu pansus mengunjungi dua wilayah, yakni di daerah pertigaan Karangpilang sampai ke PTC dan Bung Tomo.

Hanya saja, lanjut dia, setiba di lokasi pertigaan Wiyung, Karangpilang, ke arah PTC dan baru menelusuri hampir 1 kilometer terlihat mendung gelap sehingga pansus mampir di kecamatan Wiyung bertemu dengan Camat Wiyung, Lurah Babatan, Lurah Jajar Tunggal dan Dinas Cipta Karya.

“Kami diskusi di sana. Di dalam diskusi, ada beberapa hal untuk memperkuat. Pertama, memastikan bagaimana sosialisasinya. Mereka menjawab sosialisasinya sudah dilakukan,” ujar Ketua Komisi D DPRD Surabaya ini.

Ditanya program rencana perubahan nama jalan yang bisa berimbas terhadap data admistrasi kependudukan dan bagaimana cara penanganannya, Khusnul mengatakan, pihaknya akan menjadwalkan kembali untuk rapat dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya. pur