Kepincut Guru Senam

KALAU pria sudah punya kedudukan dan punya harta, tak sedikit langkah selanjutnya, bertingkah. Apalagi kalau bukan yang terkait dengan asmara.

Mencari daun muda yang aduhai biasanya menjadi pilihan kelompok-kelompok mapan ini. Seperti halnya yang dilakukan Santana, yang dalam 8 tahun terakhir terus dikelilingi wanita cantik. Salah satunya guru senam yang membuatnya yang menjadi “bidadarinya”.

“Apa saja yang dibicarakan sampeyan dengan Pak Santana tadi saat jalan pagi,” kata Mat Tadji kepada Sudarno seusai keduanya jalan sehat di Taman Wisma.

“Besok saja ya tak ceritakan. Saya pagi ini harus cepat-cepat mengantar istri ke luar untuk suatu keperluan. Pokoknya ceritanya seru. Seru sekali. Ternyata Santana itu play boy polll,” kata Sudarno sembari berjalan ke gang 2, sementara rumah Mat Tadji di gang 3.

“Apah pole reyah caretanah. Mak soal bebinik terros ( Apalagi ceritanya ini. Kok soal perempuan terus, Madura Red). Ya lelaki. Kalau sudah jaya lupa diri. Ya lelaki, kalau sudah gak punya apa-apa, akhirnya sadar diri. Ya…inilah lelaki, meski tak semua lelaki begitu,” guman Mat Tadji sambil membuka pintu rumah.

“Kok lama lari paginya. Adek pingin dibelikan pecel,” kata Dindot putri bungsu Mat Tadji.

Sementara Mat Tadji mengatakan, “siap perintah,” katanya sambil tangannya memberikan hormat diselingi ketawa kecil.

Sambil berangkat membeli pecel, Mat Tadji bertanya-tanya ada apa dengan Santana. “Aku tak sabar menunggu hari besok. Ingin mendengar cerita Sudarno soal Santana,” kata Mat Tadji dalam hatinya.

Keesokan harinya hari yang dinanti telah tiba. Mat Tadji sudah siap-siap mengambil langkah jalan paginya untuk berdua dengan Sudarno yang mempunyai janji untuk bercerita soal Santana. “Hayo mana janji sampeyan. Katanya mau cerita Santana,” kata Mat Tadji.

“Oke bosss,” kata Sudarno.

“Begini. Singkatnya saja ya. Si Santana itu sekarang kan sudah sakit-sakitan. Terutama gulanya yang tinggi. Ada borok yang tak sembuh-sembuh di kakinya. Kemarin, dia bercerita, mengenang masala lalu. Dia katanya, ingin tobat. Sudah banyak dosa. Baik kepada Pencipta-Nya, maupun pada istrinya,” kata Sudarno.

Lalu Sudarno bercerita bahwasannya Santana dulunya kaya. Karena harta yang dinilai “berlebih” itulah, lalu Santana “bertingkah”. Dia kepincut guru senam yang bahenol. Mirna (samaran), namanya. Cantik. Putih. Tinggi. Bahenol lagi. Namanya saja guru senam, pasti merawat tubuhnya. Ditambah lagi umurnya yang berselisih 18 tahun dengan Santana membuat Santana mabuk kepayang. Sementara Santana kini berumur 59 tahun.

“Angak hooo,” sahut Mat Tadji terkekeh.
Santana yang benar-benar kesemsem, akhirnya “lupa diri”. Apa pun persyaratan yang diminta agar memiliki si Mirna (guru senam), dia penuhi. Setelah menikah sirih (tanpa pengetahuan istrinya), 7 tahun lalu, Santana membelikan rumah seharga Rp 200 juta (2013). Mobil Honda Jazz. Perhiasan. Uang bulanan disepakati Rp 3.000.000/bulan. “Pokoke sing wedhok uenak poll,” kata Sudarno.

“Jadi Santana uenak juga ya Pak Sudarno. Dapat guru senam yang bahenol. Sintal. Padat. Berisi. Apalagi ya….Iri aku heee. Terus, terus bagimana lagi ceritanya,” celetuk Mat Tadji.

Desember lalu (2016), Santana “ditendang” dari pekerjaannya. Banyak alasannya mengapa hal itu terjadi. Perusahaan dimana Santana bekerja mengalami penurunan usaha, sehingga Santana pun “masuk kotak”. Dampak selanjutnya, pendapatan Santana pun berkurang. Sebelumnya dia bertugas bagian luar. Di sisi lain, penyakit jantung hingga diabetesnya terus menggrogotinya. Ini juga butuh biaya yang tak sedikit, sehingga “jatah” untuk Mirna pun turun drastis. Ini yang membuat Mirna uring-uringan. Minta dicerai.

“Dia mencintai harta Santana. Bukan ragat Santana. Ya inilah jadinya. Lain lagi dengan istri pertamanya yang mencintai karena dasarnya hati. Ya…abang kaya disayang, abang sengsara ditendang. Anchor pessenah tellor,” kata Mat Tadji.

Sekarang, Santana tinggal meratapi nasibnya. Masa muda berfoya-foya, plus selimut hangat guru senam yang bahenol dan sejumlah perempuan lainnya, kini masa tua Santana dihadapkan pada banyaknya biaya pengobatan di tengah pendapatan yang menurun. Inilah, siklus kehidupan.

Kadang kita tertawa, besok bersedih. Kadang kita berhamburan uang, besok kita mencarinya dengan belum tentu terpenuhi seperti yang kita inginkan. Semuanya tidak ada yang tahu. Semua berputar sesuai kehendak-Nya.

Lalu bagaimana dengan istri tuanya? Tentang ini, Sudarno mengatakan, belakangan istri tuanya mengetahui kelakuan Santana. Apalagi kalau bukan setelah membuka WA Santana. Dari WA itu semuanya terbongkar. Hanya saja, istri Santana yang guru itu bisa menerimanya bahwa hal itu sebagai cobaan, tetapi dengan syarat Santana berhenti main wanita.

“Ya memang harus berhenti. Bagaimana tak berhenti, wong sudah sakit diabetes tinggi. Ininya mungkin saja sudah tak berdiri. Tompesss mon deiyyeh (mati kalau begini, Madura Red),” kata Mat Tadji terkekeh kekeh sambil meluruskan jari telunjukkan (berdiri).

“Kwakkkkkkk. Onok-onok ae awakmu iku,” Sudarno juga terpingkal-pingkal.
“Wis yo. Kita sudah muteri taman sudah 52 menit. Cukuplah jalan pagi hari ini. Kita ketemu besok lagi,” kata Sudarno sambil berlalu.

“Ya inilah hidup. Bermacam-macam ceritanya. Kalau cerita laki-laki, lebih memang tak jauh dari soal perempuan. Itu dari zaman dulu. Pembunuhan manusia pertama pun, juga karena perempuan. Dimana dua putera Nabi Adam, Qobil dan Habil bertarung untuk memperebutkan perempuan (puteri Nabi Adam),” guman Mat Tadji sambil berjalan menuju rumahnya.(*)