Jumlah Korban Meninggal akibat Virus Corona di Tiongkok Tembus 1.523 Orang

Jumlah korban meninggal akibat virus corona atau Covid-19 di Tiongkok sudah menembus 1.500 orang lebih hingga Sabtu (15/2/2020).

BEIJING (global-news.co.id)  – Jumlah korban meninggal akibat virus corona atau Covid-19 di Tiongkok sudah menembus 1.500 orang hingga Sabtu (15/2/2020).

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok seperti dikutip dari AFP, menyebut ada 143 kasus kematian baru sehingga totalnya menjadi 1.523 orang. Dari total korban meninggal terbaru, sebanyak 139 berasal dari Hubei, pusat epidemi virus corona dan empat kasus dari provinsi lain. Lebih dari 66.000 orang kini telah terinfeksi di Tiongkok dari penyakit yang muncul di ibukota Hubei, Wuhan pada Desember dan menyebar ke seluruh negeri sebulan kemudian. Jumlah korban terinfeksi Covid-19 di Tiongkok membengkak setelah otoritas kesehatan Hubei mengubah standar atau kriteria penderita.

Pada hari pertama penerapan standar ini, yakni pada Rabu, ada penambahan hampir 15.000 penderita virus corona yang baru atau melonjak tiga kali lipat lebih, sebagaimana terungkap dalam data yang dirilis Kamis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, jumlah penambahan kasus akan kembali normal setelah itu. Ada lebih dari 4.800 kasus virus corona yang dilaporkan di Hubei pada Jumat dan 2.420 pada Sabtu atau turun sekitar 100 persen. Penurunan jumlah kasus juga terjadi di luar Hubei dengan hanya 221 orang yang terinfeksi berdasarkan data Sabtu.

Sebelumnya Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mengungkap enam pekerja medis, termasuk dokter, meninggal akibat virus corona sejak wabah ini terjadi pada akhir Desember 2019. Mereka terinfeksi dari pasien yang ditangani.

Pejabat Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok Zeng Yixin seperti dikutip dari AFP, Jumat (14/2/2020) mengatakan 1.716 pekerja medis lainnya dinyatakan positif terinfeksi, mayoritas perawat. Dari jumlah itu, lanjut Zeng, sebanyak 1.102 bertugas di Kota Wuhan, kota pusat epidemi dan 400 lainnya terinfeksi di kota lain masih di Provinsi Hubei.

Salah seorang pekerja medis yang meninggal adalah dokter yang pertama kali memperingatkan ancaman virus ini pada akhir Desember yakni Li Wenliang. Dia meninggal pada 7 Februari 2020 setelah dinyatakan positif terinfeksi 6 hari sebelumnya.

Nama Li menjadi perhatian nasional setelah Pengadilan Tinggi Tiongkok pada 28 Januari 2019 mengkritik kepolisian Wuhan yang memproses Li dan delapan orang lainnya karena menyebarkan rumor tentang virus mirip SARS.

Semua berawal pada 30 Desember 2019, Li mengirim pesan melalui grup WeChat alumni sekolah kedokteran memperingatkan bahwa departemen Oftalmologi Rumah Sakit Pusat Wuhan, tempatnya bekerja, mendapati tujuh pasien yang didiagnosis mengalami gejala seperti sindrom pernapasan akut SARS yang pernah menghantui Tiongkok pada 2002-2003. Ketujuh orang itu mengaku baru berpergian ke pasar sea food di Wuhan.

Pesan itu pun bocor lalu Li dipanggil oleh rumah sakit untuk dimintai keterangan. Pada 3 Januari, dia dipanggil oleh kepolisian setempat karena diduga menyebarkan rumor melalui online dan mengganggu ketertiban sosial.

Beberapa hari setelah panggilan polisi, Li merawat seorang pasien yang awalnya didiagnosis mengalami glaukoma, namun kemudian mengalami demam. Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan dia positif terinfeksi virus.

Dia pun dinyatakan positif terinfeksi pada 1 Februari 2020 dan sejak itu kondisinya memburuk, meski masih beberapa kali mengunggah pesan di akun Weibo. Setelah 5 Februari, dia drop hingga 2 hari kemudian dinyatakan meninggal. zis, ine, ins