ITS Siap Jajaki Kerjasama dengan Kedutaan Besar Inggris

Wakil Duta Besar Inggris Rob Fenn untuk Indonesia saat menyampaikan tujuan dan kerjasama yang ditawarkan untuk ITS, Senin (17/2/2020).

SURABAYA (global-news.co.id) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus membuka diri untuk melebarkan jaringan kerjasamanya, baik skala nasional maupun internasional. Hal ini dibuktikan dengan diterimanya kunjungan delegasi Kedutaan Besar Inggris yang dipimpin oleh Wakil Duta Besar Rob Fenn di Gedung Rektorat ITS, Senin (17/2/2020), dalam rangka menjalin kerjasama di bidang pendidikan dan penelitian.

Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng menjelaskan, bahwa ITS sangat antusias untuk menjalin mitra dengan pihak Kedutaan Besar Inggris. “Kami mengharapkan diskusi ini menghasilkan inovasi baru untuk memajukan sumber daya manusia di Indonesia, khususnya Kota Surabaya,” jelas guru besar yang kerap disapa Ashari ini.

Sama halnya dengan Rektor ITS, Rob Fenn mengatakan, ITS akan menjadi mitra Kedutaan Besar Inggris di bidang pendidikan, terutama mengenai pendidikan mitigasi bencana dan perubahan iklim yang ekstrem. “Kami sangat serius dengan program ini dan ITS akan menjadi pusat dari program ini,” tegasnya.

Rob Fenn ini juga menambahkan, bahwa isu mengenai pendidikan mitigasi bencana akan dikaitkan dengan program utamanya yaitu bagaimana mengontrol dan mengawasi kota dengan menggunakan sistem kota masa depan. “Kami rencananya ingin menerapkan program ini di Kota Surabaya sebagai kota percontohan,” urainya.

Selaras dengan hal itu, Future Cities Manager Barikatul Hikmah memaparkan, program Global Future Cities dilaksanakan di 19 kota di seluruh dunia. Adapun di Indonesia terdapat dua kota, yaitu Kota Bandung untuk bidang transportasi dan Kota Surabaya untuk bidang perubahan iklim. “Kota Surabaya dipilih karena usaha mengatasi persoalan bencana mendekati sempurna, kecuali di mitigasi bencana gempa bumi,” imbuh perempuan yang akrab dipanggil Hikmah ini.

Hikmah juga menguraikan, program tersebut memiliki tahapan perencanaan, tahapan edukasi mengenai peringatan dini terutama bagi wanita dan disabilitas, hingga tahapan pengerjaan. “Rencananya program ini akan diluncurkan Maret mendatang,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor IV ITS Bidang Riset, Inovasi, Kerjasama, dan Kealumnian Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD menuturkan, ITS sebelumnya telah melakukan kerjasama dengan Surabaya mengenai kota masa depan. “Untuk di Surabaya, sistem ini dinamakan Smart City,” tuturnya.

Bambang juga menambahkan, salah satu bukti dari hasil kerjasama ITS dengan Pemerintah Kota Surabaya adalah terdapat program Smart Living, yaitu berupa sistem penerimaan siswa baru secara daring dan CCTV pemantauan lalu lintas. “Oleh karena itu, kami sangat tertarik untuk menjalin kerja sama agar sistem Smart City di Kota Surabaya semakin baik,” ungkap dosen Teknik Mesin ini.

Sama halnya dengan Wakil Rektor IV, Direktur Kemitraan Global ITS Dr Maria Anityasari ST ME menerangkan, Direktorat Kemitraan Global atau International Office ITS juga telah membahas pendidikan mitigasi bencana dan perubahan iklim melalui forum diskusi dan lokakarya mahasiswa secara berkelanjutan. “Rencananya, April mendatang diadakan lokakarya yang begitu masif dengan mahasiswa mengenai isu ini,” terang Maria.

Dengan penjelasan-penjelasan yang telah disampaikan, Rob Fenn memiliki harapan supaya ITS dapat menjalin kerjasama dengan Kedutaan Besar Inggris untuk mencegah terjadinya perubahan iklim dan mendidik masyarakat mengenai mitigasi bencana. “Kami berharap isu perubahan iklim ini dapat menemukan solusi dan dapat dibahas dalam Konferensi Perubahan Iklim PPB ke-26 di Inggris,” pungkas Rob Fenn. tri, hms