Ekonomi Jatim Terpukul Virus Corona, Momen Bangun Industri Hulu Sendiri

Seiring mewabahnya virus corona di Tiongkok, Kadin Jatim memprediksi banyak industri yang terganggu karena ketergantungan bahan baku dari Tiongkok sangat besar di antaranya mulai bijih plastik, mesin hingga baja. 

SURABAYA (global-news.co.id) – Indonesia resmi menghentikan sementara penerbangan dengan tujuan kota-kota di Tiongkok. Kebijakan yang mulai diterapkan Rabu (5/2/2020)  itu menyusul kebijakan menghentikan impor sejumlah produk asal Tiongkok menyusul semakin gawatnya penyebaran virus corona yang berasal dari Wuhan, ibukota Provinsi Hubei Tiongkok.

Kebijakan ini sempat diprotes oleh negeri Tirai Bambu itu sebab bisa berimbas pada perekonomian negara tersebut. Khususnya menyangkut perdagangan dua negara. Namun,  Pemerintah Indonesia bergeming demi kepentingan nasional.

Tapi, bukan hanya perekonomian Tiongkok yang terhempas “badai” virus corona. Semakin ganasnya wabah virus corona di Tiongkok menyebabkan mandeknya perdagangan Indonesia dengan negara tersebut. Hal ini tentunya akan memberikan dampak cukup besar bagi Indonesia, termasuk Provinsi Jawa Timur.

Bahkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim memprediksi ekonomi Jawa Timur sepanjang triwulan I/2020 bakal terkendala atau bahkan turun sekitar 0,25 persen. “Saya pastikan akan ada banyak industri yang terganggu karena ketergantungan bahan baku dari Tiongkok sangat besar. Selain industri pariwisata, industri lain yang terdampak di antaranya adalah industri manufaktur, industri pengolahan dan juga ekspor karena ekspor kita ke Tiongkok juga sangat besar dan untuk mencari pasar baru itu butuh waktu. Dampak selanjutnya, Produk Domestik Regional Bruto kita juga akan ikut terganggu,” kata Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Promosi Luar Negeri Kadin Jatim Tommy Kaihatu di Graha Kadin Jatim Surabaya, Rabu (5/2/2020).

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa selama ini, sebagian besar bahan baku industri dalam negeri memang sangat tergantung dengan luar negeri. “Sekitar 70 persen bahan baku kita dari berbagai negara. Dan Tiongkok sangat mendominasi, sekitar 50 persen lebih impor bahan baku kita berasal dari Tiongkok seperti bijih plastik, baja dan mesin,” terangnya.

Sementara saat ini, seluruh Tiongkok berhenti dan tidak ada aktivitas sama sekali akibat mengganasnya wabah virus Corona di negara tersebut. Kadin Jatim telah melakukan konfirmasi atas kondisi di sana dan dinyatakan bahwa selain Provinsi Wuhan, ada tiga provinsi lain lagi yang telah ditutup, yaitu Provinsi Hainan, Provinsi Jiangsu dan Provinsi Guangzhou. “Jadi sebenarnya menghentikan impor untuk sementara waktu ataupun tidak menghentikan itu sama saja, karena tidak dihentikan pun impor tidak bisa dilakukan karena di sana tidak ada yang bekerja. Diliburkan hingga Senin mendatang dan ada kemungkinan besar diperpanjang lagi ketika kondisi masih belum terkendali,” katanya.

Di sisi lain, Tommy juga mengatakan bahwa untuk melakukan substitusi bahan baku dari Tiongkok ke bahan baku dalam negeri tidak serta merta bisa dilakukan. Karena Indonesia tidak banyak memiliki industri hulu yang bisa diandalkan. Misalnya bijih plastik, sangat sulit untuk menemukan di Indonesia. Kalaupun ada, harganya jauh di atas harga bahan baku dari Tiongkok.

“Tiongkok memiliki tiga hal yang menjadikan mereka sebagai market leader. Pertama konsistensi kualitas, konsistensi harga dan konsistensi kuantitas. Ketiga hal inilah yang kemudian menjadikan Tiongkok sebagai raksasa besar di dunia. Sementara industri dalam negeri sangat sulit untuk memenuhi tiga kriteria tersebut,” tegasnya.

Data Badan Pusat Statistik Jatim menunjukkan, impor non migas Jatim dari Tiongkok pada 2019 mencapai  5,872 miliar dolar AS atau sekitar 337,43 persen dari total impor Jatim sepanjang 2019 yang mencapai 18,930 miliar dolar AS. Sementara ekspor non migas Jatim ke Tiongkok sepanjang 2019 mencapai 2,299 miliar dolar AS atau sekitar 16,19 persen dari total ekspor non migas Jatim di 2019 yang mencapai 19,369 miliar dolar AS.

Lebih jauh Tommy mengatakan bahwa pengalaman saat ini sebenarnya harus menjadi semangat bagi bangsa Indonesia untuk secepatnya membangun industri hulu. Karena sejak era Soeharto, industri hulu di Indonesia tidak banyak yang melirik. Selain karena investasi sangat besar, market juga lebih sulit dibanding menjual bahan mentah.

“Padahal kita memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sudah saatnya kita bangkitkan industri hulu untuk menghilangkan ketergantungan Indonesia yang sangat besar pada luar negeri,” pungkasnya.

Pemerintah menghentikan sementara impor produk Tiongkok  seiring merebaknya wabah corona. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan seiring kebijakan ini, pemerintah akan melakukan subtitusi impor. “Jadi, komponen bahan baku untuk industri manufaktur yang ada di Indonesia masih harus diimpor dari Tiongkok sebesar 30 persen. Ini masih kita siapkan untuk subtitusi impornya,” kata Menperin di Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Agus mengatakan Indonesia tidak dapat berasumsi terkait keberlangsungan industri-industri di Tiongkok yang kemungkinan akan menurunkan kapasitas produksinya atau bahkan berhenti beroperasi karena wabah virus corona.

Untuk itu industri di Indonesia perlu mencari jalan keluar. Salah satunya dengan mencari sumber bahan baku dari negara lain atau memproduksi bahan baku tersebut di dalam negeri.

“Tentu ini merupakan potensi bagi Indonesia, khususnya bagi industri untuk menciptakan atau membangun industri-industri yang akan mengisi impor bahan baku dari mana saja termasuk Tiongkok, itu yang saat ini sedang kita dorong agar neraca perdagangan kita semakin sehat,” ujar Menperin.

Dalam hal ini Menperin tengah berbicara dengan beberapa asosiasi industri untuk mengajak mereka menanamkan modalnya agar dapat memproduksi bahan baku di dalam negeri. “Tapi untuk jangka menengah dan panjang, merupakan sebuah opportunity untuk Indonesia, sebut saja new player bagi mereka-mereka yang ingin berinvestasi di Indonesia di dalam produk-produk yang akan menjadi substitusi impor, tapi itu long term,” ujar Menperin.

Selain mempengaruhi impor bahan baku, Menperin menyampaikan bahwa ekspor produk industri ke Tiongkok juga akan terpengaruh, karena kemungkinan besar permintaan produk dari Tiongkok akan menurun. “Kami asumsikan bahwa permintaannya akan turun akibat virus corona, kemampuan daya beli Tiongkok akan berkurang. Nah itu kita harus secara agresif mencari pasar-pasar non-konvensional, misalnya di Afrika, Amerika Latin, yang sebetulnya masih terbuka,” ungkap Menperin.

Protes Tiongkok

Kebijakan ini sempat diprotes oleh Tiongkok. Namun Presiden Joko Widodo menyatakan, sudah sewajarnya pemerintah menomorsatukan kepentingan nasional dengan membatasi komoditas impor dari Tiongkok berupa hewan hidup dan menutup penerbangan dari dan ke Tiongkok.

Dua kebijakan tersebut diambil untuk mencegah masuknya virus corona ke Indonesia. “Ya apa pun, saya sampaikan bahwa kepentingan nasional kita tetap nomor satu. Dinomorsatukan,” ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Hal senada disampaikan Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman. Ia mengatakan, setelah rapat terbatas di Istana Bogor, Selasa (4/2/2020) kemarin, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pembatasan impor hanya berlaku bagi hewan hidup.   Karena itu, Indonesia tetap mengimpor barang lain seperti biasa dari Tiongkok. Ia pun meyakini pembatasan impor hewan hidup dari Tiongkok juga dilakukan negara lain untuk mencegah masuknya virus corona ke negara masing-masing. “Karena tindakan Pemerintah Indonesia, juga dilakukan oleh pemerintah lain di dunia. Hingga nanti saatnya akan dicabut oleh WHO, berupa pelarangan yang terkait merebaknya virus corona tersebut,” kata dia. gas, det, kcm, okz