Cinta Pertama Gadis Madura

MADURA???…Kita pasti teringat karapan sapi dengan baju strip-stripnya yang khas, pesona pariwisata hingga carok. Dan tak ketinggal wanita Madura yang konon bagaikan mengaduk kopi (cangkirnya yang bergoyang, tapi sendoknya tegak berdiri), angak hooo.

Ya, meskipun tak banyak dibahas, namun wanita Madura itu sejatinya luar biasa. Sama seperti daerah-daerah lain yang wanitanya punya ciri khas. Wanita Pulau Garam pun juga demikian. Entah itu fisik atau pun sifat-sifatnya yang khas.

Dengan semua yang mereka miliki, maka tak heran kalau wanita-wanita Madura itu banyak diincar. Kalau tak percaya, coba ke sana. Kamu bakal banyak mendapati para gadis muda yang sudah menikah. Lalu, apa saja sih yang bikin wanita Madura itu luar biasa?

Yang jelas wanita Madura itu hidupnya sederhana, hitam manis (celleng sedhek, Madura. red), inner beauty, perkasa dan pekerja keras, religious, merawat diri dengan herbal (jamu Madura) dan tak selalu mengantungkan hidup pada suami.

“Benar sekali uraianmu itu,” kata Mat Tadji menjawab pertanyaan sahabatnya, Hastomo Budi (nama samara) ketika bertanya bertanya tentang Madura.

“Gadis Madura memang angak hooo,” kata Hastomo Budi.

“Kamu tahu apa arti angak hooo? Kalau terjemahan sakleknya angak itu artinya hangat. Kalau hooo itu hanya sebutan saja,” kata Mat Tadji, ketika santai bersama Tomo, panggilan akrapnya itu.

“Ancen anget wong Meduro Mat,” sahut Tomo.

“Kok Tahu?,”

“Aku pernah merasakan,” kata Tomo terkekeh-kekeh.

Lalu Tomo yang masih tampan meski usianya sudah 59 tahun itu bercerita masa lalunya yang terlibat percintaan yang begitu dalam dengan gadis Madura.

Sekitar tahun 1985, Tomo yang kala itu duduk di sekolah STM kelas 2 mempunyai tetangga yang bernama Zaenab (nama samaran) yang kala itu siswi SMP swasta kelas 2 di kawasan Kureksari, Waru Sidoarjo.

Singkat cerita, keduanya menjalin cinta. Meski masih duduk di bangku SMP, tetapi Zaenab kelihatan dewasa, karena tubuhnya tinggi.

“Tidak hanya tinggi, tetapi bodinya memang angak hoo. Kulitnya coklat. Sorot mata tajam. Yang bikin saya tergiur, bokongnya yang metungtung. Sungguh menggairahkan,” kata Tomo sambil tangan kanannya menyikut tangan kiri Mat Tadji.

Bagi Zaenab, Tomo sebagai cinta pertamanya. Juga demikian dengan Tomo. Sebelumnya Tomo sering menggoda Zaenab. Karena seringnya digoda dan sering bertemu, akhirnya Zaenab yang numpang di rumah pamannya (asal Bangkalan) sejak usia SMP itu, akhirnya menyerah menerima cinta Tomo yang waktu itu menjadi incaran cewek-cewek di kampungnya.

“Saya kesemsem dengan Zaenab, karena wanita itu sungguh menggairahkan,” kata Tomo yang waktu itu ingin selalu dekat dengan Zaenab.

Gairah Tomo yang memasuki masa puber ternyata membawa “celaka”. Setelah sekitar 3,5 bulan berpacaran. Tomo berhasil merengut kegadisan Zaenab dengan penuh kebahagiaan, karena Zaenab juga rela melepas kesuciannya itu kepada pemuda Tomo yang sangat dicintainya.

Percintaan yang didasari oleh ketulusan itu berlangsung hingga Zaenab duduk di bangku kelas 3 SLTA. Dan perbuatan itu beberapa kali dilakukan oleh keduanya, saat paman dan bibi Zaenab pergi ke pasar.

“Berkali-kali begitu tak hamil ta,” Tanya Mat Tadji heran.

“Nggak tuh,” jawab Tomo cengengesan.
Waktu pun terus berjalan. Zaenab saat kelas 3 di bangku SLTA meminta pada Tomo untuk dilamar, karena familinya di Bangkalan sudah berancang-ancang untuk meminangnya sekaligus menikahinya. Hanya saja,Tomo yang masih nganggur mengolor-ngolor waktu saja.

“Bagaimana saya melamar wanita pujaanku, pekerjaan saja waktu itu belum dapat. Yang memberatkan saya waktu itu, kakak perempuannya belum kawin. Saya sih pingin menikahinya, karena saya sungguh mencitainya. Rasanya tak ada wanita selain Zaenab,” kata Tomo yang pensiunan karyawan swasta itu.

Pada suatu ketika, Zaenab dipanggil orang tuanya dari Bangkalan. Setelah tiba di Pulau Garam itu, Zaenab yang mempunyai hidung mancung itu langsung diminta oleh orang tuanya untuk menerima sepupunya sebagai tunangannya. Hati Zaenab sudah barang tentu hancur, karena harus berpisah dengan pria pujaannya, Tomo yang saat itu ogah untuk melangkah.

Singkat kata, Zaenab harus menerima keinginan orang tuanya, meski hatinya hancur, karena menikah tanpa dasar cinta. Tiga bulan kemudian, Zaenab dinikahkan oleh orang tuanya.

Sementara Tomo hanya bisa menangis menerima kabar itu. Hatinya hancur lebur.

“Andai aku sudah bekerja, kau pasti milikku,” katanya kala itu.

Tepat pada hari H pernikahan Zaenab, Tomo benar-benar linglung. Dia memacu motornya tanpa arah.

“Saya tak berani pergi ke pernikahan Zaenab. Saya takut. Takut dihabisi orang Madura,” kata Tomo pelan.

Cinta pertama Tomo dan Zaenab sirna begitu saja? Ternyata tidak, cinta itu terus menggelora pada insan yang berlainan jenis itu meski Zaenab sudah bersuami. Tomo tak bisa melupakan Zaenab, juga demikian Zaenab tak bisa melupakan Tomo. Anchorrr pessenah tellor.

Kata orang cinta pertama tak bisa dilupakan. Ternyata hal itu berlaku pada Tomo dan Zaenab. Meski mereka mempunyai pasangan masing-masing, keduanya masih berkesempatan untuk mencuri waktu untuk berkencan di saat keduanya “lowong”.

“Kalau Zaenab marahan dengan suaminya misalnya, tak jarang menelponku untuk ketemuan di Terminal Bungurasih. Selanjutnya? Tebak saja,” kata Tomo tertawa lebar.

Kapan perbuatan terlarang itu akan berakhir? “Saya juga tak tahu. Saya terkadang memikirkan dosa. Apalagi usia saya sudah menua, tapi cinta itu tak pernah pudar sedikit pun. Saya sekarang sudah duda, sementara Zaenab masih bersama suaminya. Andai suaminya sudah meninggal, sangat mungkin saya menyatu dengan Zaenab,” pungkas Tomo dengan suara sedikit parau.(*)