‘Bo Derek’ dan Bul

BO DEREK. Dia aktris Amerika Serikat (AS) yang paling seksi dan dipuja-puja pada dekade 1980-an. Tak khayal bila ada yang menyebutnya wujud “Bidadari Kahyangan”. Film 10 (1979) adalah film sensasional yang mengangkat namanya dan menjadikan Bo Derek sebagai aktris paling seksi di masa itu. Poster legendaris dirinya mengenakan pakaian renang basah dan dirinya memandang dengan tatapan memelas, menjadi poster yang paling populer dan banyak tertempel di dinding kamar remaja di masa itu.

Bo Derek, ikon bintang seksi tahun 80-an itu tampil panas di edisi Maret 1980 (Majalah Playboy). Kala itu film rated R-nya, 10 sedang digemari di seluruh dunia. Saking panasnya, Bo Derek, selanjutnya tampil empat kali lagi untuk edisi Augustus 1980, September 1981, Juli 1984 and Desember 1994.

Dan, nama Bo Derek muncul tiba-tiba di Grup WA BAS SMPP 82. Itu bermula saat Mat Tadji bertemu sohib kentalnya, Yusak dan Zulkani di Warung Sate Ampel, Jl. Walikota Mustadjab, milik mantan fotografer terkenal Jawa Pos, H. Fatoni. Pertama nama Bo Derek dilontarkan oleh Gagah (nama samaran), yang mengingatkan pada teman SMPP IPA I angkatan 1982, almarhum Amak.

“Mogeh-mogeh, eperengannah terak koburreh almarhum Amak. Aamiin (Semogga diberi kelapangan kubur, almarhum Amak. Aamiin, Madura. Red),” kata MaT Tadji dalam hati.

Sahut-sahutan di grup WA tersebut terus berlanjut, dengan Zulkani menjadi “bintang” grup tersebut mengiringi mereka menyantap nasi kebuli 4 piring, sate kambing muda 15 tusuk ditambah satu porsi gule kambing. Sambil bersantap, Zulkani terus memainkan tut hp-nya. Sementara, Mat Tadji sekali-sekali membuka grup tersebut kadang diiringi senyum kecil. Lucu mengenang masa lalu. Masa indah di SMA.

Hampir setengah jam mereka menyantap hidangan yang katanya penuh kolesterol, tapi mengasikkan. Mereka pada kekenyangan dengan penuh kenikmatan. Setelah berbincang sejenak, tiga sekawan tersebut memutuskan untuk ngeluyur endek-endek-an.

Yusak yang mengambil kemudi memacu mobil tak terlalu kencang di tengah hujan rintik-rintik, Selasa (25/2/2020) malam dengan tujuan mengantar Zulkani ke hotel. Zulkani sendiri berada di Surabaya dalam rangka tugas kantornya.

Setelah mengantarkan Zulkani ke hotel di kawasan Bambu Runcing, Surabaya, tinggallah Mat Tadji dan Yusak di mobil tersebut. Seketika, Mat Tadji pura-pura bertanya kepaka Yusak, “Anak-anak kok menyinggung Bo Derek. Siapa dia”.

“Teman cewek angkata kita yang kala itu aduhai…. Bener aduhai. Si Didin yang mendapat julukan Bo Derek. Dia oleh beberapa teman kan di panggil Bo Derek. Bintang film aduhai yang kala itu diputar Bioskop Djaja, Pamekasan (sekarang sudah tinggal bekasnya),” kata Yusak.

“Lambek sapah se tak agelunyuk eber mon mandheng Didin ajalen. Atoklettok bengkongngah. Kolek’en pote. Bibirreh tepes (Dulu siapa yang tak menelan ludah kalau melihat Didin berjalan. Bergoyang pinggangnya. Kulitnya putih. Bibirnya tipis, Madura, Red). Dia merupakan salah satu bunga di sekolah kita,” kata Yusak.

“Kalau menurut kamu siapa diantara teman kita yang paling kesemsem ke Bo,” kata Mat Tdji.

“Setidaknya ada tiga makhluk yang keliatannya ‘matanya tak berkedip’ bila ada di dekat Bo,” kata Yusak.

“Tahu aku. Dia adalah Si Unyil Trisnadi, Zulkani dan Joni. Ketiga orang ini, ada saja yang dibicarakan saat bersama-sama kita berkumpul. Ada saja yang dilawakkan oleh Zulkani di hadapan Bo. Sementara Trisnadi dengan senjata Honda Ulung warna biru daun, menjadi alat untuk berdekatan dengan Didin,” kata Mat Tadji terbahak-bahak.

“Benner Mat (Betul Mat, Madura, Red),” timpal Yusak.

Lalu Mat Tadji mengingat-ngingat masa SMA (SMPP) dulu. Khusus pada “Bo Derek”, dia masih mengingat potret remaja “Bo Derek” produk SMPP itu.

Rambutnya lurus. Kulitnya putih. Kalau berjalan seperti gronjalan di belakangnya (maaf). Dia pemurah. Dia juga supel. Hanya saja, hingga akhir kita tamat, pacar resmi “Bo Derek” tak terungkap secara nyata.

Bukan “tak laku”. Mungkin saja, semua cowok takut, karena si “Bo Derek” anaknya petinggi PLN di kota itu. Mungkin saja, para cowok minder juga. Hanya saja yang paling nggelibet si Trisnadi.

“Itu Trisnadi dulu banyak untungnya. Dengan modal Honda Ulungnya (dulu kan masih jarang yang punya motor), kemana-mana selalu bersama Didin. Angak Hooo,” kata Yusak.

“Kalau ada gronjalan di jalan, ya itu ‘untungnya’ Trisnadi, si unyil cerdas itu,” kata Mat Tadji.

Sampai kita lulus dari SMPP, Trisnadi menurut kacamata Mat Tadji, ada goresan cinta di hatinya untuk Didin. Lalu bagaimana dengan Didin sendiri?

Ahhh… itu Didin yang tahu.

Bagaimana dengan Zulkani? Dari “bergairahnya” kalau Zulkani berbicang-bincang dengan Didin itu terlihat kalau ada strum dihati Zulkani, meskipun pes-tepes. Yang jelas, Didin akrap dengan siapa pun, sehingga sulit menebaknya kemana arah cinta si Didin.

Juga bagaimana dengan si jangkung Joni? Pria ganteng dengan seribu kata itu, dengan tatap mukanya bisa ditebak ingin menebar cinta ke Didin. Bisa jadi, dia hanya curi-curi pandang saja beraninya. Tak berani mengutarakan. Malu. Takut ditolak kali. Kalau kita jujur, Didin waktu itu, merupakan salah bintang yang ada diantara bintang lainnya, seperti Farida, Yuke, Ninik, Lelyana, Kamsiatun, Lizanari, dan masih banyak lagi bintang-bintang itu.

Masa SMA yang penuh bahagia. Masa SMA tak akan kembali lagi. Tak ada lagi “Galih dan Ratna” yang menghipnotis para siswa SMA waktu itu bersepeda.

Bagaimana keadaan mereka saat ini?

“Aduhhh…Mat, sateyah “Bo” padheh so bul (tong besar). Gemuk. Rupanya dia tak bisa menjaga tubuhnya. Tak ada pantangan makan. Semua disikat,” kata Yusak sambil ngakak.

“Iya, tapi meski pun, sekarang gemuk. Gurat kecantikannya kan masih ada. Ya setidaknya, bibir tipisnya tak ikut mengembang,” kata Mat Tadji terbahak-bahak.

“Ella ambu. Yak la depak ka kantorrah sedheh (Sudah berhenti. Ini sudah sampai ke kantormu, Madura. Red). Lanjutkan lagi besok-besok saja,” kata Yusak. (*)