Badrut Tamam : Bangun Madura dengan Kerja Keras dan Optimisme

PAMEKASAN (global-news.co.id) – Bupati Badrut Tamam menegaskan untuk membangun Madura menjadi kawasan yang membanggakan tidak bisa dilakukan secara instan, akan tetapi perlu proses yang panjang, perlu sudut pandang yang luar biasa, dan perlu sikap yang sama oleh para pemangku kebijakan di Madura.

Badrut Tamam mengungkapkan hal itu pada saat memberi sambutan dalam pembukaan Talk Show Nasional tentang : “Siapa Nikmati Kekayaan Alam Madura dan Prospek Propinsi Madura,” yang digelar Aliansi BEM Arek Lancor Pamekasan, di Mandhepa Rongosukowati Pamekasan, Rabu (5/2/2020).

Talk Show ini menghadirkan para pembicara Bupati dan Ketua DPRD se Madura dan yang mewakilinya. Aliansi BEM Arek Lancor adalah aliansi pengurus BEM seluruh perguruan tinggi yang ada di Pamekasan. Ada sekitar 15 perguruan tinggi negeri dan swasta yang bernaung dalam Aliansi Arek Lancor ini.

“Untuk membangun itu semua tidak bisa instan untuk menciptakan atmosfir kinerja yang baik. Untuk membawa Madura yang di Jawa Timur ada 7 juta orang, juga tidak bisa instan, perlu proses panjang perlu sudut pandang yang luar biasa perlu sikap yang sama perlu jung rojung lombung membangun Madura menjadi luar biasa,” tandasnya.

Badrut Tamam yang beberapa bulan lalu terlibat langsung dalam perembukan program Pengembangan Ekonomi Kawasan (PEK) Madura dengan Kemenko Ekuin mengaku memiliki beberapa data penting tentang rancangan strategtis Madura ke depan. Ke depan, kata dia, Madura dipisah menjadi dua kawasan. Yang pertama Bangkalan menjadi bagian dari kawasan Gerbangkertasusila, baru kemudian Sampang Pamekasan dan Sumenep menjadi Madura sesuai dengan Keppres tahun 2019.

Pertanyaannya kemudian, kata Badrut Tamam, dimana posisi pemuda dan mahasiswa dalam konstelasi pembangunan di Madura masa depan ?Karena itu, lanjutnya, untuk menjawab tema Talk Show yang digagas Aliansi BEM Arek Lancor, yakni Siapa Nikmati Sumberdaya Alam Madura, Badrut Tamam menegaskan bahwa sumberdaya alam tidak lain adalah untuk masyarakat Madura sendiri.

“Pertanyaan dari adik adik sekalian yang kalian sampaikan untuk siapa sumber daya kita? Kalau kemudian tidak untuk kita, terus untuk siapa lagi ? Kalau tidak untuk warga Madura atau warga NKRI lalu untuk siapa? Saya sebagai bupati di kabupaten ini berkeyakinan bahwa sumber daya alam kita adalah milik kita,” tandasnya.

Lalu jauh dia memberi contoh kebijakan di Pamekasan. Di kabupaten yang dipimpinnya ini, katanya, ada lima prioritas yang akan dilakukan. Pertama di bidang entrepreneur dengan membangun pertumbuhan di desa desa dan merancang wirausaha baru 2500 orang. Mereka akan dilatih, baru kemudian bekerjasama dangan para pihak membantu alat baru kemudian akan memberikan kemudahan permodalan.

“Di Singapura dengan penduduk yang kecil, pengusahanya atau entrepreneur mudanya hampir 42 persen. Sementara di kita dari 3 juta penduduk Madura, sedikit sekali yang terlibat aktif dalam kegiatan entrepreneur. Semua daya dan upaya yang ada akan kita lakukan di pemerintahan ini agar seluruh potensi sumber daya diseluruh kabupaten ini semuanya untuk kepentingan masyarakat mendorong pertumbuhan yang berkeadilan,” terangnya.

“Intinya diantara kita yang perlu dilakukan adalah membangun optimisme, tidak antipati, untuk kemudian jung rojung membangun perubahan. Optimisme yang luar biasa itulah kemudian yang akan mengubah kita, dan disitulah yang disebut mahasiswa sebagai agent of change atau agen perubahan, karena bisa menciptakan perubahan diri sendiri,” imbuhnya. (mas)