Akhirnya Si Playboy Bertobat

ANGGOTA masyarakat yang melakukan olah raga jalan pagi di kompleks perumahan Mat Tadji, tepatnya di Taman Wisper se-makin bertambah. Tidak hanya tua, usia produktif semakin bertambah.

Sadarkah mereka pada kesehatan? Bisa saja begitu. Tetapi ada juga yang terpaksa berolah raga, karena sakit. Seperti halnya Agus Hermanto, seorang security sebuah instansi di kawasan Juanda, Sidoarjo, Jatim. Hanya saja, pria 43 tahun yang tinggi semampai itu terseret-seret kaki kanannya saat berjalan mengitari Taman Wisper.

Melihat ada orang “asing” berolah raga dengan kaki kanan terseret-seret, Mat Tadji menghampirinya.

“Assalamualaikum. Baru pertama kali ya olah raga pagi di sini,” kata Mat Tadji menghampiri Agus Hermanto yang berjalan terseok-seok.

“Arapah areyah. Paleng sakek stroke (Mengapa orang ini. Paling sakit stroke, Madura, Red.),” kata Mat Tadji dalam hati.

“Beberapa bulan lalu terserang stroke pak. Kemaren, tiga bulan tak bisa jalan. Ini saya mulai berlatih berjalan, mudah-mudahan ada perbaikan. Sebelumnya saya belajar jalan di depan rumah, tetapi kurang memungkinkan tempatnya, karena itu saya pindah jalan pagi Taman Wisper,” kata Agus.

Sementara Mat Tadji, pamit “meninggalkan” Agus dengan mengambil langkah yang lebih cepat agar berkeringat.

Seperti biasa, Mat Tadji dalam keadaan apapun tetap melakukan jalan pagi. Keesokan hari, Mat Tadji bertemu lagi dengan Agus Hermanto.

“Ayo semangat mas. Insya Allah kalau sampeyan istiqomah akan sembuh nantinya,” kata Mat Tadji sambil mendapat anggukan dari Agus yang mengaku berusia 43 tahun.

Lalu Mat Tadji bertanya, “Mengapa sampai terserang stroke, padahal usianya masih muda”.

“Ini dosa saya pak,” kata Agus.

“Dosa bagaimana mas,” Tanya Mat Tadji sambil menemani berjalan.

Ternyata sebelum sakit, sekitar 1,5 tahun sebelum terkena stroke, Agus benar-benar “berpesta pora” dengan sejumlah perempuan. Maklum Agus yang atletis nan ganteng, sudah pasti digandrungi kaum hawa.

Menurut penuturan Agus, dua tahun lalu dia sudah terbiasa “menghadapi” wanita-wanita penuh kehausan.

“Bagaimana tidak. dari 9 “pacar” saya, hanya satu yang mempunyai suami. Delapan sisanya para janda muda yang aduhai semua. Mereka itu dari karyawan toko, pengusaha UKM hingga pegawai negeri. Ngeri-ngeri sedap pak waktu itu,” kata Agus.

“Angak Hooo,” kata Mat Tadji disambut Agus dengan tersenyum.

Agus yang berwajah maco, hampir setiap hari berkencan dengan wanita di luar istrinya. Kalau jam kerja, dia berkencan sebelum berangkat kerja atau sepulang kerja. Kalau hari libur bisa seharian dengan “pacarnya” di hotel.

Ke sembilan “pacarnya” satu sama lain tidak pernah tahu satu sama lainnya. Karena agus berkencan hanya di hotel di kawasan Bungurasih. Dan anehnya soal hotel dia tak perlu repot mengeluarkan rupiah. Semua ditanggung para “pacarnya”.

Agus hanya menyiapkan kebugaran tubuhnya dengan jamu 2 telur ayam kampung dengan madu setiap harinya.
“Pacar” yang paling “giras” siapa?”.

Agus menyebut Yuni. Janda muda 34 tahun yang bahenol asal Krian. “Pernah saya ngamar dengan Yuni dari pukul 09.00 sampai 15.00. Sepanjang waktu itu, kami berdua benar-benar bertempur seharian.

“Waktu itu saya ‘naik’ 4 kali. Lunglai benar kalau saya menghadapi Yuni yang bertubuh sintal itu. Kalau yang lain paling banter 2 kali pak, ini Yuni benar-benar kehausan dan agak beringas kalau di atas ranjang ,” kata Agus berterus terang.

“Hah….., 4 kali dalam sehari? Angak Hooo,” kata Mat Tadji.

Sebelumnya, Agus sudah sekitar 1,5 tahun mengumbar seks-nya dengan para “pacarnya”. Dia lupa kesehatan¬nya. Dia lupa sholatnya. Dia lupa semuanya.

”Agustus 2019 lalu saat saya jaga malam, sekitar pukul 20.00, saya jatuh dengan sendirinya. Badan saya tak bisa digerakkan. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter memvonis saya stroke. Cukup lama di rumah sakit, untungnya perusahaan yang nanggung. Setelah 20 hari di rumah sakit, saya boleh keluar. Di rumah tak bisa apa-apa kecuali berbaring. Setelah 3 bulan di rumah, saya mulai bisa berdiri dan jalan beberapa langkah,” kata Agus serius.

Akhirnya lama kelamaan, Agus bisa keluar rumah hingga ke Taman Wisper. Jalan pagi sambil senam kecil. Kini dia bisa bertahan hingga 1,5 jam di Taman Wisper.

“Sampeyan sekarang sudah banyak kemajuan. Lereno ojok dadi Playboy kelas tengik. Nanti sembuh, kumat lagi sampeyan,” kata Mat Tadji.

“Insya Allah tidak pak. Ini hukuman kepada saya. Tidak hanya sakit, saya juga diminta mengudurkan diri dari pekerjaan. Saya sudah tiga bulan tak bekerja. Saya tobat. Subuh saya ke masjid. Sholat sekarang tak pernah saya tinggalkan. Saya ingin hidup yang benar,” kata Agus dengan suara pelan.

Seketika Mat Tadji menggenggam tangan Agus, sambil berkata, “Awas itu janji sampeyan lo yo!” (*)