Tim Dokter Beri Perawatan Intensif pada Meilani Alfira

Bupati Fadeli didampingi Wabup Kartika saat mengunjungi Meilani Alfira di RSUD dr Soegiri.

Penanganan balita penderita gizi buruk menjadi perioritas utama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan. Keseriusan ini diperlihatkan dengan pelayanan terhadap seorang balita gizi buruk yang kini ditangani RSUD dr Soegiri.

 

Meilani Alfira Damayanti (2,8 tahun), penderita gizi buruk dari Desa Latukan, Karanggeneng sudah menerima perawatan intensif dari RSUD dr Soegiri Lamongan. Bupati Lamongan Fadeli pun meminta semua biaya selama perawatannya digratiskan.

Hal itu disampaikan bupati seusai menjenguk Meilani di RSUD dr Soegiri bersama Kapolres AKBP Harun dan Dandim 0812 Letkol Inf Sidik Wiyono, Selasa (14/1/2020). Mereka memberikan bingkisan berisi berbagai buah dan susu, serta mainan untukmu Meilani.

Meski pengobatannya sudah dicover BPJS, Fadeli meminta semua jenis perawatan untuk Meilani digratiskan dan diberikan perhatian khusus. Tim dokter juga agar bekerja maksimal, sehingga proses pemulihannya lebih cepat.

“Bukan berarti sudah tidak bayar biaya rumah sakit, terus pengobatannya biasa-biasa saja. Ini saya tidak mau, harus diprioritaskan,” katanya.

Fadeli berharap orang tua pasien sabar dalam menghadapi ujian ini. “Saya yakin dokter juga sudah bekerja maksimal setiap saat dipantau perkembangan berikutnya dan ternyata juga tambah baik secepatnya,” ungkapnya.

Fadeli mengaku prihatin karena belum semua orang tua memahami persoalan gizi buruk. “Saya prihatin, karena agak terlambat membawanya ke rumah sakit. Untuk itu, tim dokter harus memprioritaskan penanganannya,” ujar Fadeli didampingi Direktur RSUD dr Soegiri Lamongan, dr Chaidir Annas dan Forkopimda.

Dengan adanya peristiwa gizi buruk ini, bupati mengintruksikan kepada jajaran agar terus berupaya mendata jumlah anak penderita gizi buruk. Sehingga penderita bisa cepat ditangani. “Kalau anak Alfira ini sudah terlambat ditangani. Makanya saya perintahkan pak camat, bapak kepala dinas kesehatan dan puskesmas agar terus berkeliling mencari anak-anak yang menderita kekurangan gizi biar diobati dan jangan sampai hal ini terulang kembali,” ungkapnya.

Sementara dr Aty Firsiyanti yang menangani Meilani secara langsung mengungkapkan, pihaknya telah melakukan penanganan secara komperhensif, yakni dengan menangani gizinya, mencari penyebabnya, hingga tindak lanjut pada penanganan agar kondisi balita segera pulih. “Kondisi terkini, keadaan Meilani sudah lebih baik dari pada awal pertama kali di bawa ke RSUD dr Soegiri. Seperti yang kita tahu bahwa gizi buruk memiliki tipe yang berbeda-beda, pada kasus ini Meilani menderita tipe Marasmus, merupakan gizi buruk karena kekurangan karbohidrat,” terangnya.

Sehingga tim dokter tetap memberikan nutrisi sedikit demi sedikit agar bisa diterima oleh lambungnya. Aty juga melihat adanya kemungkinan balita berusia 2,8 tahun ini memiliki alergi. Saat ini pihak dokter masih mencari penyebabnya. Sehingga untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya, Meilani diberikan susu berbahan soya.

Selain alergi, Meilani juga mengidap infeksi yang menyebabkan kondisinya tidak dapat mencerna makanan secara baik. Namun dokter telah memberikan antibiotik agar sistem pencernaan berangsur membaik.

Terpisah Kepala Dinas Kesehatan Lamongan dr Taufik Hidayat mengatakan, Dinas Kesehatan akan terus berkoordinasi dengan tim RSUD dr Soegiri untuk menjalankan diet yang bisa diterima oleh penderita. Karena ususnya tidak bisa menerima semua makanan.

Selain itu, seusai menjalani pengobatan juga akan ada pendampingan tim tenaga kesehatan kecamatan dan pemberian makanan tambahan yang sesuai rekomendasi. “Yang tak kalah penting kami juga akan mempersiapkan keluarga untuk pengasuhan yang benar ketika sudah di rumah,” katanya.

Dinkes Lamongan mencatat jumlah balita atau anak yang menderita gizi buruk berjumlah 230 anak atau 0,34 persen. Angka ini, jauh dibawa 1 persen dari provinsi Jatim. “Memang penderita gizi buruk jauh di bawah provinsi. Tapi saya minta ini terus diturunkan jangan sampai nambah. Kalau ada yang menderita saya minta keluarga agar melaporkan kejadian ini ke puskesmas sehingga ini bisa ditindaklanjuti oleh rumah sakit dan ditangani,” ungkapnya. trb, bej