Tertangkapnya Bupati Sidoarjo oleh KPK Tidak Serta Merta Mematikan Dinastinya

SURABAYA (global-news.co.id) –   Operasi Tangkap Tangan (OTT) Bupati Sidoarjo Saiful Illah (SI) oleh KPK, dinilai tak serta merta mematikan citra partai di daerah dan dinasti Saiful Ilah menjelang Pilkada Sidoarjo 23 September 2020.

Pengamat politik Surokhim

Pengamat politik Surokhim menilai jika penangkapan tersebut hanya mempengaruhi citra partai di tingkat nasional, imbasnya terjadi penurunan jumlah pemilih , diperkirakan di kisaran 9 persen. Namun untuk di daerah, penurunan bisa lebih kecil dari angka tersebut mengingat telah mengakarnya dinasti SI di Sidoarjo dan PKB, partai pengusung SI.

“Untuk itu PKB tetap harus hati hati dalam membaca kekuatan Saiful Illah (SI) pasca OTT KPK. Kekuatan dinasti abah SI yang berkuasa 9 tahun jadi bupati plus 10 tahun jadi wabup tentu sangat mengakar di Sidoarjo.  Baik secara kultural maupun struktural. Sebelum OTT satu-satunya variabel yang lemah dari suksesor dinasti SI adalah dorongan voters yang menginginkan perubahan di Sidoarjo karena faktor bosan dan kurang prestasi,”papar Surokhim yang juga dosen Universitas Trunojoyo Bangkalan yang dihubungi lewat telepon genggamnya, Rabu (8/1/2020).

Sekarang dorongan perubahan itu mendapat penguatan seiring  OTT KPK. Tentu akan menjadi momentum kuat jika bisa dimanfaatkan para penantang.

Sebaliknya,  persaingan akan berat selama  suksesor itu bisa melepas atribut SI. Urusan bisa jadi kepala daerah, itu masalah beda. “Bagaimanapun kekuatan pilkada itu paling dominan masih ada di figur. Maka penantang dinasti SI juga harus mentereng dan bisa menjanjikan perubahan.  Jika tidak mentereng dan menjanjikan, figur yang dimajukan untuk menantang dinasti SI pasti akan kalah. Bahkan, saya khawatir Pilkada Tulungagung akan terjadi di Sidoarjo karena kekuatan basis tradisional SI di wilayah rural area masih kuat dan patron tokoh masih amat mengakar,” tambahnya.

Sekadar mengingatkan dalam Pilkada Tulungagung 2018, tersangka KPK Syahri Mulyo memenangkan penghitungan suara secara mutlak di 17 kecamatan dari total 19 kecamatan. Kemenangan Syahri Mulyo saat itu cukup menjadi perhatian publik. Sebab, Syahri Mulyo ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap dan ditahan KPK beberapa pekan sebelum pencoblosan.

Meski begitu, seluruh tim pemenangan di bawah kendali PDIP dan Partai NasDem terus berupaya melakukan upaya pemenangan, hingga akhirnya kandidatnya mampu melampaui suara pasangan calon lain.

Berkaca dari kasus ini, Surokhim menilai  tertangkapnya abah SI oleh KPK tidak serta merta akan memuluskan langkah rival dalam Pilkada Sidoarjo nanti. Memang secara  kasat mata iya, tetapi kalau figur yang diajukan penantang secara kompetensi dan kapasitas masih kalah mentereng dengan jago SI bisa jadi kasus OTT ini hanya punya efek di pemilih urban saja.

“Jadi tidak mudah mengalahkan jago SI, jika penantang tidak cermat karena kekuatan basis tradisional yang masih kuat. Eksploitasi variabel perubahan dan OTT hanya akan kuat jika figure yang diajukan penantang juga kuat,”tutur pria asli Surabaya ini.

Tergantung, tambahnya apakah para penantang bisa memelihara momentum ini hingga 6 bulan ke depan dan apakah bisa mengelola dengan baik  surplus itu karena faktualnya variabel lain juga berpengaruh. “Semua masih tergantung pada calon yang direkom dan juga figur-figur penantang. PKB jelas akan mendapat minus efek dari OTT dan dorongan perubahan Sidoarjo. Tapi sekali lagi basis PKB kultural merata hampir di wilayah rural Sidoarjo.  Jadi masih dinamis. Selama ini OTT secara matematis hanya berpengaruh mengurangi 9% jika PKB tidak antisipatif,”tandasnya.

Dia mengingatkan  politik dinasti akan kian marak di pilkada 2020. Karena kian dekat dengan basis pemilih, maka semua cara bisa  jadi akan dikerahkan termasuk votebuying di wilayah pemilih emosional dan rural.

“Itu yang merumitkan pilkada langsung. Sekali lagi ini harus hati- hati dan tidak mudah mengalahkan dinasti SI jika lawan tidak cermat,” katanya. ani